Kisah Haru Mahasiswa UAD yang Meninggal Sebelum Wisuda
Mahasiswa yang berasal dari Jakarta itu selama kuliah tinggal bersama neneknya di Yogyakarta.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Suasana haru menyelimuti prosesi wisuda di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ketika sebuah kursi wisudawan diwakili oleh orang tua. Mahasiswa yang seharusnya berdiri di panggung menerima gelar sarjana itu telah lebih dulu meninggal dunia sebelum sempat merayakan hari kelulusannya.
Dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Terapan, Sarjana, Magister, dan Doktor Periode III Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar di Jogja Expo Center (JEC), Sabtu (9/5/2026), orang tua mahasiswa tersebut menggantikan putranya menerima penghargaan kelulusan.
Momen itu menjadi salah satu bagian paling emosional dalam prosesi wisuda yang diikuti ribuan keluarga. Sejumlah dosen mengenang mahasiswa tersebut sebagai sosok yang ceria, mudah bergaul dan memiliki semangat belajar tinggi. Di lingkungan kampus, dia dikenal dekat dengan dosen maupun teman-temannya.
“Anaknya itu asyik, humble, menyenangkan, tulus dan selalu ceria. Dengan dosen perempuan dia dekat, dengan dosen laki-laki juga tetap hormat dan sering bercanda. Dia juga humoris dan pintar,” ujar Muya Barida, dosen Bimbingan Konseling UAD, yang pernah mengajarnya.
Berbagai kegiatan
Muya mengisahkan, mahasiswa yang berasal dari Jakarta itu selama kuliah tinggal bersama neneknya di Yogyakarta. Dia aktif dalam kegiatan organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang pendidikan dan konseling serta kerap terlibat menjadi panitia dalam berbagai kegiatan kampus.
Semangat belajarnya membuatnya mengikuti program fast track, yaitu program percepatan yang memungkinkan mahasiswa tingkat akhir melanjutkan studi magister lebih awal setelah melalui proses seleksi akademik.
Di balik aktivitas akademik yang padat, kesehatannya mulai menurun. Dosen menyebut mahasiswa tersebut beberapa kali mengeluhkan sakit lambung. Dalam beberapa kesempatan dia juga sempat absen dari perkuliahan karena sakit yang awalnya diduga tifus.
“Pada akhir-akhir itu dia sering tidak masuk kuliah. Katanya tifus. Tapi beberapa minggu kemudian izin lagi dengan alasan yang sama. Ternyata yang terakhir bukan tifus,” ujarnya.
Kedai kopi
Menurut cerita keluarga, pola makannya memang tidak teratur. Dia kerap mengerjakan tugas hingga larut malam di kedai kopi dekat kampus sambil mengkonsumsi kopi tanpa makan yang cukup. Kondisi tersebut diduga memperparah masalah lambung yang telah lama dikeluhkannya.
Dia meninggal dunia saat masa libur Lebaran lalu, hanya beberapa waktu sebelum prosesi wisuda yang seharusnya menjadi puncak perjalanan studinya. Meski tak sempat menyelesaikan langkah terakhir di kampus, pihak universitas tetap memberikan penghormatan dengan menghadirkan orang tuanya dalam prosesi wisuda untuk menerima kelulusannya.
Wisuda kali ini menjadi momen besar bagi Universitas Ahmad Dahlan yang kembali menunjukkan komitmennya mencetak sumber daya manusia unggul. Dalam prosesi yang digelar di Jogja Expo Center tersebut, universitas mewisuda total 1.096 mahasiswa.
Rinciannya terdiri atas 11 lulusan Program Sarjana Terapan, 924 lulusan Program Sarjana, 157 lulusan Program Magister, dan 4 lulusan Program Doktor. Dari jumlah tersebut, 790 wisudawan berhasil meraih predikat cum laude atau lulus dengan pujian.
Bertubi-tubi
Rektor UAD, Muchlas, menyampaikan rasa bangga dan ucapan selamat kepada para wisudawan. Perjalanan menempuh pendidikan tinggi bukanlah proses yang mudah.
“Perjalanan menempuh pendidikan tinggi tidak mudah. Ada perjuangan, pengorbanan, kerja keras dan kegagalan bertubi-tubi. Ketekunan, disiplin, dan doa mengantarkan saudara mencapai tonggak penting dalam kehidupan ini,” ujarnya.
Dia menyampaikan apresiasi kepada orang tua dan keluarga yang telah memberikan dukungan selama masa studi para mahasiswa.
“Atas nama universitas, kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para orang tua dan keluarga. Keberhasilan wisudawan tidak terlepas dari doa, dukungan moral, pengorbanan dan cinta yang tulus dari keluarga,” katanya.
Berakhlak
Menurutnya, kebanggaan sebagai lulusan UAD harus diwujudkan melalui karya nyata di tengah masyarakat. “Tunjukkan lulusan UAD adalah pribadi yang cerdas, berakhlak, adaptif terhadap perubahan, dan mampu memberikan solusi bagi persoalan bangsa,” tambahnya.
Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang cepat, dia menyatakan pentingnya kemampuan berkolaborasi, komunikasi, dan karakter yang kuat bagi lulusan perguruan tinggi.
“Kami berharap lulusan UAD mampu menjadi generasi pembelajar sepanjang hayat, generasi yang terus bertumbuh, berani berinovasi dan mampu menciptakan peluang,” ujarnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
