Dongeng Petualangan Tukik Tumbuhkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini

Petualangan perdana sang tukik hampir gagal karena terhalang tumpukan sampah plastik

Dongeng Petualangan Tukik Tumbuhkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini
Tim Pengabdian kepada Masyarakat UMBY membagikan buku Perjalanan Pertama Tukik, untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Mengajarkan kepedulian lingkungan pada anak-anak tidak harus lewat instruksi yang kaku. Inilah yang dilakukan Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) yang memilih cara yang lebih menyentuh dan mudah dipahami anak-anak yakni melalui mendongeng tentang perjuangan hidup seekor bayi penyu atau tukik.

Ketua Tim PkM UMBY, Dr Triana Noor Edwina Dewayani Soeharto, dalam siaran pers ke koranbernas.id, Minggu (31/5/2025), menjelaskan kegiatan edukatif ini digelar di Omah Kebon Bintang Sedayu Bantul, Sabtu (23/5/2026) pekan lalu.

Sebanyak 12 anak dan 3 fasilitator didampingi dua mahasiswa UMBY tampak antusias mengikuti jalannya acara. "Program ini diinisiasi oleh tim dosen Fakultas Psikologi UMBY, saya sebagai ketua," katanya. Adapun anggotanya adalah Dr Muhammad Wahyu Kuncoro dan Ranni Merli Safitri Ph D.

Dalam kegiatan tersebut, salah seorang fasilitator, Bunda Tika, didampingi tim pengabdi membacakan buku cerita bertema alam berjudul Perjalanan Pertama Tukik. Buku ini merupakan karya khusus yang lahir dari rangkaian program peringatan Hari Bumi tahun 2026.

Terhalang sampah

Anak-anak mendengarkan dengan antusias kisah perjuangan hidup mati seekor tukik yang dimulai dari menetas di sarang pasir hingga berhasil mencapai laut lepas. Dalam ceritanya, petualangan perdana sang tukik hampir gagal karena terhalang tumpukan sampah plastik seperti botol, kantong, gelas dan sedotan di sepanjang pantai. Beruntung, tukik tersebut berhasil lolos dari jebakan sampah.

Triana Noor Edwina menjelaskan membacakan buku cerita bertema alam merupakan strategi psikologis yang efektif untuk menumbuhkan literasi lingkungan sejak dini.

"Literasi lingkungan bukan sekadar tahu teori, tapi membangun kesadaran dan kepedulian. Melalui cerita ini, anak-anak diajak merasakan langsung dampak buruk sampah plastik bagi makhluk hidup lain. Harapannya, empati ini terbawa hingga mereka dewasa dan terwujud dalam tindakan nyata menjaga kelestarian bumi," jelas Triana.

Usai sesi mendongeng, anak-anak diajak berinteraksi lewat sesi tanya-jawab interaktif mengenai petualangan penyu kecil tersebut. Tim PkM UMBY membagikan buku cerita Perjalanan Pertama Tukik agar bisa dibaca kembali oleh anak-anak.

Isu lingkungan

Apresiasi tinggi datang dari Sri Sutariyah M Psi, fasilitator Omah Kebon Bintang. Menurutnya, metode ini sangat memudahkan anak-anak memahami isu lingkungan yang kompleks.

“Melalui karakter tukik yang menggemaskan, anak-anak lebih mudah paham mengapa kita harus menghemat plastik dan menjaga kebersihan pantai. Ini sangat menginspirasi mereka untuk mencintai alam,” ungkap Sri.

Kegiatan PkM UMBY tidak berhenti di ruang kelas. Pada akhir Mei ini, tim dosen bersama anak-anak dan fasilitator Omah Kebon Bintang dijadwalkan turun langsung ke Pantai Goa Cemara Bantul untuk melakukan aksi pelepasan tukik ke laut lepas. (*)