Rumah Pantomim Yogyakarta Gelar Parade Sowan 2026
Zaman ketika semua orang mengakses internet dengan cerewet kita justru butuh pantomim.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Rumah Pantomim Yogyakarta secara resmi mengumumkan transformasi statusnya dari komunitas cair menjadi badan hukum berbentuk yayasan.
Broto Wijayanto, seniman sekaligus perwakilan Yayasan Rumah Pantomim Yogyakarta menjelaskan meski kini berbentuk yayasan, spirit mereka tetap berakar pada konsistensi yang diajarkan oleh mendiang Jemek Supardi.
Parade Sowan 2026 dimeriahkan deretan seniman pantomim kenamaan antara lain Doddy Micro, Yuristavia, Dinda Afrillia, Arief Wicaksono, Jamaluddin Latif dan Enderiza.
Barometer seni
“Acara ini menampilkan 15 seniman lintas generasi dalam satu panggung, menandai babak baru pengabdian mereka pasca-era Maestro Jemek Supardi,” katanya.
Dinu Imansyah, pemerhati seni, menyoroti urgensi kembalinya pantomim di tengah iklim sosial saat ini. Dia menyebutkan pertunjukan ini sebagai antitesis dari era informasi yang serba bising.
"Di zaman ketika semua orang mengakses internet dengan begitu riuh dan cerewet kita justru butuh pantomim. Teman-teman menunjukkan cara memberikan kritik dan menyuarakan rasa melalui gerak, bukan sekadar omon-omon," ujarnya.
Karya kritis
Dia mengapresiasi langkah Rumah Pantomim Yogyakarta yang berhasil memecah "kekeringan" pertunjukan seni di Yogyakarta dalam beberapa bulan terakhir dengan karya yang variatif dan kritis.
Sementara itu, seniman senior Leo Irianus Juhartono atau yang dikenal sebagai Jujuk Prabowo memberikan catatan kritis konstruktif usai menyaksikan parade tersebut.
Meski mengapresiasi komposisi dan teknik yang mulai matang, Jujuk menyatakan pentingnya penguasaan tubuh yang lebih mendalam bagi para pantomimer muda.
"Tolong lebih banyak belajar kelenturan tubuh. Bukan sekadar bisa menari atau akrobatik, tapi kelenturan untuk mewadahi 'keliaran' imajinasi. Kebebasan mengekspresikan gerak harus tetap menemukan keindahan-keindahannya agar tidak mandek," kata Jujuk.
Meyakinkan penonton
Salah seorang seniman yang terlibat malam itu adalah Kinanti Sekar Rahina. Mengenakan baju bergaris hitam putih serta jas hujan putih dan membawa payung hitam, putri mendiang Jemek Supardi ini membawakan repertoar puitis tentang interaksi manusia dengan hujan.
Tanpa air sungguhan, gerak tubuh Sekar, mulai dari sentakan jari saat menyentuh rintik imajiner hingga lompatan menghindari genangan, berhasil meyakinkan penonton akan Gambaran hujan di atas panggung kering.
Penampilannya dimaknai sebagai simbol sowan atau penghormatan kepada sejarah dan doa bagi masa depan yayasan. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
