wow-ada-keraton-baru-di-purworejoKanjeng Sinuwun Rakai Mataram Agung Joyokusumo Wangsa Sanjaya Sri Ratu Indratanaya Hayuningrat Wangsa Syailendra bersama permaisuri Dyah Gitaraja. (w asmani/koranbernas.id)


asmani

Wow... Ada Keraton Baru di Purworejo

SHARE

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO – Masyarakat Purworejo Jawa Tengah heboh dengan munculnya sebuah kerajaan baru. Namanya Keraton Agung Sejagad yang berada di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo.

Konon, keraton tersebut lahir dalam upaya menunaikan janji 500 tahun setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit 1518 Masehi. Selain itu, keberadaan keraton ini karena perjanjian yang dilaksanakan oleh Dyah Ranawijaya dengan koloni bekas kekaisaran Romawi telah berakhir di tahun 2018 lalu.

Keraton yang dipimpin oleh Kanjeng Sinuwun Rakai Mataram Agung Joyokusumo Wangsa Sanjaya Sri Ratu Indratanaya Hayuningrat Wangsa Syailendra ini bahkan sudah melakukan kegiatan keraton mereka.

Kanjeng Sinuwun yang mengaku keturunan dinasti Mataram-Sanjaya, Syailendra dan Majapahit itu akan mempimpin Keraton Agung Sejagad untuk mendamaikan bumi, akibat dari sistem pemerintahan dunia yang kacau dan diambang kehancuran.

Koranbernas.id, Minggu (12/01/2020) petang, mendapat kesempatan berada di “istana” dan mendapatkan banyak penjelasan soal keberadaan Keraton Agung Sejagad ini. Menurut Kanjeng Sinuwun Keraton Agung Sejagad (KAS), kekayaan alam Indonesia berada di kawasan Eropa. Jika Indonesia akan makmur, kekayaan tersebut harus di kembalikan ke Indonesia.

Pada Hari Jumat (10/01/2020) lalu, pihak keraton menggelar Wilujengan Keraton Agung Sejagad. Maknanya, menyambut kedatangan Sri Maharatu (Maharaja) Jawa kembali ke tanah Jawa setelah berakhirnya perjanjian 500 tahun, terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan Nusantara, yaitu Imperium Majapahit pada tahun 1518 sampai tahun 2018.

“Perjanjian 500 tahun itu dilaksanakan oleh Dyah Ranawijaya sebagai penguasa terakhir Imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang-orang barat (bekas koloni kekaisaran Romawi) di Malaka pada tahun 1518,” beber Kanjeng Sinuwun, di Gedung Sasono Sri Ratu Indratanaya, Minggu (12/1/2020) petang.

Dengan berakhirnya kekaisaran tersebut, menurut Kanjeng Sinuwun, berakhir pula dominasi kekuasaan orang-orang barat mengontrol bumi yang di dominasi oleh Amerika setelah Perang Dunia II.

“Oleh karena itu, maka kekuasaan tertinggi dunia harus dikembalikan kepada pemiliknya, yaitu Keraton Agung Sejagat di Purworejo. Keraton Agung Sejagat inilah sebagai penerus dan pelanjut dari dinasti Sanjaya-Syailendra,” beber Kanjeng Sinuwun.

Kanjeng Sinuwun menuturkan, pengambil-alihan kekuasaan bumi berdasarkan dekrit yang dicatat di atas batu sebagai prasasti yang disebut dengan Prasasti I Bumi Mataram sebagai deklarasi Negara Seluas Bumi yang bersifat absolut dan tidak dapat dicabut sampai sistem bumi berakhir.

Dipilihnya Kabupaten Purworejo untuk Istana Keraton Agung Sejagat, menurut Kanjeng Sinuwun, karena Mataram sebelumnya sudah berdiri di Solo dan Yogyakarta. "Untuk itulah Keraton Agung Sejagad berdiri di Purworejo yang keberadaanya ada di Bumi Bagelen," tandasnya. (eru)


TAGS:

SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini