“Sukma” dan “Lembayung” Dilirik Korea, Baim Wong Kini Garap Ulang Film “Tunnel”

Ayah dari Kiano dan Kenzo ini mengaku sangat terkesan dengan film “Tunnel” yang pertama kali ia tonton di pesawat. Namun, yang membuatnya akhirnya menerima tawaran remake setelah berbulan-bulan bernegosiasi adalah keleluasaan kreatif yang diberikan oleh pihak Korea

“Sukma” dan “Lembayung” Dilirik Korea, Baim Wong Kini Garap Ulang Film “Tunnel”
Ilustrasi. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, JAKARTA – Aktor sekaligus produser Baim Wong mengonfirmasi proyek ambisius terbarunya: menggarap ulang (remake) film thriller populer Korea Selatan, “Tunnel”. Proyek ini lahir setelah dua film produksinya, “Sukma” dan “Lembayung,” ternyata berhasil menarik perhatian hingga ke Negeri Ginseng.

Namun, Baim menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar proyek internasional biasa. Ia hanya bersedia maju setelah pihak Korea memberikan satu syarat krusial: kebebasan penuh untuk merombak skenario agar memiliki cita rasa Indonesia yang kuat.

Bukan Sekadar Proyek Internasional

Baim Wong mengungkapkan bahwa proses menuju kerja sama ini berjalan alot dan penuh pertimbangan. Ia tidak mau proyek ini hanya menjadi ajang menumpang nama besar film aslinya. Tim produksinya bahkan harus bolak-balik ke Korea hingga lima kali untuk memastikan keseriusan kedua belah pihak.

“Kami baru mau terlibat kalau mereka juga benar-benar serius. Karena membuat film itu sulit, harus ada kesungguhan,” ujar Baim.

Baginya, proyek ini adalah sebuah misi untuk membawa nama Indonesia ke panggung perfilman Asia. Ia tidak ingin sekadar meniru, melainkan menciptakan sebuah karya yang berbeda dan membanggakan.

“Kami ingin berbeda, ingin hasilnya bagus, dan satu lagi — kami ingin Indonesia ada di sana,” tegasnya.

Kebebasan Mengadaptasi Cerita

Ayah dari Kiano dan Kenzo ini mengaku sangat terkesan dengan film “Tunnel” yang pertama kali ia tonton di pesawat. Namun, yang membuatnya akhirnya menerima tawaran remake setelah berbulan-bulan bernegosiasi adalah keleluasaan kreatif yang diberikan oleh pihak Korea.

“Poin paling penting, saya dikasih keleluasaan merubah skenario, tidak harus seperti film aslinya. Di situ saya mau terima tawarannya,” jelas Baim.

Kebebasan ini memberinya ruang untuk menanamkan identitas lokal yang kuat, memastikan film ini akan relevan dan menyentuh emosi penonton Indonesia.

Dari Coba-Coba Menuju Proyek Serius

Baim tak menampik bahwa proyek-proyek filmnya berawal dari sekadar mencoba. Namun, ia merasa antusiasme dan keseriusannya kini telah berbuah manis.

“Awalnya coba-coba, tapi sepertinya Sukma dan Lembayung beritanya udah sampai di Korea. Tambah ke sini, tambah genre yang susah dan budget-nya juga nggak main-main. Bukannya tegang malah excited!” tulis Baim dalam unggahan Instagramnya.

Dengan jadwal syuting yang direncanakan mulai pada tahun 2026, Baim Wong siap membuktikan bahwa karya adaptasi bisa memiliki jiwa dan identitasnya sendiri. “Karya saya tetap karya saya, karya mereka tetap karya mereka,” pungkasnya. (*)