RS JIH Yogyakarta Gandeng Rumah Sakit Anak Terbaik di Eropa
Membuka peluang lebih besar bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan anak di Indonesia.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – RS JIH Yogyakarta menggandeng SJD Barcelona Children’s Hospital, rumah sakit anak rujukan yang menempati peringkat keempat terbaik di dunia dan menjadi salah satu rumah sakit anak terbaik di Eropa.
Kerja sama ini terkait dengan penyakit jantung pada anak yang masih menjadi tantangan besar di dunia medis. Penanganannya membutuhkan teknologi mutakhir, diagnosis yang tepat serta kolaborasi lintas disiplin.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan JIH Medical Elevation 2026 di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Selasa (23/6/2026). Forum ilmiah nasional ini mengangkat tema Global Summit on Pediatric Rare Disease & Cardiac Excellence in Strategic Collaboration SJD Barcelona Children’s Hospital–RS JIH Yogyakarta.
Pakar kardiologi anak dunia, Georgia Sarquella-Brugada MD PhD selaku Head of Pediatric Cardiology Service SJD Barcelona Children’s Hospital membagikan pengalamannya. Namanya dikenal dunia medis setelah memimpin tim yang berhasil memasang alat pacu jantung (pacemaker) terkecil di dunia pada seorang bayi dengan berat hanya 2,1 kilogram.
Solusi standar
"Pacemaker berukuran sekitar dua sentimeter itu menjadi yang terkecil di kelasnya dan memungkinkan detak jantung bayi tetap terkoordinasi dengan baik," jelasnya.
Prosedur yang melibatkan 16 tenaga medis dari berbagai disiplin ilmu serta para insinyur perangkat medis tersebut berhasil menyelamatkan nyawa bayi yang mengalami blok jantung bawaan berat. Setelah menjalani perawatan selama 20 hari, bayi tersebut diperbolehkan pulang dan dapat menjalani kehidupan normal dengan pemeriksaan rutin.
Georgia menambahkan, dunia kardiologi anak sering kali tidak memiliki solusi standar, terutama ketika berhadapan dengan pasien bayi dengan berat badan yang sangat kecil.
“Ketika berbicara tentang bayi seberat dua kilogram, teknologi harus disesuaikan dengan ukuran dan fisiologi tubuh mereka. Kasus ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara dokter dan insinyur dapat menjadi pembeda antara tidak adanya pilihan dan kemampuan menyelamatkan nyawa,” ungkapnya.
Transfer pengetahuan
Menurutnya, inovasi tersebut juga menjadi contoh penting bagaimana kolaborasi dengan industri dan tanggung jawab sosial dapat memberikan solusi bagi kasus-kasus yang jumlah penderitanya sedikit dan tidak memiliki nilai komersial besar.
Sementara Executive Chief Officer RS JIH Yogyakarta, Bambang Pediantoro, menyampaikan penyelenggaraan JIH Medical Elevation 2026 merupakan bagian dari upaya berkelanjutan rumah sakit dalam memberikan layanan kesehatan unggul melalui penguatan kolaborasi internasional, transfer pengetahuan serta peningkatan kompetensi tenaga medis.
“Kolaborasi dengan institusi kesehatan bertaraf internasional menjadi langkah strategis untuk memperluas akses terhadap perkembangan ilmu kedokteran terkini serta mendorong peningkatan mutu layanan bagi masyarakat,” ujarnya.
Forum tersebut diikuti dokter spesialis dan dokter umum dari berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia. Selain menjadi ajang pertukaran pengalaman klinis, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat jejaring profesional antara tenaga kesehatan Indonesia dengan para pakar internasional di bidang kardiologi anak dan penyakit langka.
Peluang besar
Kerja sama resmi antara RS JIH Yogyakarta dengan SJD Barcelona Children’s Hospital diharapkan membuka peluang lebih besar bagi peningkatan kualitas layanan kesehatan anak di Indonesia.
Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan anak yang semakin kompleks, kolaborasi ini menjadi harapan baru agar pasien anak di Indonesia dapat memperoleh penanganan yang setara dengan standar internasional tanpa harus selalu mencari layanan ke luar negeri.
"Transfer ilmu dari pusat layanan pediatrik kelas dunia tersebut diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi dan pendekatan mutakhir dalam penanganan penyakit jantung bawaan maupun gangguan irama jantung pada anak," ungkapnya.
Selain Georgia, dalam forum ini juga dibahas perkembangan terbaru terkait diagnosis dan tata laksana penyakit jantung pada anak oleh dr Oktavia Liyasari Sp JP(K), Pediatric Cardiology and Congenital dari RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, serta dr Erika Maharani Sp JP(K), Ketua Indonesian Heart Rhythm Society (INAHRS).
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (kemenkes) RI, setiap tahun, sekitar 40.000 hingga 45.000 bayi di Indonesia lahir dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Angka ini setara dengan 8 dari setiap 1.000 kelahiran hidup. Dari total tersebut, sekitar 12.000 bayi menderita penyakit jantung kongestif yang membutuhkan penanganan medis segera. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
