Dari Kotabaru Generasi Muda Mengenal Sejarah Intelijen dan Sandi

Awal kemerdekaan, sejumlah kantor persandian dan intelijen negara pernah beroperasi di wilayah tersebut. 

Dari Kotabaru Generasi Muda Mengenal Sejarah Intelijen dan Sandi
Peserta Jelajah Persandian dalam rangka Peringatan Hari Persandian ke-80 di kawasan Kotabaru, Selasa (7/4/2026). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Peringatan Hari Persandian ke-80 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diisi berbagai kegiatan edukatif. Salah satunya jelajah sejarah persandian di kawasan Kotabaru, Selasa (7/4/2026). Dari Kotabaru, peserta menelusuri jejak sejarah berdirinya persandian Republik` Indonesia (RI) yang pernah berpusat di kawasan tersebut pada masa awal kemerdekaan.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika DIY sekaligus Ketua Forum Komunikasi Siber dan Sandi DIY, Hari Edi Tri Wahyu Nugroho, mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Persandian yang jatuh setiap 4 April. "Jelajah sejarah ini sekaligus menjadi agenda penutup dari serangkaian kegiatan yang sebelumnya telah digelar," ujarnya.

Peserta berasal dari berbagai unsur tergabung dalam Forum Komunikasi Siber dan Sandi DIY. Di antaranya perwakilan Diskominfo kabupaten/kota se-DIY, pemerintah daerah, TNI, Polri, Badan Intelijen Negara daerah, Akademi Angkatan Udara serta sejumlah instansi.

Menurutnya, kawasan Kotabaru dipilih karena memiliki nilai historis penting dalam perjalanan persandian Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan, sejumlah kantor yang berkaitan dengan persandian dan intelijen negara pernah beroperasi di wilayah tersebut.

Beberapa titik

“Setelah rangkaian kegiatan sebelumnya, hari ini kita melakukan jelajah sejarah persandian di wilayah Kotabaru. Di kawasan ini ada beberapa titik yang memiliki sejarah penting terkait persandian,” ujarnya.

Sementara Kepala Museum Sandi, Setyo Budi Prabowo, menjelaskan peserta mengunjungi sekitar lima lokasi yang berkaitan dengan aktivitas persandian pada masa awal berdirinya Republik Indonesia. Rute perjalanan dimulai dari Museum Sandi, dilanjutkan ke beberapa titik bersejarah di kawasan Kotabaru.

Salah satu titik yang ditelusuri adalah lokasi kantor Kementerian Pertahanan Bagian B yang pada masa itu menangani bidang intelijen. Kantor tersebut berada di kawasan Kotabaru dan memiliki keterkaitan langsung dengan awal berdirinya lembaga persandian negara.

Selanjutnya, peserta menelusuri lokasi bekas kantor persandian yang pernah berada di Jalan I Dewa Nyoman Oka Nomor 32. Lokasi ini menjadi salah satu pusat aktivitas persandian sebelum masa Agresi Militer Belanda.

Jembatan Gondolayu

"Rute perjalanan juga melewati kawasan Jembatan Gondolayu hingga menuju Monumen Sanapati yang berada di depan Gereja Santo Antonius Kotabaru sebelum kembali ke Museum Sandi," jelasnya.

Pada periode 1946 hingga 1948 sejumlah kantor persandian memang berada di kawasan Kotabaru. Jelajah sejarah ini diharapkan dapat membantu masyarakat memahami bagaimana peran wilayah tersebut dalam perjalanan sejarah keamanan komunikasi negara.

“Kita ingin ada estafet pemahaman sejarah. Harapannya generasi muda mengetahui bahwa Yogyakarta memiliki peran penting dalam sejarah persandian Indonesia,” katanya.

Dia menambahkan, pemahaman terhadap sejarah persandian juga berkaitan dengan kesadaran terhadap pentingnya keamanan informasi di masa kini.

Menjaga rahasia

Menurutnya, filosofi persandian pada dasarnya adalah menjaga kerahasiaan dan keamanan informasi negara. Hal tersebut menjadi semakin relevan di era digital yang sarat dengan tantangan keamanan siber.

Kegiatan tur sejarah ini tidak hanya digelar dalam momentum peringatan Hari Persandian, tetapi juga secara rutin dibuka untuk masyarakat umum. Museum Sandi secara berkala menyelenggarakan program tur sejarah di kawasan Kotabaru yang mengangkat berbagai tema, termasuk jejak intelijen dan persandian di Yogyakarta.

“Tur ini sebenarnya juga dibuka untuk umum. Biasanya dalam satu bulan kami menyelenggarakan dua kali kegiatan dengan tema yang berbeda,” ujarnya.

Peserta dipandu oleh edukator museum yang menjelaskan berbagai lokasi bersejarah beserta peristiwa yang pernah terjadi di tempat-tempat tersebut.

Kantor intelijen

Menurut Setyo, Kotabaru memang memiliki banyak bangunan yang pernah digunakan sebagai kantor intelijen maupun tempat tinggal tokoh penting di bidang keamanan negara.

Salah seorang tokoh yang memiliki keterkaitan dengan kawasan tersebut adalah Zulkifli Lubis, yang dikenal sebagai salah satu tokoh intelijen Indonesia dan pernah tinggal di wilayah Kotabaru.

“Kotabaru ini memang menyimpan banyak sejarah, termasuk terkait aktivitas intelijen dan persandian pada masa awal kemerdekaan,” jelasnya.

Setyo menambahkan, keberadaan Museum Sandi juga memiliki posisi penting secara internasional. Museum ini menjadi satu-satunya museum yang secara khusus mengangkat tema kriptografi di kawasan Asia.

Beberapa negara

Di dunia, museum dengan tema serupa baru dimiliki oleh beberapa negara. Di Amerika Serikat, museum kriptografi berada di bawah lembaga intelijen National Security Agency. Sementara di Inggris, museum serupa berada di bawah lembaga intelijen Government Communications Headquarters.

"Indonesia kemudian menjadi negara berikutnya yang memiliki museum dengan tema kriptografi melalui Museum Sandi di Yogyakarta," ungkapnya.

Setyo menyebutkan museum ini pernah menjadi rujukan bagi negara lain yang ingin mengembangkan museum serupa. Pada 2019, delegasi dari Rusia sempat berkunjung ke Museum Sandi untuk mempelajari konsep pengelolaannya. “Setelah itu mereka kemudian membangun museum kriptografi di Moskow dan mulai dibuka pada 2021,” katanya.

Dia berharap keberadaan Museum Sandi dapat terus menjadi sarana edukasi sejarah sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keamanan informasi.

Berita rahasia

Sejarah persandian Indonesia sendiri bermula pada 4 April 1946 ketika Menteri Pertahanan saat itu, Amir Sjarifuddin, memberikan mandat kepada Roebiono Kertopati untuk membentuk unit yang menangani pengamanan berita rahasia negara.

Unit tersebut kemudian berkembang menjadi lembaga persandian Republik Indonesia. Sejak saat itu, tanggal 4 April diperingati sebagai Hari Persandian Nasional. (*)