Membangun Infrastruktur Desa di Bantul dengan Program Padat Karya
Program padat karya pengembangan potensi desa merupakan bukti kehadiran pemerintah.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Bantul akan melaksanakan program padat karya pengembangan potensi desa yang bersumber dari Dana Keistimewaan (Danais) DIY mulai 18 Mei hingga 3 Juni 2026 atau selama 12 hari masa pekerjaan.
Ada 60 titik lokasi untuk pelaksanaan program ini, dengan anggaran setiap titik Rp 55 juta dan bersifat pemberdayaan masyarakat, sehingga kelompok masyarakat (Pokmas) yang akan melaksanakan pekerjaannya. Pada setiap titik, jumlah pekerja 34 orang terdiri dari 2 ketua kelompok, 2 tukang, 30 pekerja.
Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja, Perluasan Kesempatan Kerja dan Transmigrasi, Disnakertrans Bantul, Agung Kurniawan SH, mengatakan bahwa program padat karya pengembangan potensi desa merupakan bukti kehadiran pemerintah dalam mengatasi permasalahan pengangguran, perekonomian sekaligus pemerataan pembangunan infrastruktur desa, seperti jalan cor blok, talud, drainase dengan melibatkan tenaga kerja lokal.
“Dengan program padat karya maka akan membantu tersedianya infrastruktur di pedesaan dan memudahkan mobilitas masyarakat dalam berbagai bidang. Misal pendidikan, kesehatan, ekonomi dan kegiatan yang lain,” kata Agung.
Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja, Perluasan Kesempatan Kerja dan Transmigrasi, Disnakertrans Bantul, Agung Kurniawan SH. (disnakertrans bantul)
Kegiatan ini juga bertujuan mengurangi angka tingkat pengangguran maupun setengah penganggur, meskipun sifat pekerjaannya relatif singkat. Peningkatan perekonomian melalui pemberian uang perangsang kerja bagi masyarakat yang terdaftar sebagai pekerja, merupakan stimulan dalam menggerakan perekonomian di wilayah penerima manfaat program ini.
Melalui pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaannya, diharapkan dapat memperkuat semangat gotong royong, yang merupakan jati diri bangsa Indonesia. dalam mengatasi permasalahan bersama.
“Kalau ada program padat karya maka ada perputaran ekonomi di wilayah tersebut,” kata Agung. Dengan program ini juga menekankan kerja sama antar-warga, mempererat solidaritas dan menumbuhkan kepedulian sosial kepada sesama.
Karena kegiatan padat karya pengembangan potensi desa ini bersifat inklusif, jadi semua warga masyarakat dengan kriteria penganggur, setengah penganggur dan warga miskin, baik laki-laki, perempuan serta penyandang disabilitas dapat menjadi pekerja padat karya.
Sesuai spek
“Dalam pelaksanaan padat karya pengembangan potensi desa, kita selalu menjaga kualitas bangunan. Maka warga atau pelaksana diwajibkan mengikuti spesifikasi teknis dari Disnaker Bantul. Harus sesuai dengan spek yang telah ditentukan,” katanya.
Dirinya berharap pelaksanaan padat karya akan berjalan lancar sesuai jadwal yang ditentukan dan dapat mengurai permasalahan pengangguran, perekonomian dan infrastruktur, yang diperlukan masyarakat dalam meningkatkan potensi wilayahnya menuju kesejahteraan yang lebih baik. (adv)
Sariyati Wijaya
