Penonton Tumpah Ruah Memadati Pergelaran Teater Bocah Purworejo

Bentuk keprihatinan terhadap sastra lisan yang kini semakin jarang diwariskan orang tua kepada anak-anak

Penonton Tumpah Ruah Memadati Pergelaran Teater Bocah Purworejo
Salah satu adegan pementasan Teater Bocah Purworejo 'Labu Ajaib'. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO – Pergelaran Teater Bocah Purworejo 'Labu Ajaib' sukses menarik perhatian publik. Penonton tumpah ruah memadati lokasi acara yang membawa pesan moral untuk anak itu.

Suasana Gedung Kesenian Purworejo, Sabtu (24/1/2026) malam, benar-benar meriah. Ratusan anak bersama orang tua tampak antusias menyaksikan pertunjukan bertajuk Labu Ajaib yang tiketnya bahkan ludes terjual sejak H-1.

Cerita Labu Ajaib ditulis oleh Hana Yuki Tassha Aira mengadaptasi cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih. Kisah ini mengangkat tokoh Melati, seorang gadis yang sering diperlakukan tidak adil oleh ibu dan kakak tirinya. Suatu hari, Melati tidak sengaja menghanyutkan selendang merah milik kakak tirinya, Mawar.

Peristiwa tersebut membawanya pada perjalanan panjang yang sarat ujian kejujuran, ketulusan dan keikhlasan. Hingga akhirnya dia memperoleh Labu Ajaib yang mengubah hidupnya.

Pesan moral

Hana menjelaskan Labu Ajaib mengandung pesan moral tentang pentingnya bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat serta tidak bersikap serakah terhadap apa yang dimiliki.

Hana mengungkapkan alasannya mengadopsi cerita rakyat dalam pementasan ini. Ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap sastra lisan yang kini semakin jarang diwariskan orang tua kepada anak-anak.

Dia berharap pertunjukan ini mampu menjadi media mengalirkan tradisi kepada generasi muda. “Terus lestarikan tradisi dan berkesenian, apa pun itu,” katanya.

Sebanyak 21 anak tergabung dalam Teater Bocah Purworejo tampil memerankan tokoh masing-masing dengan apik dan penuh penghayatan. Mereka adalah Nuela, Jasmine, Janeeta, Olivia, Sheffa, Faisal, Aby, Hayyu, Memey, Alfina, Kanaya, Hafsya. Kemudian Tya, Alena, Thania, Carnel, Zeylika, Leni, Afdhal, Fariz dan Ninda.

Tampil memukau

Tak hanya para pemain panggung, tim musik pengiring juga tampil memukau. Dipimpin Gigih, anak-anak menunjukkan kepiawaian memadukan alat musik tradisional dan modern yang mengiringi jalannya pementasan. Mereka adalah Bilawa, Yudhis, Lintang, Khansa, Nanda, Ifa dan Afan.

Sepanjang pertunjukan, penonton tampak larut dalam alur cerita. Ada yang tertawa, terharu bahkan menitikkan air mata mengikuti perjalanan tokoh-tokohnya.

Pementasan ini disutradarai oleh Agus Pramono, dengan asisten sutradara Makhasin. Pimpinan produksi dipercayakan kepada Eni Riyani, didukung tim artistik Ayok Sunaryo dan Aan Ontocena.

Ketua Teater Bocah Purworejo, Catur, melalui Agus Pramono menyampaikan pertunjukan ini telah melalui proses panjang. "Melalui disiplin, kerja sama, keberanian anak-anak kita di atas panggung, dan berkata aku bisa," ujarnya.

Lebih hebat

Menurut Agus, keberanian untuk tampil jauh lebih hebat dari rasa takut mereka. "Semoga pertunjukan menghibur, menginspirasi dan membekas di hati," tambahnya.

Sebelum pementasan utama dimulai, panggung lebih dulu diramaikan oleh penampilan band anak-anak Happy Tunes yang membawakan empat lagu. Penampilan mereka sukses membakar semangat penonton di awal acara.

Pertunjukan ini turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, Direktur PDAM Hermawan Wahyu Utomo dan Kabid Pemasaran Pariwisata Neira Anjar Puji Susilo. (*)