Dari Garasi ke Panggung Regional, Perjalanan Kreatif Angga Dwimas Sasongko CEO Visinema

Dari kantor garasi itu, skenario Hari untuk Amanda diproduksi dan menjadi tonggak awal perjalanan panjangnya.

Dari Garasi ke Panggung Regional, Perjalanan Kreatif Angga Dwimas Sasongko CEO Visinema
CEO Visinema, Angga Sasongko, menyampaikan penjelasan dalam diskusi JAFF Market di JEC Yogyakarta, Sabtu (29/11/2025). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Berawal dari garasi, kini menjadi CEO Visinema, salah satu production house yang besar di Indonesia. Adalah Angga Dwimas Sasongko yang tak hanya membangun dari awal Visinema namun juga mengubah lanskap industri film Indonesia.

Tahun 2008, modalnya hanya Rp 5 juta, satu garasi kosongan, dua meja jati dari gudang ayahnya yang tukang kayu dan satu keyakinan bekerja untuk dirinya sendiri. Dari ruang sempit itulah Wisnu Pictures yang kelak menjelma menjadi Visinema lahir.

“Saya bukan orang yang gampang masuk industri film,” ujarnya dalam diskusi JAFF Market di JEC Yogyakarta, Sabtu (29/11/2025).

Sejak SMA dia sibuk membuat film, kemudian menghabiskan masa remaja magang dari satu produksi ke produksi lain, mengikuti sutradara demi sutradara. Dia tumbuh di komunitas kecil bernama Kinad 28, tempat para filmmaker bertemu dan berdiskusi.

Film mapan

Di situlah Angga memberanikan diri menawarkan tenaga, belajar dari percakapan, dan menyerap ritme kerja para pembuat film mapan. Pada satu titik setelah SMA, dia merasa aneh bekerja untuk orang lain.

“Pinginnya kerja buat diri sendiri. Lalu saya mencetak kartu nama bertuliskan sutradara meski belum benar-benar menjadi sutradara," ungkapnya.

Kariernya tidak lahir dari kepercayaan diri, melainkan dari kenyataan bahwa dirinya tak punya pilihan lain. Akademiknya tidak bersinar. Bertahan hidup saja sudah pujian. Film menjadi arah hidup yang menemukan dirinya.

Kesempatan datang ketika skenario tulisannya, Hari untuk Amanda, diminati sebuah konglomerasi media. Ketika mereka meminta bentuk entitas resmi, Angga tak punya apa-apa. Dengan uang di rekening hanya Rp 5 juta, dia menyewa garasi teman seharga Rp 1 juta per bulan, mencicil biaya notaris dan berdirilah Wisnu Pictures.

Awal perjalanan

Dari kantor garasi itu, skenario Hari untuk Amanda diproduksi dan menjadi tonggak awal perjalanan panjangnya. Nyatanya, modal dasar perusahaan baru benar-benar disetor delapan tahun kemudian pada 2016, saat perusahaan diaudit karena masuknya investor baru. Tapi keterlambatan itu justru menunjukkan bagaimana semua dimulai dari nol yang sesungguhnya.

Dari Hari untuk Amanda, Cahaya dari Timur, Filosofi Kopi, Surat dari Praha, NKTCHI, Keluarga Cemara, hingga Mencuri Raden Saleh, satu pola yang dibangun menjadi semakin jelas: perusahaan film tidak boleh bergantung pada satu orang.

Dia mengkritik pola lama industri film Indonesia perusahaan yang seluruh keputusannya terpusat pada satu figur. “Itu bukan perusahaan. Itu entitas usaha untuk seseorang,” ujarnya.

Visinema, menurutnya, harus menjadi platform tempat kreator bisa tumbuh. Sistem harus cukup kuat sehingga ketika dirinya tidak ada, perusahaan tetap hidup bahkan lebih besar dari sebelumnya. Karena itu dia menanamkan prinsip, yakni produk Visinema bukan film melainkan talent.

Percaya sistem

Ia pun memberi ruang bagi ide-ide lahir dari produser lain, seperti Love for Sale, Terlalu Tampan, hingga Jumbo. Ia bahkan tidak membaca skenario Nawila atau Suka Duka Tawa, namun bukan abai, tetapi percaya pada sistem dan talent yang dibangun.

“Yang saya urusin cuma sistemnya bagaimana mereka bisa produksi sehat, punya struktur investasi, pendanaan kuat, distribusi rapi,” jelasnya.

Sebagai CEO, Angga mengambil keputusan strategis tanpa harus menyetir kreativitas. Bahkan film animasi Jumbo ia tonton pertama kali di gala premiere tetapi dirinya yang memastikan timnya dapat waktu tambahan setahun agar film itu matang.

Baginya, leadership bukan soal menghasilkan film bagus, tapi menghasilkan great leaders. Itulah alasan sistem Visinema mendorong talent untuk tumbuh, berbuat salah, lalu belajar melalui proses yang panjang. Ia mengulang keyakinannya bila investasi terbesar adalah investasi pada manusia. “Produk Visinema itu talent. Film itu hanya hasil eksekusi dari investasi pada orang-orangnya,” ungkapnya.

Level regional

Perusahaan itu tumbuh layaknya manusia. Dari production house, Visinema berkembang menjadi film company, kemudian IP company dan hari ini menjadi Indonesian Storytelling Powerhouse. Karena baginya, inti bisnis Visinema bukan film, melainkan cerita.

Dengan itu, ia menyatukan berbagai kepala di Visinema menuju visi tunggal. 17 tahun silam, tujuannya sederhana cukup untuk membayar kos bulan depan.

Namun hari ini, mercusuarnya jauh lebih tinggi. Dia membawa Indonesia ke panggung level regional. Perjalanan itu tidak dijalani sendiri melainkan mengajak investor, produser, kolaborator, hingga talent masuk dan menyusun ambisi kolektif. Dari mimpi membeli komputer bekas di Jati Padang, Visinema kini menargetkan panggung yang lebih luas.

“Kalau cuma saya, ukuran suksesnya kecil, bisa bayar kos, beli rumah, belikan rumah orang tua. Tapi ketika banyak kepala dan ambisi bersatu, ukuran itu harus jadi ambisi kolektif,” katanya. (*)