Peneliti Unsoed Sosialisasi Budi Daya Kopi Berbasis Konservasi  di Dataran Tinggi Banjarnegara

Sebagian besar anggota koperasi telah menerapkan metode petik merah, yakni memanen buah kopi yang benar-benar matang.

Peneliti Unsoed Sosialisasi Budi Daya Kopi Berbasis Konservasi  di Dataran Tinggi Banjarnegara
Tim peneliti Fakultas Pertanian Unsoed sedang melakukan sosialisasi dan penggalian persepsi petani terkait budidaya kopi berbasis konservasi di kawasan dataran tinggi Banjarnegara. (istimewa)  

KORANBERNAS.ID, BANJARNEGARA --Tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) melaksanakan sosialisasi sekaligus penggalian persepsi petani terkait budi daya kopi berbasis konservasi di kawasan dataran tinggi Banjarnegara.

Kegiatan yang berlangsung Minggu (14/7/2025) ini digelar di Coffee Learning Center milik Bank Indonesia yang berlokasi di Koperasi Produsen Kopi Sikopel Mitreka Stata, Desa Babadan Kecamatan Pagentan serta diikuti puluhan petani kopi setempat.

Tim peneliti terdiri Dr Akhmad Rizqul Karim (ketua tim), Faishal Permana M Sc dan Ahmad Fauzi MP. Sosialisasi merupakan bagian dari riset berjudul Budidaya Kopi Berbasis Konservasi di Dataran Tinggi Banjarnegara: Dinamika Partisipasi dan Perilaku Petani Kopi di Wilayah Rawan Bencana.

"kegiatan ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, memetakan profil petani kopi di dataran tinggi. Dan kedua, mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong atau menghambat keterlibatan petani dalam praktik budi daya kopi sebagai bagian dari upaya konservasi lahan," ujar Akhmas Rizqul Karim kepada koranbernas.id.

Petik merah

Saat dialog dengan peserta, Ketua Koperasi Sikopel Mitreka Stata, Turno, mengungkapkan hasil panen kopi pada musim ini tergolong baik. Sebagian besar anggota koperasi telah menerapkan metode petik merah, yakni memanen buah kopi yang benar-benar matang. Teknik ini terbukti meningkatkan mutu biji kopi yang dipasarkan.

Turno menyebutkan para petani terus menjaga konsistensi metode petik merah dan menghindari praktik petik Pelangi, yakni memanen biji matang dan belum matang secara bersamaan guna menjaga kualitas.

Menanggapi hal itu, Akhmad Rizqul menilai kesadaran petani terhadap mutu hasil panen menunjukkan penerapan prinsip Good Agricultural Practices (GAP). Dia menjelaskan pasar kopi kelas premium sangat menghargai kualitas, yang hanya dapat dicapai melalui budi daya yang sesuai standar GAP.

Senada, Ahmad Fauzi menyampaikan masih banyak aspek dalam GAP yang perlu dipahami oleh petani. Menurutnya, penting dilakukan pendalaman praktik budidaya yang selama ini dijalankan untuk mengidentifikasi kesenjangan dengan standar ideal.

Terus meningkat

“Kami ingin menggali lebih lanjut apa saja yang sudah dan belum dilakukan petani dalam praktik GAP, agar hasil panen bisa terus meningkat secara kualitas maupun kuantitas,” ujarnya.

Sosialisasi ini menjadi bagian awal dari rangkaian panjang penelitian, yang akan dilanjutkan dengan penyebaran kuesioner, diskusi kelompok terfokus (FGD), dan wawancara mendalam.

Tim peneliti berharap hasil akhir studi ini dapat menjadi rekomendasi dalam pengembangan wilayah pertanian dataran tinggi, dengan tetap mempertimbangkan kearifan lokal agar program yang dihasilkan bisa berkelanjutan dan diterima oleh masyarakat. (*)