Anggota DPR RI Azis Subekti Beri Catatan Kunjungan Presiden ke Jepang dan Korsel
Indonesia tidak lagi cukup menjadi pasar, harus menjadi pemain.
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra Azis Subekti memberikan catatan perjalanan kunjungan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan (Korsel) selama empat hari, 29 Maret - 1 April 2026.
Melalui pernyataan tertulis, Jumat (3/4/2026), Azis melihat ketika Prabowo Subianto mendarat di Tokyo 29 Maret silam bukan sekadar kunjungan kenegaraan melainkan pembukaan ulang hubungan lama yang kini menuntut tafsir baru.
“Pertemuan dengan Naruhito di Istana Kekaisaran bukan sekadar seremoni. Hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun oleh kepentingan tetapi oleh ingatan yang dijaga,” ungkapnya.
Dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, lanjutnya, terlihat ada negosiasi yang lebih jujur dari sebelumnya. Ini terbukti dengan adanya komitmen investasi senilai 23,63 miliar Dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 380 triliun melalui perjanjian kerja sama strategis antara pelaku usaha Indonesia-Jepang.
Kendaraan listrik
Disebutkan, investasi itu meliputi energi bersih, kendaraan listrik dan infrastruktur. "Indonesia tidak lagi sekadar membuka pintu tetapi mulai menentukan bagaimana dan untuk siapa pintu itu dibuka," katanya.
Sementara itu, saat pertemuan Presiden Prabowo dengan Lee Jae-Myung pada 1 April 2026 di Blue House Korea Selatan, juga dibicarakan kerja sama antara kedua negara. Antara lain meliputi sektor pertahanan maupun kecerdasan buatan.
Sepuluh nota kesepahaman ditandatangani, mulai dari dialog strategis komprehensif, kerja sama ekonomi 2.0, kemitraan mineral hingga pengembangan digital dan AI untuk kesehatan dasar.
Selain itu, juga terkait dengan energi bersih, penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS), industri pembangkit lepas pantai, perlindungan hak kekayaan intelektual dan kemitraan keuangan. "Hubungan Indonesia dengan Jepang dan Korea Selatan pada akhirnya tumbuh. Indonesia tidak lagi cukup menjadi pasar, harus menjadi pemain,” kata Azis. (*)
Wahyu Nur Asmani EW
