Andy SW Menyentil Kolega di Parade Pantomim "Sowan" 2026

Antusiasme bocah-bocah yang terpingkal melihat orang dewasa bergulingan dengan lincah menjadi pemandangan menyegarkan.

Andy SW Menyentil Kolega di Parade Pantomim "Sowan" 2026
Penampilan Andy SW dalam lakon Berburu Keadilan pada perhelatan Parade Pertunjukan Pantomim "Sowan". (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Gumaman-gumaman absurd terdengar samar dari deretan kursi penonton, memecah konsentrasi penonton di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta, Sabtu (31/1/2026). Sosok itu adalah Andy SW.

Tanpa aba-aba, dia melepas jaket lantas berjalan membelah kerumunan dan menyihir panggung menjadi arena bermain yang ganjil lewat lakon Berburu Keadilan.

Aksi teaterikalnya mulai dari menyentil kolega hingga merangkak menirukan hewan, menjadi pembuka yang tak terlupakan bagi perhelatan Parade Pertunjukan Pantomim bertajuk Sowan.

Malam itu, Andy SW tidak memilih jalan yang lazim. Dia menolak memulai dari balik sayap panggung yang misterius. Sebaliknya, memilih muncul dari keriuhan kemudian menyeret realitas penonton ke atas pentas.

Inti pertunjukan

Di sela racauan mantra tak utuh yang dirapalkan sepanjang lorong kursi, dia sempat melempar seloroh nakal ke penonton dan Broto Wijayanto, tokoh sentral Rumah Pantomim Yogyakarta. Tawa penonton pecah seketika, sebuah validasi komunal yang menghangatkan suasana sebelum masuk ke inti pertunjukan.

Ketika kakinya menapak panggung, lakon Berburu Keadilan menemukan bentuk utuhnya yang paling subversif. Andy tidak berpidato lantang layaknya aktivis. Dia justru meruntuhkan wibawa tubuh manusianya dengan melakukan gestur zoomorfis: merangkak dan berguling-guling di lantai layaknya seekor kucing peliharaan.

Pilihan artistik ini menawarkan tafsir ganda yang cerdas. Bagi penonton dewasa, tingkah polah ini adalah satire getir, sebuah sindiran demi sekerat keadilan (atau kekuasaan), manusia kadang harus menjilat, merengek dan menjadi oportunis seperti hewan peliharaan. Namun, bagi penonton anak-anak yang memadati baris depan, Andy adalah sirkus kegembiraan.

Antusiasme bocah-bocah yang terpingkal melihat orang dewasa bergulingan dengan lincah menjadi pemandangan yang menyegarkan. Andy berhasil membuktikan bahwa kritik sosial yang berat bisa disampaikan dengan cara yang sangat cair dan menghibur (playful).

Parade keberagaman

Sowan 2026 bukan hanya panggung tunggal Andy SW. Acara ini dirancang sebagai etalase keberagaman gaya pantomim di Yogyakarta. Sederet nama besar turut ambil bagian menciptakan kolase visual yang memukau.

Aktor kawakan Jamaluddin Latif dan Doddy Micro tampil dengan kematangan teknik yang tak diragukan, memperlihatkan kedalaman rasa dari jam terbang yang panjang.

Sementara itu, panggung malam itu juga menjadi ruang pembuktian bagi kekuatan perempuan lewat penampilan Yuristavia, Dinda Afrillia dan Tiaswening Maharsi. Ketiganya membawa narasi tubuh yang berbeda, membuktikan pantomim bukan dominasi maskulin semata.

Penampilan Arief Wicaksono dan Enderiza turut melengkapi spektrum pertunjukan dengan gaya eksploratif yang segar.

Lebih kokoh

Tajuk Sowan dipilih secara filosofis, para seniman ini sedang "berkunjung" kembali ke publik dengan identitas baru. Perhelatan ini menjadi penanda resmi transformasi komunitas Rumah Pantomim Yogyakarta menjadi lembaga berbadan hukum: Yayasan Rumah Pantomim Yogyakarta.

Perubahan status ini diharapkan menjadi payung yang lebih kokoh bagi regenerasi, pengarsipan, dan ekosistem seni gerak di masa depan. Malam itu, di Auditorium IFI-LIP, sejarah baru telah ditulis. (*)