Anak Muda Jogja Bersuara Melalui Jagad Kewarasan Fest 2025

Anak muda harus diberikan ruang untuk memberikan masukan, kritik ataupun ide pemikiran membangun bangsa.

Anak Muda Jogja Bersuara Melalui Jagad Kewarasan Fest 2025
Jumpa pers acara "Jagad Kewarasan Fest 2025". (sariyati wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Fisip UNY bekerja sama dengan Methozen dan RJA Creative House menggelar acara Jagad Kewarasan Fest 2025 di nDalem Benawan Jalan Rotowijayan Yogyakarta Sabtu (25/10/2025) pagi hingga malam.

Acara diisi dengan doa lintas iman, Diskusi Sumpah Pemuda dalam Keistimewaan Yogyakarta, diskusi membangun kewarasan nasional, ritual Taman Sesaji, penampilan band, orkestra dan ditutup penampilan Band Methosa. Ini adalah band yang menyuarakan kritik dan kegelisahan terhadap kondisi negara.

RM Kukuh Hestrianing selaku pemilik nDalem Benawan mengatakan dirinya memfasilitasi kegiatan anak muda memperingati Sumpah Pemuda sekaligus bersuara menyampaikan buah pikiran terkait kondisi bangsa saat ini.

"Jadi anak muda itu harus diberikan ruang untuk bisa memberikan masukan, kritik ataupun ide pemikiran untuk membangun bangsa dan negara ke depan," kata Gusti Aning, sapaan akrabnya.

Sesuai aturan

"Yang penting dilakukan secara aman tertib dan sesuai aturan," lanjut cucu Sri Sultan HB VIII tersebut.

Memang nDalem Benawan selama ini digunakan untuk berbagai kegiatan budaya, ekonomi, UKM dengan melibatkan komunitas budaya, komunitas seniman serta masyarakat umum.

Kegiatan yang melibatkan anak muda juga bukan baru pertama kalinya dilakukan. Sejak 2018 nDalem Benawan sudah terbuka untuk berbagai kegiatan termasuk yang dilakukan anak muda.  Seperti angkringan bhinneka, kolaborasi wayang, pameran lukisan, diskusi tosan aji, kampung wisata serta membuat trip mubeng beteng.

Widihasto Wasana Putra selaku Ketua Sekber Keistimewaan DIY (Sekretariat Bersama Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta) sebagai narasumber  mengaku senang masih banyak anak muda yang semangat memperingati momentum Sumpah Pemuda.

Gerakan kebangsaan

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menjadi penanda penting kebangkitan nasionalisme di Indonesia pada awal abad ke-20. Saat itu banyak gerakan kebangsaan lahir seperti Boedi Utomo, Pendidikan Nasional Taman Siswa, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama serta kongres perempuan pertama di Jogja.

Juga lahirnya partai pertama kali yakni Indische Partij disusul Partai Nasional Indonesia. Jadi periode luar biasa untuk membangkitkan nasionalisme setelah tidur panjang melawan kolonialisme.

"Dan hari ini anak muda, para mahasiswa dari berbagai kampus mengadakan diskusi kebangsaan. Semoga melahirkan sintesa-sintesa baru atau semangat baru untuk memaknai kondisi bangsa Indonesia. Banyak tantangan misal ada yang mengatakan Indonesia gelap, kemiskinan tinggi, lapangan kerja masih sulit. Dan masalah itu di antaranya yang harus direspons anak muda saat ini  dengan tetap setia kepada NKRI, Pancasila dan merah putih," katanya.

Menurut dia, gerakan perubahan di Indonesia memang diinisiasi anak muda. Saat kemerdekaan yang mendorong deklarasi kemerdekaan Soekarno dan Hatta adalah anak muda. Saat reformasi yang menggerakkan mayoritas anak muda. Memang kalangan muda ini sangat berperan dalam pembangunan dan arah bangsa ke depan.

Isu sosial

Vokalis Band Methosa, Mansen Munthe, didampingi Maria Ninis dari RJA Creative House, Ketua panitia Muhammad Raihan Akbar dan Rakanda sebagai pemimpin orkestra saat jumpa pers mengatakan Methosa adalah band yang dibentuk tahun 2020 dan album pertama rilis 2023.

Mereka bergerak pada isu-isu sosial seperti konflik agraria, kelaparan dan kesetaraan. "Pada tahun 2024 kami mengeluarkan single berjudul Bangun Orang Waras yang fenomenal. Lagu ini banyak yang menolak karena lirik yang berisi kritik. Lalu sebenarnya apa yang salah dari negara ini? Kami ini hanya berkesenian," kata Mansen.

Mereka melakukan 'perlawanan' dengan roadshow Wisata Orang Waras dan memulai dari Surabaya lalu ke beberapa kota salah satunya ke Yogyakarta.

"Ide dan pemikiran yang dihasilkan anak muda dan mahasiswa dalam diskusi pada roadshow ini akan kami sampaikan kepada para pemangku kepentingan atau semacam maklumat," katanya.

Hanya berkesenian

"Bukan kami yang mewaraskan Jogja, tapi Jogja mewaraskan sendiri. Jogja istimewa. Kita tidak revolusi, kami hanya berkesenian dan kami melawan ketimpangan. Saat ini ribuan aktivis ditahan, kami belum tahu nasibnya. Semoga hal-hal tersebut tidak terjadi di sini dan berpihak kepada masyarakat. Methosa jadi sahabat," tandasnya.

Pada acara itu juga dinyanyikan lagu berjudul Pulang untuk pertama kalinya. Lagu ini belum pernah diperdengarkan di platform manapun. Lagu tersebut mengisahkan pertikaian dua sukma yakni sukma A sehari-hari dan sukma B yang mengajak mengakhiri hidup.Maka di saat ada konflik antara keduanya, lalu lelah maka pulanglah.

Pulang bisa ditafsirkan berkumpul dengan keluarga. Bisa dimaknai pula sebagai mohon petunjuk kepada Tuhan. Bisa dimaknai pula pulang ke rahim ibu atau tempat darimana kita berasal.

Rakanda mengatakan dirinya mengajak teman-temannya yang mau berproses di bidang seni bergabung dalam acara "Jagad Kewarasan Fest 2025". (*)