Ratusan Pedagang Bangkit, Plataran Senopati Jadi Tumpuan Baru
Kini menjadi kawasan kuliner dengan konsep dapur bersih di pusat kota tepat di depan Bank Indonesia.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Ratusan pedagang dan pekerja sektor informal di kawasan Senopati Kota Yogyakarta mencoba bangkit setelah kehilangan mata pencaharian akibat penutupan akses bus pariwisata. Mereka kini mengandalkan angkringan Plataran Senopati sebagai tumpuan baru sumber penghidupan.
Ketua Koperasi Senopati, Harjito, mengatakan penutupan akses tersebut berdampak besar pada sekitar 1.500 jiwa, termasuk keluarga pedagang dan juru parkir. Banyak di antara mereka sebelumnya mengandalkan kedatangan bus wisata sebagai sumber utama pendapatan.
“Kalau dikatakan mampus, ya kami hampir mati pelan-pelan,” ujar Harjito saat membuka angkringan Plataran Senopati, Sabtu (2/5/2026). Dalam kondisi tanpa pemasukan, para anggota komunitas berinisiatif membangun usaha bersama.
Koordinator pelaksana, Andi Erwanto, menyebutkan langkah tersebut diambil melalui iuran mandiri sebesar Rp 1,5 juta per orang dari 68 anggota. Dari iuran itu terkumpul modal Rp 102 juta yang digunakan untuk membangun fasilitas usaha, mulai dari gerobak, penerangan hingga perlengkapan dapur. “Murni iuran teman-teman. Tidak ada dana dari luar,” katanya.
Semua titipan
Angkringan Plataran Senopati kini menjadi kawasan kuliner dengan konsep dapur bersih di pusat kota tepat di depan Bank Indonesia. Di lokasi ini pelaku UMKM menyajikan menu tradisional khas Yogyakarta seperti nasi kucing, sate usus dan wedang ronde.
Menurut Andi, seluruh produk yang dijual merupakan titipan dari para pelaku UMKM terdampak. “Semua ini titipan dari teman-teman UMKM. Kami ingin mereka bisa berdaya lagi,” ujarnya.
Sejumlah pengunjung mulai berdatangan. Arsha (13) dan Khanza (12), misalnya, mengaku tertarik dengan suasana dan harga yang terjangkau. “Enak, suasananya asyik dan harganya terjangkau,” kata mereka.
Plataran Senopati kini merupakan simbol kebangkitan ekonomi warga lokal. Mereka berharap lokasi tersebut dapat berkembang menjadi destinasi wisata kuliner baru di Yogyakarta. “Mohon doanya saja semoga ramai. Karena saya menghidupi banyak orang di sini,” kata Andi. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
