Menengok Dusun Butuh Sentra Gula Jawa Asli di Bantul

Warga mengolah nira kelapa tanpa campuran apapun. Tanpa pengawet.

Menengok Dusun Butuh Sentra Gula Jawa Asli di Bantul

LORANBERNAS.ID, BANTUL – Wilayah Dusun Butuh Kalurahan Triwidadi Pajangan Bantul yang berbukit banyak ditumbuhi pohon kelapa. Berlimpahnya pohon tersebut dimanfaatkan warga untuk mengembangkan usaha gula Jawa.

Tidak kurang ada 20 orang warga setiap harinya berkecimpung membuat gula Jawa asli tanpa campuran apapun dengan kualitas yang bagus. Warga mengolah hasil nira kelapa sebagai bahan baku gula. Juga tanpa diberi pengawet, sehingga semua alami.

"Di sini sekarang ada 20 keluarga yang membuat gula Jawa. Semua diolah tanpa bahan tambahan, jadi gula di sini asli," kata Sunarto (50) seorang pembuat gula Jawa kepada wartawan saat acara Dinamika Pembangunan gelaran Dinas Kominfo Kabupaten Bantul, Selasa (30/4/2024).

Disebutkan, bahan baku gula Jawa berasal dari nira kelapa. Untuk mendapatkannya dilakukan aktivitas nderes setiap pagi dan sore.

Caranya, manggar kelapa diikat menggunakan tali atau rafia. Kemudian dibuang bunga-bunga ataupun kotorannya. Setelah dua hari, bagian batang manggar disayat menggunakan sabit agar mengeluarkan cairan nira yang menetes pada wadah bambu. Bambu ini dipanen sehari dua kali saat pagi dan sore.

Proses perebusan nira kelapa menjadi gula Jawa. (sariyati wijaya/koranbernas.id)

"Satu manggar biasanya habis sekitar sebulan atau 1,5 bulan. Kalau habis kita memakai manggar baru yang lebih muda begitu seterusnya," jelasnya.

Bukan tanpa risiko pekerjaan menjadi seorang penderes. Dari hitungan Sunarto dalam sepuluh tahun terakhir tidak kurang liwa warga setempat jatuh dari pohon kelapa. Ada yang meninggal dunia, sebagian lagi mengalami kelumpuhan.

Sebenarnya lebih aman memanjat pohon kelapa pakai alat  pelindung. Dinilai lebih ribet dan lama sehingga warga memilih naik pohon kelapa seperti biasa tanpa alat bantu apapun. "Yang pasti kita harus selalu berhati-hati terlebih saat cuaca sedang hujan atau licin," kata Sunarto yang menjadi penderes lebih dari 20 tahun.

Menurut Sunarto penderes atau penyadap nira akan mendapatkan hasil yang banyak manakala cuaca hujan ataupun kondisi udara lembab. Produksi nira meningkat.

Sebaliknya saat cuaca panas atau udara kering produksi nira menyusut. Setiap pohon sekali panen menghasilkan nira sekitar setengah liter hingga satu liter.

ARTIKEL LAINNYA: Pedagang Pasar Tradisional Harus Menguasai Penjualan Online

Setelah dipanen nira dikumpulkan dalam wajan kemudian direbus sambil terus diaduk selama dua jam. Setelah itu dilakukan proses ngebluk atau mengaduk rebusan nira hingga mengental. Barulah kemudian dicetak dan didinginkan.

Gula Jawa alami produksi Dusun Butuh siap harganya Rp 25 ribu setiap kilogram. Satu kilogram gula Jawa memerlukan bahan baku nira dua liter.

Imronah (46), pedagang gula Jawa, mengatakan produksi gula di dusun itu sama sekali tidak menggunakan campuran. Mereka selalu menjaga kualitas gula agar tetap alami dan sehat. "Kita pasarkan ke wilayah DIY," katanya.

Wakil Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Bantul Dwi Pudyaningsih Joko Purnomo yang berkunjung ke tempat tersebut mengatakan produksi gula Jawa memberikan manfaat secara luas bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat setempat.

"Jadi di Dusun Butuh ini banyak sekali tumbuh pohon kelapa. Kemudian oleh masyarakat diolah menjadi gula Jawa yang tentu saja harapannya mampu menambah pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan. Pada akhirnya juga mampu mengurangi angka kemiskinan di wilayah ini," kata Dwi.

Dekranasda, lanjut dia, siap membantu serta melakukan pendampingan pemasaran. Selama ini produk gula Jawa  sebatas dipasarkan di wilayah DIY dan sekitarnya. "Kami harapkan nanti dengan pendampingan gula produksi dari Butuh ini bisa lebih luas lagi pemasarannya," katanya. (*)