Nandur Srawung: Seni Meneguhkan Kesadaran Baru di Tengah Krisis

Tema Eling | Awakening bukan hanya respons terhadap gejolak zaman, tetapi upaya merawat kembali keruangan batin yang acap terlupakan

Nandur Srawung: Seni Meneguhkan Kesadaran Baru di Tengah Krisis
Kurator Nandur Srawung, Rain Rosyidi menjelaskan karya-karya yang dipamerkan. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Angin senja Yogyakarta menyusup lewat jendela Lobi Gedung Militaire Societeit. Seperti sebuah panggilan, ruang itu akan berubah menjadi pekarangan ide, saat para pengunjung melangkah di antara instalasi dan lukisan, dari dalam ruang hingga ke taman terbuka. Inilah Nandur Srawung #12 — di mana seni menjadi jembatan antara batin dan zaman, memanggil eling sebagai panggilan bangkit.

“Tema Eling | Awakening bukan hanya respons terhadap gejolak zaman, tetapi upaya merawat kembali keruangan batin yang acap terlupakan,” ujar Rain Rosidi, kurator sekaligus dosen Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta saat konferensi pers Kamis (9/10/2025).

Rain, yang juga dikenal sebagai pendiri ruang alternatif Gelaran Budaya, melihat tema ini sebagai ajakan agar seniman tidak sekadar memperlihatkan realitas, melainkan menyelam ke relung kesadaran manusia. 

Menebar “Eling” dalam Setiap Jejak Artistik

Bagi Rain, banyak seniman menghadapi kontradiksi: teknologi menjanjikan kemudahan, tetapi juga membelah kehadiran manusia menjadi fragmentasi digital. Krisis iklim menuntut kesadaran ekologis, tetapi sering berjarak dari pengalaman psikologis. 

“Kita cenderung merespons kejadian luar—bencana, pandemi, konflik—tapi menutup pintu ke dalam. Eling meneguhkan bahwa kesadaran itu harus hadir secara menyeluruh: tubuh, pikiran, dan rasa,” katanya.

Dalam proses kurasi NS XII, Rain mengajak para seniman partisipan untuk mengeksplorasi tema dari kacamata pengalaman personal. 

“Bukan semata kritik, melainkan penghayatan—bagaimana sang manusia menyatu dengan waktu dan dunia di sekitarnya,” tuturnya.

Dalam dialog internal bersama tim kurator, Rain menekankan pentingnya keragaman medium—lukisan, instalasi, fotografi, video, karya partisipatif—agar tiap individu pengunjung bisa “menyentuh” tema Eling | Awakening lewat indra sendiri.

Rain percaya pengalaman seperti itu adalah ruang kecil pembangkitan sadar. “Saat seseorang berhenti, menonton, menyerap—di situ titik kecil kebangkitan muncul.” Sedangkan Purwiati berharap, TBY lewat pameran ini mampu menjadi pusat gravitasi seni—di mana masyarakat tidak hanya melihat seni sebagai tontonan, tapi sebagai medium kesadaran.

“Seni bukan hiburan semata; ia adalah panggilan untuk bertanya, untuk mendengarkan kembali diri sendiri,” tandasnya.

Taman Budaya: Rumah bagi Eling dan Kreativitas

Sementara itu, di balik ruang pamer itu, berdiri Taman Budaya Yogyakarta (TBY), institusi yang berperan sebagai rumah besar seni di Jogja. Dipimpin oleh Purwiati, Kepala TBY sejak tahun 2022, lembaga ini terus memperluas ruang berekspresi para seniman lintas generasi. 

“Bagi saya, seni adalah jembatan lintas waktu. Dari tradisi ke kontemporer, dari lokal ke global,” ujar Purwiati.  

Dia memandang TBY tidak sekadar sebagai tempat pamer, melainkan laboratorium kreatif yang mengakomodir ragam disiplin dan kebutuhan komunitas.

Ia menegaskan bahwa Nandur Srawung termasuk agenda strategis untuk mewujudkan visi TBY sebagai wadah kolaboratif. 

“Kalau pamer seni kita dorong hingga keluar ruang—ke taman, ke luar batas gedung—itu supaya relasi antara manusia dan alam kembali disadarkan,” ujarnya, terkait konsep Art Garden dalam NS XII.

Gerak Publik: Menyatukan Indra dan Kesadaran

Kali ini NS XII tidak hanya menggelar pameran pasif. Melalui rangkaian aktivitas seperti Nandur Waras (aktivasi partisipatif), Nandur Gawe (open studio kreatif), dan Srawung Sinau (performance lecture), publik diajak bukan sekadar melihat, tetapi “melangkah dan mengalami”.

Di NS XII Lab, seniman seperti Dyah Retno dan Devi Nur Safitri membawa ide mentah mereka ke hadapan publik dan mentor. Proses di balik layar itu dihadirkan agar pengunjung menyaksikan kerumitan “kelahiran karya seni”.

Program harian seperti tur, lokakarya, dan gelar wicara diharapkan membuka pintu dialog seni—menjadi kanal di mana ide, pertanyaan, dan kesadaran tumbuh bersama.

Dalam pembukaan resmi, penghargaan Lifetime Achievement diberikan kepada Yustina Neni, sedangkan Jessica Delaren menorehkan penghargaan Young Rising Artist sebagai jembatan generasi baru. (*)