Band SMARAI Merilis Album Perdana “Semai”

Memilih memperkenalkan diri kepada publik dengan cara yang tidak biasa.

Band SMARAI Merilis Album Perdana “Semai”
SMARAI Band asal Jogja yang baru saja meluncurkan album perdana. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Pada sebuah ruang kelas sederhana, Abdul berdiri di depan murid-muridnya. Dia seorang guru honorer dengan hidup yang nyaris runtuh. Gaji kecil, kontrakan menunggak, rumah tangga berantakan. Namun setiap pagi, dia tetap datang mengajar dengan senyum yang tidak sepenuhnya hilang.

Kisah Abdul bukan sekadar cerita dalam film pendek. Dia menjadi wajah dari banyak orang yang diam-diam sedang bertahan. Lewat cerita itu, band asal Yogyakarta, SMARAI, memilih memperkenalkan diri kepada publik dengan cara yang tidak biasa. Tidak hanya melalui musik tetapi juga lewat film yang berbicara tentang hidup sehari-hari.

Tepat pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026, SMARAI merilis album perdana bertajuk Semai. Album berisi sembilan lagu itu diluncurkan bersamaan dengan peluncuran film pendek untuk single kedua mereka, Optimis.

Pemilihan tanggal rilis bukan keputusan acak. Ada pesan yang ingin mereka titipkan. “Pemilihan guru honorer itu dekat sekali dengan realitas hari ini,” ujar Bagoes Kresnawan, sutradara film pendek Optimis sekaligus personel SMARAI dalam keterangan tertulisnya, Kamis (6/5/2026).

Bukan hiburan

“Aku langsung kepikiran profesi guru honorer karena dari liriknya bisa sangat luas, dan profesinya masih selalu tersorot dengan segala problematikanya,” lanjutnya.

Bagi SMARAI, lagu bukan hanya soal romantisme atau hiburan. Mereka ingin musik punya ruang untuk berbicara tentang kegelisahan yang nyata tekanan ekonomi, keluarga, karier hingga kesehatan mental.

Hal itu terasa kuat dalam Optimis, lagu ciptaan Agib Tanjung, jurnalis sekaligus session player yang kini resmi bergabung dengan SMARAI.

Lagu tersebut dibangun perlahan. Dimulai dari nuansa yang tenang dan reflektif, lalu tumbuh menuju ledakan emosi yang hangat. Seperti seseorang yang perlahan bangkit setelah lama jatuh.

Dekat kehidupan

“Lagu ini adalah lagu untuk kita semua. Tidak menafikan kesedihan, tidak menyangkal kegagalan, tapi justru merayakan keberanian untuk berdiri di tengah badai dan memilih tetap melangkah,” kata Agib.

Dia sengaja menulis lirik yang dekat dengan kehidupan banyak orang. “Kami berharap lagu ini bisa jadi penyemangat. Bahwa hidup memang tidak selalu baik, tapi kita harus punya mental untuk selalu optimis,” ujarnya.

Semangat itu pula yang terasa dalam nama SMARAI sendiri. Band yang terbentuk pada pertengahan 2023 tersebut mengambil nama dari kata semarai yang berarti tumbuh, berkembang dan merekah.

Nama itu kemudian diterjemahkan menjadi Semai, album pertama yang mereka anggap sebagai pijakan awal perjalanan. “Semai kami maknai sebagai langkah awal untuk memulai perjalanan,” kata Dhedot atau Dedy Riyono, personel SMARAI yang juga dikenal sebagai drummer Letto.

Band baru

“Kami ingin membuka pintu rumah kami lebih lebar, memperkenalkan diri secara utuh sebagai band baru yang serius sejak hari pertama terbentuk,” lanjutnya.

Keseriusan itu tampak dari latar belakang para personelnya. Mereka datang dari dunia yang berbeda-beda.

Dhedot masih aktif bersama Letto. Agib bekerja sebagai jurnalis. Bagoes dikenal sebagai sutradara film dan pendiri rumah produksi GAS.ID. Aza Ardito merupakan session player berbagai musisi, sementara Sasi Kirono adalah produser musik yang pernah bekerja dengan Putri Ariani.

Lima orang dengan dunia masing-masing, tetapi bertemu dalam satu titik yang sama membuat karya yang jujur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Berbagai cara

Perjalanan mereka juga dibangun perlahan. Sejak merilis single perdana Ajari Aku pada Oktober 2025, SMARAI aktif membangun komunitas lewat berbagai cara.

Mereka membuat konten Main Bareng yang mengajak banyak kolaborator bernyanyi bersama hingga meraih ratusan ribu penonton di Instagram. Mereka juga menggelar Pentasore saat Ramadan 2026, pertunjukan musik sore hari di tiga lokasi berbeda yang dikerjakan secara mandiri.

Kini, lewat Semai, mereka seperti benar-benar menanam benih pertama. Bukan hanya tentang musik, tetapi tentang harapan yang terus dicoba dirawat, bahkan ketika hidup sedang tidak baik-baik saja. (*)