Wihaji Ingatkan Peran Ayah, Anak Jangan Sampai Diasuh Gawai
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji mengingatkan para orang tua, khususnya ayah, agar tidak membiarkan anak lebih banyak diasuh oleh handphone daripada mendapat perhatian keluarga.
Menurutnya, minimnya kedekatan emosional orang tua dengan anak dapat memicu berbagai persoalan, termasuk gangguan kesehatan mental.
"Ayah tidak hanya bertanggung jawab mencari nafkah, tetapi juga harus hadir dalam pengasuhan anak dan pendampingan remaja. Ayah perlu dekat secara emosional dengan anak," kata Wihaji saat menghadiri acara Ngobrol Perkara Gati (Ngopi) Lintas Tiga Generasi di Angkringan dalam rangka Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Grha Pandawa Balai Kota Yogyakarta, Jumat (26/6/2026).
Ia mengatakan fenomena fatherless atau tumbuh tanpa kehadiran figur ayah membuat anak lebih rentan mengalami depresi, gangguan kecemasan, hingga masalah kesehatan mental lainnya. Menurutnya, sekitar 34 persen remaja mengalami gangguan kesehatan mental.
Wihaji juga menyoroti tingginya penggunaan gawai oleh anak-anak. Ia menyebut rata-rata anak menghabiskan waktu 8,7 hingga 10 jam sehari menggunakan handphone.
"Kalau orang tua tidak hadir, maka yang menjadi 'orang tua' bagi anak adalah handphone dengan berbagai isinya. Itu akan memengaruhi cara berpikir dan perkembangan otak anak," ujarnya.
Meski demikian, Wihaji menegaskan dirinya tidak menolak kemajuan teknologi. Menurutnya, teknologi harus dimanfaatkan untuk membantu kehidupan, bukan justru mengendalikan manusia.
"Paling tidak luangkan waktu satu sampai dua jam setiap hari untuk ngobrol dan berinteraksi dengan anak-anak kita," pesannya.
Dalam kesempatan itu, Wihaji juga memperkenalkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang diinisiasi Kemendukbangga/BKKBN, termasuk program Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR), sebagai upaya meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan.
Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan Pemerintah Kota Yogyakarta telah menerapkan skrining kesehatan mental secara berjenjang, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit, dengan sistem penanganan yang terintegrasi. (*)
Sariyati Wijaya
