Pasien Penyakit Kronis Tak Selamanya Dirawat di Rumah Sakit, Layanan Paliatif Dinilai Mendesak
Menumpuk pasien terminal di ruang intensif tanpa perbaikan klinis justru mencederai hak pasien.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Tidak semua pasien dengan penyakit kronis atau terminal harus menghabiskan hari-hari terakhirnya di ruang perawatan rumah sakit. Banyak di antaranya justru lebih membutuhkan pendampingan yang mampu mengurangi rasa sakit, memberi ketenangan dan mendampingi keluarga melalui layanan paliatif berbasis home care.
Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan kebutuhan tersebut semakin mendesak seiring meningkatnya jumlah penderita penyakit kronis, baik pada usia lanjut maupun usia produktif.
"Fakta di lapangan membuktikan banyak warga dengan kondisi kronis yang sebenarnya tidak memerlukan hospitalisasi penuh di bangsal rumah sakit, melainkan membutuhkan penanganan terstruktur berbasis home care," kata Hasto dalam Seminar Nasional Completing the Puzzle of Palliative Care: A Multidisciplinary Approach to Holistic Care, Jumat (10/7/2026), di RS Bethesda Yogyakarta.
"Terlebih, karakter masyarakat urban saat ini memiliki semangat bertahan hidup yang tinggi. Mereka tidak mudah menyerah pada vonis gagal ginjal atau gagal jantung. Karena itu, layanan paliatif harus mampu memberikan ketenangan bagi pasien dan keluarganya," lanjutnya.
Menurut Hasto, pelayanan kesehatan tidak lagi cukup pada upaya menyembuhkan penyakit. Pasien yang hidup dengan penyakit kronis juga membutuhkan pendampingan agar tetap memiliki kualitas hidup yang baik.
Kondisi itu juga menjadi perhatian RS Bethesda Yogyakarta. Direktur RS Bethesda, dr Edy Wibowo Sp M(K) MPH mengatakan masih banyak pasien penyakit terminal yang tetap dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) meski peluang pemulihannya sudah sangat kecil.
Hak pasien
"Kami sering menjumpai pasien kanker stadium akhir yang tertahan di ICU dengan ventilator tanpa ada indikasi pemulihan yang riil. Menumpuk pasien terminal di ruang intensif tanpa perbaikan klinis justru mencederai hak pasien untuk mendapatkan akhir hayat yang tenang dan menambah kedukaan keluarga," ujarnya.
Menurut Edy, rumah sakit perlu mengembangkan layanan hospice sebagai tempat transisi sebelum pasien pulang ke rumah. Melalui layanan tersebut, keluarga dapat belajar merawat anggota keluarganya secara mandiri dengan pendampingan tenaga kesehatan.
Pakar hematologi-onkologi anak, dr Edi S Tehuteru Sp A Subsp HO MHA, menjelaskan pelayanan paliatif kini menjadi bagian penting dalam praktik kedokteran modern. Selain upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, tenaga kesehatan juga dituntut mampu mendampingi pasien yang tidak lagi dapat disembuhkan.
Menurutnya, pelayanan paliatif tidak hanya mengurangi nyeri, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis, sosial dan spiritual pasien beserta keluarganya.
"Pasien yang tidak lagi bisa disembuhkan bukan berarti gagal ditangani. Mereka tetap berhak memperoleh pelayanan yang membuat hidupnya lebih nyaman dan bermartabat," katanya.
Praktisi paliatif dr Venita Eng M Sc CT menambahkan masih banyak masyarakat, bahkan tenaga kesehatan, yang menganggap pelayanan paliatif sebagai tanda berakhirnya pengobatan.
Padahal, pendekatan tersebut seharusnya diberikan sejak awal pasien didiagnosis menderita penyakit kronis yang mengancam jiwa.
"Ketika penyakit tidak dapat disembuhkan, bukan berarti kita berhenti merawat. Yang berubah adalah tujuan pelayanannya, yakni mengurangi penderitaan fisik, memberikan dukungan psikologis, membantu persoalan sosial dan mendampingi kebutuhan spiritual pasien," ujarnya.
Instrumen akreditasi
Dorongan untuk memperkuat layanan paliatif juga datang dari pemerintah pusat. Kementerian Kesehatan RI kini memasukkan pelayanan paliatif ke dalam instrumen akreditasi rumah sakit. Setiap rumah sakit diwajibkan membangun sistem pelayanan paliatif sekaligus meningkatkan kompetensi tenaga kesehatannya.
Merespons kebijakan tersebut, Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Suluh Kasih Bangsa bersama Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKKUM) menggelar seminar nasional yang diikuti sekitar 350 tenaga kesehatan dari berbagai daerah.
Direktur LKP Suluh Kasih Bangsa, drg Jenny Megawati Sp KGA, mengatakan kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman pelayanan paliatif sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang menyeluruh, bukan sekadar perawatan menjelang akhir hayat.
Dia mengutip laporan The Lancet Commission yang memperkirakan hampir separuh kematian di dunia pada 2060 akan disertai penderitaan kesehatan yang berat, sementara sebagian besar terjadi di negara berpenghasilan menengah ke bawah, termasuk Indonesia.
Saat ini, perkembangan layanan paliatif Indonesia masih berada pada level 3a (isolated provision), yang menunjukkan pelayanan belum merata dan masih sering terlambat diterima pasien. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
