Mahasiswa UGM Dorong Rektorat Bersikap Kritis

Perguruan tinggi sebagai institusi akademik memiliki tanggung jawab moral.

Mahasiswa UGM Dorong Rektorat Bersikap Kritis
Mahasiswa UGM melakukan pernyataan sikap mengkritisi pemerintah di Balairung. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Sejumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong Rektorat kampus itu untuk mengambil sikap lebih tegas dan kritis terhadap arah kebijakan pemerintahan.

Dorongan itu disampaikan melalui pernyataan sikap yang dirilis 17 Juni 2026, sebagai respons atas dinamika protes mahasiswa di kawasan Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM pada 15 Juni 2026.

Mahasiswa menilai perguruan tinggi sebagai institusi akademik memiliki tanggung jawab moral untuk merespons situasi sosial-politik berdasarkan kajian ilmiah dan fakta di lapangan.

Mereka juga mendorong agar kampus tidak sekadar menjadi ruang akademik, tetapi turut hadir dalam membaca arah kebijakan publik secara kritis.

Ruang akademik

Perwakilan mahasiswa UGM, Gladwin, mengatakan kritik yang mereka sampaikan berangkat dari evaluasi terhadap sejumlah forum diskusi yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan ruang akademik yang terbuka dan representatif.

“Intinya dari kami sendiri punya penyelidikan bahwa forum yang diadakan kemarin itu bukanlah forum yang genuine. Karena bisa dilihat dari representasi orang di dalamnya dan yang lain-lain,” ujarnya.

Dia menambahkan, keresahan mahasiswa juga dipengaruhi oleh berbagai temuan dan diskursus publik terkait kebijakan pemerintah sejak awal masa jabatan. “Dari pengalaman kita sendiri, dari berita-berita, dari data yang sudah ditampakkan, itu semua sudah jelas,” kata dia.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa lainnya, Sara, menyoroti dampak kebijakan fiskal dan ekonomi yang dinilai turut mempengaruhi ruang hidup masyarakat. Dia menyinggung kebijakan harga energi serta alokasi anggaran negara.

Hingga berita ini ditulis, pihak Rektorat UGM belum memberikan pernyataan resmi terkait desakan tersebut. (*)