Pedagang Kambing Legendaris di Kebumen Memilih Jual Beli Langsung
Pelanggan sudah banyak yang meninggal.
KORANBERNAS.ID, KEBUMEN -- Pedagang kambing dan domba legendaris asal Dukuh Kemangunan Kelurahan Tamanwinangun Kabupaten Kebumen, Solihin (86) memilih jual beli kambing dan domba secara offline atau langsung di tempat.
Model jual beli antara pedagang dan pembeli saling bertemu memberi rasa tenang bagi dirinya sebagai penjual.
"Di sini calon pembeli bisa memilih, ada tawar menawar harga," kata Solihin kepada koranbernas.id di tempat usahanya sekaligus tempat tinggalnya di jalan lingkar selatan Kota Kebumen, Senin (4/5/2026).
Solihin memilih model jual beli jaman dahulu (jadul) agar ada kesepakatan harga setelah terjadi tawar menawar. Berbeda jika jual beli dengan model online.
Pembeli datang
Bagi penjual yang jujur, kambing yang di-posting dengan kualitas bagus, gemuk dan sehat. Jika kambing yang dikirim ke pembeli, kambing yang sama, tidak ada masalah. Tetapi, jika yang dikirim kambing yang berbeda, akan bermasalah di kemudian hari.
"Saya memilih calon pembeli datang ke sini, melihat kambing, ada tawar menawar," ujar Solihin. Cara berdagang seperti ini, selain tidak merepotkan dalam transaksi, juga menenteramkan hidup, karena kemungkinan komplain pembeli kecil.
Menjelang Idul Adha 1447 Hijriah, Solihin mengaku pembelinya tidak sebanyak tahun sebelumnya. Pembeli domba dan kambing di tempat usaha dari tahun ke tahun semakin berkurang.
"Pelanggan sudah banyak yang meninggal," kata Solihin. Penyebab lain pelanggan berkurang adalah tumbuhnya pedagang kambing dadakan menjelang Idul Adha.
Siap 30 ekor
Dia tidak menyebutkan, tren kurban seekor sapi untuk hewan kurban tujuh orang. Baginya, kurban dengan sapi bukan penyebab pembelian kambing atau domba untuk kurban berkurang.
Menjelang Idul Adha tahun ini disiapkan 30 ekor kambing dan domba atau wedhus gembel. Harga domba paling murah Rp 2 dengan berat badan hidup 35 kg, paling mahal Rp 5 juta.
Sedangkan harga kambing paling murah Rp 2,5 juta, paling mahal Rp 4 juta. "Harga di sini bisa tawar menawar," kata Solihin. (*)
Nanang W Hartono
