Hanung Bramantyo Angkat Kisah Sepatu Hilang Jadi Film Keluarga

Sengaja mengambil latar masa lalu tanpa teknologi modern agar penonton kembali melihat nilai-nilai keluarga secara lebih jernih.

Hanung Bramantyo Angkat Kisah Sepatu Hilang Jadi Film Keluarga
Screening film Children of Heaven di XXI Yogyakarta, Rabu (20/5/2026). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Kolaborasi dunia perfilman dan gerakan dakwah budaya mengemuka melalui film keluarga terbaru garapan sutradara Hanung Bramantyo yang diproduksi oleh MD Pictures. Film ini merupakan adaptasi dari karya legendaris Children of Heaven dengan judul sama yang mengisahkan perjuangan dua anak dari keluarga sederhana setelah kehilangan sepatu sekolah.

Film yang dijadwalkan tayang 27 Mei 2026 tersebut mengangkat cerita tentang dua saudara yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan harus menyembunyikan hilangnya sepatu dari orang tua mereka. Kisah sederhana ini justru menjadi potret kuat tentang kejujuran, pengorbanan dan kasih sayang dalam keluarga.

Sutradara Hanung Bramantyo dalam screening film di XXI Empire Yogyakarta, Rabu (20/5/2026) mengatakan film ini sengaja mengambil latar masa lalu tanpa teknologi modern agar penonton kembali melihat nilai-nilai keluarga secara lebih jernih.

Menurutnya, persoalan hidup sebenarnya tidak berubah dari masa ke masa. Yang membedakan adalah cara manusia menyikapinya. “Masalah hidup selalu ada sejak dulu sampai sekarang. Yang membuat manusia bermartabat adalah bagaimana kita menyelesaikan masalah itu,” katanya.

Realitas sosial

Hanung menambahkan, cerita tentang sepatu yang hilang bukan sekadar persoalan benda, tetapi menggambarkan realitas sosial yang masih banyak terjadi di masyarakat.

“Bagi sebagian keluarga, sepatu mungkin terlihat sederhana. Tapi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, sepatu bisa menjadi simbol harga diri ketika mereka pergi ke sekolah,” ujarnya.

Dalam proses produksinya, MD Pictures melalui perwakilan produser Firdausi menilai cerita tersebut sangat relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Kisah perjuangan anak-anak dalam keterbatasan justru menjadi kekuatan emosional film.

“Cerita ini sederhana, tapi sangat kuat. Banyak keluarga di Indonesia yang bisa merasa dekat dengan kisahnya,” katanya.

Sarana dakwah

Ketua Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiah, Gunawan Budianto, menilai film dapat menjadi medium penting menyampaikan nilai-nilai moral dan kebudayaan kepada masyarakat luas. Muhammadiyah terbuka terhadap perkembangan seni dan budaya, termasuk film, sebagai sarana dakwah yang relevan dengan generasi muda.

“Media seni dan budaya, termasuk film, bisa menjadi cara efektif untuk menyampaikan pesan moral dan nilai kemanusiaan kepada masyarakat,” ujarnya.

Kolaborasi antara sineas dan organisasi masyarakat ini diharapkan mampu menghadirkan film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan refleksi sosial.

Lewat kisah sederhana tentang sepatu yang hilang, film tersebut mencoba mengingatkan kembali mengenai empati, kejujuran dan kepedulian keluarga tetap menjadi nilai yang relevan di tengah perubahan zaman. (*)