Congkak dan Tragedi Kemanusiaan

Oleh: Sudjito Atmoredjo

Pada ranah nasional, dalam uraian singkat dan padat, tragedi kemanusiaan dapat dijelaskan dengan melihat bahwa tatanan kehidupan bernegara telah rusak. Kerusakan, bermula dari ulah (pemikiran, sikap, dan perilaku) oknum-oknum politikus sekuler yang sok demokratif. Nilai-nilai moralitas-religius pada Pancasila ditinggalkan. Mereka mengumbar nafsu keserakahan. Seolah paling benar dalam segalanya. Melalui partai politik dan lembaga politik (DPR khususnya), hukum diubah fungsinya dari instrumen untuk mewujudkan keadilan (justice) menjadi alat kekuasaan. Rakyat dibodohkan dan dimiskinkan agar saat Pemilu atau Pilkada mudah dimainkan/dikuasai demi kemenangannya. Bersama dengan oligarki, sumber daya alam dikuras demi keuntungan pribadi, keluarga, dan kelompok. Koruptor dibiarkan lepas dari jeratan hukum, tanpa alasan yang jelas.

Congkak dan Tragedi Kemanusiaan
Sudjito Atmoredjo. (istimewa).

HARI-HARI ini, tragedi kemanusiaan secara masif terjadi pada skala nasional maupun global. Artikel ini mencoba menganalisis dua tragedi tersebut dari perspektif moralitas-religius. Perspektif ini, hemat saya, penting dan selalu relevan sepanjang waktu, relevan untuk semua tragedi, dan relevan demi diperolehnya sinar terang dari gelapnya kehidupan dunia. 

Pada ranah nasional, dalam uraian singkat dan padat, tragedi kemanusiaan dapat dijelaskan dengan melihat bahwa tatanan kehidupan bernegara telah rusak. Kerusakan, bermula dari ulah (pemikiran, sikap, dan perilaku) oknum-oknum politikus sekuler yang sok demokratif. Nilai-nilai moralitas-religius pada Pancasila ditinggalkan. Mereka mengumbar nafsu keserakahan. Seolah paling benar dalam segalanya. Melalui partai politik dan lembaga politik (DPR khususnya), hukum diubah fungsinya dari instrumen untuk mewujudkan keadilan (justice) menjadi alat kekuasaan. Rakyat dibodohkan dan dimiskinkan agar saat Pemilu atau Pilkada mudah dimainkan/dikuasai demi kemenangannya. Bersama dengan oligarki, sumberdaya alam dikuras, demi keuntungan pribadi, keluarga, dan kelompok. Koruptor dibiarkan lepas dari jeratan hukum, tanpa alasan yang jelas.

Pada ranah global, tragedi kemanusiaan, terlihat pada perang antara Rusia versus Ukraina belum berakhir. Pada saat demikian, justru perang antara Israel-AS melawan Iran, berkecamuk. Bagi Israel, invasi terhadap negara lain, adalah hal yang sah baginya, sesuai dengan doktrin Israelraya, Israellimitless atau Israelboundless. Bila bisa, dan hal ini terus diupayakan, seluruh kawasan Timur-Tengah akan dikuasainya.

Bagi AS, ikut menguasai Timur-Tengah menjadi penting, agar ketersediaan BBM terjamin. Setelah secara sadis Presiden Venezuela ditangkap dan diadili di Amerika, kini pasokan BBM dari Venezuela dianggap aman. Akan tetapi, dalam keserakahannya, AS merasa perlu memanfaatkan situasi konflik di Timur Tengah untuk terlibat dalam perang melawan Iran. Bila menang, cukup alasan bagi AS untuk menguasai ladang-ladang minyak di Iran,

Akibat perang, banyak korban manusia. Banyak pula, infrastruktur, dan instalasi vital hancur-lebur. Dampak buruk dari perang telah menguncang stabilitas politik, ekonomi, dan peradaban berbagai negara dan wilayah budaya. Pemimpin negara, seperti: Putin, Donal Trump, Netanyahu, Xi Jinping, pegang peranan untuk pengendalian perang. Tetapi mereka bersikap sesuai kepentingannya saja. Presiden Prabowo, berniat mau terlibat sebagai juru damai, tetapi ditolak oleh Iran.

Ketika perang berlangsung/terjadi, strategi, teknologi, dan keahlian penggunaan senjata, rudal, dan alat perang lainnya menjadi dominan. Dalam perang, kekuatan menjadi amat penting. Siapa kuat, maka dialah pemenangnya. Saat perang berlangsung, tidak berguna lagi untuk berbicara tentang hukum (nasional maupun internasional). Bahkan lembaga PBB pun tak berdaya. Apalagi peran negara/Presiden negara kecil. Amat diremehkan.

