Menko AHY Mengapresiasi Ruang Hijau di Ruas Tol Prambanan-Purwomartani
KORANBERNAS.ID, SLEMAN – Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Sabtu pagi (25/04/2026), berkunjung ke jalan tol segmen Prambanan – Purwomartani yang sedang dalam tahap penyempurnaan. Ia antara lain ditemani Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Ossy Dermawan, Sekjen Kementerian PU Wida Nurfaida dan sejumlah pejabat lain.
Kunjungan kerja pada hari libur itu ditandai dengan penanaman bibit pohon di area menjelang pintu tol Purwomartani, Kalasan, Sleman. Ruas tol Solo – Yogya – YIA (Yogyakarta International Airport), Kulonprogo, dikelola oleh PT Jasamarga Jogja Solo (PT JMJ).
Ada 60 bibit pohon trembesi, asam Jawa, sawo kecik dan pohon tanjung yang ditanam. Penanaman dilakukan serentak oleh Menko AHY dan pejabat daerah lain yang datang, antara lain Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti, Rektor UGM Ova Emilia, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa serta jajaran pimpinan PT Jasamarga termasuk PT JMJ dan Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Wildan Oktavian.
Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono memberi pengarahan di depan pejabat jajaran Kemen ATR-BPN, Kemen PU dan pejabat daerah. (pututwiryawan/koranbernas.id).
Ancaman ekologis
Menko AHY mengapresiasi upaya nyata yang dilakukan Badan Pengatur Jalan Tol melalui PT JMJ yang menyediakan ruang terbuka hijau di segmen jalan tol Prambanan – Purwomartani. Apalagi, program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian PU, PT Jasamarga, dan UGM melalui Fakultas Kehutanan.
Menurut AHY, Indonesia menghadapi ancaman ekologis yang nyata. Salah satunya adalah deforestasi atau pengurangan luasan hutan untuk kepentingan pembangunan ekonomi. Bagaimanapun, kata AHY, ketahanan pangan membutuhkan lahan. Begitu pula pembangunan perumahan untuk hunian warga, yang saat ini pemerintah sedang mengejar pembangunan 3 juta rumah di desa dan kota untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Belum lagi pembangunan industri dengan pendirian pabrik-pabrik. “Tapi tetap harus tersisa ruang terbuka. Dan ketika kita sulit mencari ruang terbuka dalam area yang terkonsentrasi, maka kita manfaatkan green corridor jalan tol,” kata AHY.
Ancaman ekologis lainnya, lanjut AHY, adalah pencemaran di darat, laut dan udara. Polusi udara dengan tingginya emisi gas CO2 (karbon dioksida) harus diimbangi dengan penanaman pohon yang menyerap banyak karbon. Konon, kata AHY, setiap ruang milik jalan di jalan raya sepanjang 100 km, bila ditanami pohon-pohon, mampu menyerap gas CO2 sebesar sekitar 440 ton per tahun.
Kesejahteraan dan keberlanjutan
Pembangunan, menurut AHY, memang diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, di sisi lain, sustainability atau keberlanjutan bumi dan lingkungan hidup adalah sesuatu yang wajib dijaga. Pemerintah akan terus menggaungkan Galang RTHB (Gerakan Nasional Pengembangan Ruang Terbuka Hijau dan Biru). “Setiap kota harus memiliki 30 persen RTHB. Ini tidak mudah, tetapi harus menjadi acuan. Karena itu, saya menyambut baik setiap usaha menjaga kelestarian lingkungan hidup kita,” katanya.
Trembesi (samanea saman), salah satu pohon yang ditanam di ruang hijau jalan tol Purwomartani, menurut penelitian, setiap batang pohon dewasa mampu menyerap gas CO2 sekitar 28,5 ton per tahun. Trembesi dikenal sebagai tanaman keras yang paling banyak menyerap karbon. (*)
