Ratusan Umat Saksikan Pementasan Tablo “Salib Tanda Cinta”
Jika tahun-tahun sebelumnya Gereja Pugeran kental dengan nuansa Jawa dan gamelan, kali ini berubah menjadi panggung klasik Romawi.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Matahari baru saja meninggi di atas salib Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, Jumat (3/4/2026) pagi. Tidak ada panggung megah, tidak ada pembatas jarak. Ratusan umat berdiri membisu, membentuk “Lingkaran Permenungan” yang rapat, memusatkan emosi saat menyaksikan pementasan Tablo bertajuk Salib Tanda Cinta.
Bagi Tino, pementasan itu merupakan ironi yang indah. Saat menjadi pusat perhatian ribuan pasang mata, dia justru tidak dapat melihat satu pun dengan jelas. “Mata saya lumayan minus dan silinder,” ujar Tino saat dihubungi koranbernas.id sebelum hari pementasan, Rabu (1/4/2026).
“Tapi keterbatasan penglihatan itu justru jadi anugerah hari ini. Saya tidak “terintimidasi” oleh tatapan umat di sekeliling saya. Dunia saya hanya ada di dalam lingkaran ini, fokus seratus persen pada salib," lanjutnya.
Titik balik
Bagi pemuda yang terbiasa memerankan tokoh ekspresif seperti Joker di panggung teater kampus, peran Yesus menjadi titik balik yang ekstrem. Dirinya harus bertransformasi dari karakter yang meledak-ledak menjadi sosok yang penuh wibawa, namun ringkih di bawah kayu salib.
“Tantangan terbesarnya adalah mengontrol ritme nafas saat di atas salib. Tubuh harus benar-benar menyatu dengan kayu palang. Kalau terlalu tegang, otot tertarik, kalau terlalu lemas penderitaannya tidak sampai ke umat,” tambahnya.
Puncak emosi pecah saat prosesi Yesus dibawa menuju pemakaman. Diiringi alunan musik chamber yang melankolis, umat mulai mengangkat salib-salib kecil yang mereka bawa dari rumah untuk diberkati. Pelataran Pugeran berubah menjadi lautan doa.
Bagi Tino, pementasan hari ini telah usai tetapi jejaknya tertanam kuat dalam batin. Lututnya mungkin membengkak akibat jatuh berkali-kali di atas semen pelataran selama latihan, namun jiwanya terasa lebih penuh.
Panggung Klasik
“Awalnya saya ikut hanya untuk menambah portofolio dan karena diajak teman sutradara,” ujar Tino. Tapi setelah merasakan sendiri penderitaan fisik dan emosional di atas salib, pengalaman ini bukan lagi sekadar bekal karya. Ini adalah sangu untuk hidupnya ke depan.
Visual Tablo tahun ini terasa berbeda. Jika tahun-tahun sebelumnya Gereja Pugeran kental dengan nuansa Jawa dan gamelan, kali ini pelataran berubah menjadi panggung Klasik Romawi.
Yohanes Theo Widodo selaku penata seni dari KMK ISI Yogyakarta menjelaskan pilihan tersebut bukan sekadar gaya. “Kami menggunakan kain-kain drapery dan estetika Romawi untuk memberikan dimensi baru bagi umat. Dipadukan dengan semi-chamber orchestra, kami ingin musik dan visual ini menjadi ‘senjata’ untuk memicu suasana reflektif,” ungkap Theo.
Sayatan biola yang mengiringi setiap langkah Tino memanggul salib seolah menyayat hati umat yang menyaksikan. Perubahan gaya ini juga didukung oleh Yohanes Catur Wibowo, supervisor pementasan. Menurut Catur, pementasan ini merupakan bagian dari program Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB).
“Kami sengaja menarik mundur alur ceritanya. Umat tidak langsung melihat Yesus yang disiksa, tetapi Yesus yang memanggil murid, menyembuhkan orang buta, dan menyelamatkan perempuan berzina,” jelasnya. “Tujuannya agar umat melihat sosok Yesus yang berkarya sebelum Ia menjadi Sang Kurban. Kami ingin orang muda tidak lagi acuh terhadap kisah sengsara ini," tandasnya. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