Dilihat dari perspektif moralitas-religius, sebenarnya keseluruhan tragedi tersebut (nasional dan global) berakar pada sikap tercela beberapa manusia (penguasa), yakni congkak. Kecongkakan seorang pemimpin negara (khususnya presiden) dan manifestasinya berupa arogansi kebijakan (policy) berdampak buruk terhadap rakyat, hingga penduduk Bumi dan alam semesta. Kehidupan tenang dan damai, telah lenyap, dan serta-merta tergantikan was-was, dan penderitaan lahir-batin. Para pemimpin, dengan kecongkakannya, telah menjadi predator (pemangsa) terhadap ekosistem dan keseimbangan kehidupan bersama.

Telah dipahami bersama bahwa congkak (sombong/takabur) adalah sikap tercela yang sangat dibenci oleh semua makhluk maupun al-Khalik. Sungguh keliru, amoral, dan sesat pikir ketika seseorang menganggap dirinya paling benar dalam sikap dan perilakunya, serta-merta orang lain dipaksa mengikuti kehendaknya. Betapa telah jelas adanya peringatan bahwa manusia dilarang memalingkan wajah dan berjalan di bumi dengan angkuh/congkak. Dalam bingkai moralitas-religius, pada insan beriman senantiasa sadar bahwa pada dirinya melekat kedhaifan (kelemahan) baik fisik maupun rohani. Dalam kesadaran demikian, maka hati-nurani dan akal sehat menuntun agar kebersatuan antara insan satu dengan lainnya dibangun, melalui sinergitas, kolaborasi, saling mengisi, dan saling melengkapi.

Sungguh tak patut seseorang pemimpin memerintahkan bala-tentara, dan menteri-menterinya ikut-serta menggunakan kekuasaan dan kekuatan, untuk menembus bumi dan melanglang langit, sementara kehidupan internal (dalam negeri) dalam kondisi carut-marut, kurang/tidak tertangani dengan baik. Untuk diingat bahwa rakyat merupakam subjek yang memiliki hak hidup, dan perlu dijamin kehidupannya. Wawasan kemanusiaan dan wawasan sosial-kebangsaan  justru perlu dikedepankan.

Ajaran bijak telah mengingatkan tentang tiga hal yang dapat membinasakan kehidupan, yakni: (1) sikap congkak, (2) nafsu serakah, dan (3) kultus individu.

Syekh Abdul Al-Khaliq (2003), dalam buku Biarkan Dirimu Tumbuh Sempurna: Metode Sufi Mencerdaskan Jiwa, menjelaskan bahwa sifat congkak dapat muncul ketika seseorang membayangkan dirinya memiliki sejumlah kesempurnaan, baik berupa pengetahuan maupun perilaku. Terkadang, sifat ini erat kaitannya dengan harta, kedudukan, dan jabatan. Sikap congkak ekstrem, terlihat saat dirinya berinterkasi dengan manusia lain, senantiasa memosisikan dirinya  sebagai subyek, sementara lainnya diposisikan sebagai obyek belaka. Lebih dari itu, Tuhan pun dilecehkan, seolah gak ada, dan tak perlu diperhatikan perintah dan larangannya.

Didorong nafsu keserakahan untuk bertahta selama mungkin, kecongkakan berkembang sampai pada tingkatan kedzaliman, yakni, hilangnya sense of belonging dan sense of crisis. Orang-orang seperti ini tidak memiliki empati, asertivitas, dan simpati. Mereka tega membunuh orang lain tanpa sebab yang jelas. 

Pertanyaan mendasar, mengapa kecongkakan meraja-lela, dan bagaimana pengendaliannya? Dalam buku Psikoterapi Islam, dijelaskan oleh Khairunnas Rajab (2019) bahwa berkembang-biaknya sifat congkak, terpulang pada dua sebab, yakni: (1) Pada setiap manusia ada potensi rohani untuk menjadi orang congkak, pun pula menjadi orang tawadhu’. Potensi mana yang berkembang tergantung, niat, kehendaknya. Adalah setiap manusia yang berkehendak menjadi manusia tawadhu’. Tetapi tak jarang kegagalan dijumpanya, sehingga kocongkakan yang berkembang-biak. (2) Pada seorang pemimpin, selain bawaan pribadi, kecongkakan bisa muncul karena lingkungan. Anak buah, dan orang-orang terdekat, selalu mengkultuskannya, menyanjungnya, dan menjilat, demi keuntungan pribadi.

Kondisi di ranah nasional maupun global, tampaknya dua sebab di atas masih dominan. Untuk membasmi kecongkakan dan menggantikannya dengan tawadhu’, perlu pembenahan secara menyeluruh/total. Program pembangunan character, kemanusiaan, dan kebangsaan, perlu digiatkan kembali. Dalam bingkai nasionalisme, penanaman nilai-nilai Pancasila perlu diselenggarakan secara masif. Wallahu’alam. **

Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.

Guru Besar pada Sekolah Pascasarjana UGM