Warga Potong 10 Kambing dan 828 Ayam, Merti Desa di Petilasan Sunan Kalijaga
Ayam yang berhasil dipotong 824, dua ekor lepas dan dua lainnya mati.
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Warga Desa Kedunglo Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo menggelar Sadranan atau Merti Desa di makam atau petilasan Sunan Kalijaga dan Sunan Geseng.
Merti Desa atau nyadran bagi warga Desa Kedunglo sudah dilakukan secara turun temurun sejak nenek moyang. Pelaksanaan selalu pada bulan Muharram atau Sura (Jawa).
Lokasi makam berada di sebelah kanan Kantor Desa Kedunglo mulai pukul 06:00, Selasa Kliwon (22/7/2025), telah dipadati laki-laki untuk melakukan penyembelihan kambing dan ayam yang akan dimasak untuk selamatan.
Kepala Desa Kedunglo, Misroni, saat ditemui mengatakan Merti Desa dilaksanakan secara rutin setiap tahun. Acara digelar di dua tempat yaitu kulon kali (barat sungai) dan wetan kali (timur sungai).
Kaum laki-laki mengolah ayam untuk dimasak. (wahyu nur asmani ew/koranbernas.id)
"Lokasi yang paling ramai berada di kulon kali di makam Eyang Sunan Kalijaga dan Eyang Sunan Geseng. Lokasi tersebut juga untuk menyembelih kambing dan ayam sekaligus memasak. Lokasi kedua di wetan kali di makam Eyang Munduk Putri. Tempat masak berada di rumah juru kunci," jelasnya.
Dia mengungkapkan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah dilimpahkan khususnya kepada seluruh warga Desa Kedunglo.
Misroni juga berharap doa-doa yang dipanjatkan ditujukan untuk kemajuan dan kemakmuran desa Kedunglo ke depan. "Saat merti desa, kami selaku mengundang Bupati Purworejo,” katanya.
Ini sudah dilakukan sejak Kelik, suami dari Bupati Purworejo Yuli Hastuti. “Setiap tahun jumlah kambing maupun ayam yang dipotong selalu berbeda tergantung sumbangan warga masyarakat. Saya menyumbang ayam empat ekor," jelasnya.
Sekdes Kedunglo (kiri) bersama Ketua Panitia Sadranan, Slamet. (wahyu nur asmani ew/koranbernas.id)
Slamet selaku ketua panitia Sadranan mengatakan sadran adalah mengirimkan doa kepada Sunan Kalijaga, Sunan Geseng serta para leluhur lainnya.
"Pada acara Sadran ini panitia memotong 10 ekor kambing dan 828 ekor ayam. Ayam yang berhasil dipotong 824, karena yang dua ekor lepas dan dua ekor mati. Kambing dan ayam diolah dan dimasak oleh kaum laki dan tidak boleh dicicipi," kata Slamet.
Menurut dia, sadranan merupakan wujud syukur kepada Allah SWT. Harapannya warga Kedunglo dan sekitarnya selalu diberi keselamatan oleh Allah.
Sekretaris Desa Kedunglo, Ngailan, menambahkan saat sadranan dimulai warga berbondong-bondong datang membawa tumpeng. Sadranan atau merti desa dilakukan pada Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon bulan Muharram.
Bergiliran
"Bulan Sura tahun ini dilaksanakan Selasa Kliwon (22/7/2025), kalau ada Jumat Kliwon kita pilih itu, namun karena tidak ada kita pilih Selasa Kliwon," jelasnya.
Sementara itu, Muhammad salah seorang warga yang bertugas memasak menyatakan juru masak bertugas secara bergiliran dan masakan tidak boleh dicicipi. Ada 21 tungku dan juru masak, mereka bekerja secara profesional sesuai aturan yang berlaku.
"Saya tidak ada persiapan khusus, hanya membawa peralatan masak dan bumbu. Saya bertugas di dekat tungku, menjaga api. Ada petugas sendiri untuk membawa daging mentah, memasukkan ke tungku, saya memasaknya, setelah matang ada petugas yang mengangkat," ungkapnya. (*)
Wahyu Nur Asmani EW
