Napak Tilas Jejak Pengasingan Bung Karno di Bengkulu (2)
Ada Jejak Cinta, Karya Seni dan Perjuangan
KORANBERNAS.ID, BENGKULU -- Rumah berarsitektur Tionghoa yang dibangun pada tahun 1918 di Bengkulu itu menjadi saksi salah satu fragmen sejarah kemerdekaan Indonesia. Di rumah yang awalnya disewa oleh pemerintah kolonial Belanda inilah, Sang Proklamator, Soekarno, menghabiskan empat tahun masa pengasingannya (1938–1942) setelah dipindahkan dari Ende, Flores.
Rumah Bekas Kediaman Bung Karno di Bengkulu ini juga menyimpan banyak catatan, ada jejak cinta, karya seni dan perjuangan maupun lahirnya ide-ide kebangsaan yang mengubah sejarah bangsa.
Kisah pemindahan Bung Karno ke Bengkulu menyimpan dinamika politik yang panjang. Sejarawan sekaligus seniman setempat, Agus Setianto, kepada anggota DPRD DIY bersama Wartawan Unit DPRD DIY, Kamis (11/6/2026), menceritakan masa-masa akhir pengasingan Bung Karno di Ende yang sempat menderita sakit keras.
Kondisi ini memicu protes keras dari sahabat seperjuangannya, Mohammad Husni (MH) Thamrin, di Dewan Volksraad. Thamrin mendesak pemerintah kolonial segera memindahkan Bung Karno dan minta Belanda harus bertanggung jawab.
Anggota Komisi A DPRD DIY Yuni Satia Rahayu dan Akhid Nuryati di Rumah Kediaman Bung Karno di Bengkulu. (sholihul hadi/koranbernas.id)
"Sebelum jatuh pilihan ke Bengkulu, sempat ada usulan agar Bung Karno disekolahkan S2 ke Belanda, namun ditolak. Ada juga tawaran dari Taman Siswa Yogyakarta agar beliau mengajar teknik, tapi urung. Bahkan, Residen Kalimantan (Borneo) sempat ditawari, namun mereka menolak karena tidak berani menerima Bung Karno," ujar Agus yang pernah menjabat Kepala Dinas Pariwisata Bengkulu 2009-2011 itu.
Pada akhirnya, Residen Bengkulu menyatakan siap menampung Soekarno. Meski Surat Keputusan (SK) pemindahan sudah terbit sejak 14 Februari 1938, Bung Karno baru resmi menginjakkan kaki di Bumi Raflesia pada 9 Mei 1938 setelah ketidakpastian lokasi berhasil diselesaikan.
Dia menambahkan, untuk menghibur diri, Bung Karno melanjutkan geliat keseniannya di Bengkulu. Jika di Ende dia mendirikan kelompok sandiwara Kelimutu, di Bengkulu mendirikan grup teater bernama Monte Carlo. Di kelompok ini, Bung Karno menjadi penulis skenario, menyutradarai, mendesain panggung (tonil) hingga melatih para pemain.
Selama empat tahun, Monte Carlo melahirkan sekitar 12 karya sandiwara, di antaranya Rainbow (Poetri Kentjana Boelan), Hantu Gunung Bungkuk dan Dr Setan.
Naskah misteri
Melalui pementasan seni inilah, Bung Karno secara gerilya menumbuhkan jiwa nasionalisme di masyarakat Bengkulu. Salah satu naskah terakhirnya yang berisi ramalan tentang Indonesia Merdeka belum sempat dipentaskan karena Jepang keburu menduduki Indonesia pada tahun 1942 dan keberadaan naskah asli tersebut masih menjadi misteri hingga kini.
Agus menambahkan, rumah pengasingan ini juga menjadi tempat pertama kalinya Bung Karno mengenal Fatmawati. “Saat diasingkan, Bung Karno dibersamai oleh istri keduanya, Ibu Inggit Garnasih dan kedua anak angkat mereka, salah satunya Ratna Djuami,” katanya.
Pengelola Rumah Kediaman Bung Karno di Bengkulu, Safrida Hanum, menjelaskan Fatmawati awalnya adalah sahabat dekat Ratna Djuami sekaligus murid dari Bung Karno yang aktif mengajar bersama ayah Fatmawati.
"Dari kedekatan kegiatan teater Monte Carlo dan karena Fatmawati sering menginap di sini sebagai sahabat Ratna Djuami, awal mula perkenalan dan kedekatan antara Bung Karno dan Ibu Fatmawati terjadi," ungkap Safrida. Di dalam rumah tersebut, kostum legendaris Monte Carlo yang pernah dikenakan saat itu pun masih tersimpan dengan baik.
Sumur tua
Selain menyimpan barang-barang asli peninggalan Bung Karno seperti sepeda, tempat tidur, kursi, meja kerja dan koleksi buku, situs sejarah ini memiliki satu daya tarik unik yaitu sebuah sumur tua di bagian belakang rumah.
Berbeda dengan sumur tetangga sekitar yang terasa payau karena lokasi rumah yang dekat dengan pantai, air di sumur Bung Karno ini terasa tawar dan segar. Hebatnya lagi, sumur ini hampir tidak pernah kering total meskipun musim kemarau panjang.
"Konon katanya, siapa saja yang mencuci muka di sumur ini akan kembali lagi untuk kedua kalinya ke sini. Banyak wisatawan yang datang mencuci muka dengan niat baik (disertai doa kepada Tuhan Yang Maha Esa), ada yang meyakini mempermudah jodoh atau terkabul keinginannya," kata Safrida.
Rumah tersebut sempat telantar setelah kemerdekaan, kemudian dipugar secara berkala oleh pemerintah sejak tahun 1985. Pekarangannya yang luas semula berupa hutan kini diperkecil karena pembangunan kota. Bangunan fisik utama dipertahankan keasliannya, termasuk penyesuaian atap.
Masyarakat yang ingin berwisata sejarah, rumah ini dibuka setiap Selasa sampai Minggu pukul 08:00 hingga 16:00. Khusus hari Senin tutup total. Rata-rata kunjungan mencapai minimal 50 orang pada hari biasa dan melonjak hingga ratusan pengunjung pada akhir pekan. (*)
---
