Nutriflakes Bantu Ambulans Alphard untuk Yayasan Jupiter

Ini soal bagaimana orang yang sedang kesakitan tetap merasa dihargai.

Nutriflakes Bantu Ambulans Alphard untuk Yayasan Jupiter
Simbolis penyerahan kunci Ambulans ke relawan. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA - Pemandangan tak biasa tampak di halaman kantor PT Landhung Herbathos Indonesia, Kamis (9/4/2026) pagi. Terlihat satu unit Toyota Alphard putih mengkilap. Pada bodinya, sirene terpasang serta terdapat tulisan “Ambulance”.

Bagi sebagian orang, Alphard disebut simbol kemewahan. Namun pagi itu berubah makna menjadi harapan. Melalui brand sereal kesehatan Nutriflakes, satu unit ambulans Alphard resmi diserahkan kepada Yayasan Jupiter Yogyakarta.

Sri Widya Supena selaku Founder Nutriflakes sekaligus Komisaris PT Landhung Herbathos Indonesia menilai ambulans ini bukan sekadar alat transportasi medis. “Ini bukan soal mewah atau tidak. Ini soal bagaimana orang yang sedang kesakitan tetap merasa dihargai,” ujarnya.

Dia teringat momen-momen ketika pasien harus menahan nyeri di perjalanan menuju rumah sakit di dalam kendaraan yang sempit, panas dan seadanya. Dari situlah muncul keyakinan sederhana, jika bisa memberi yang lebih baik, mengapa tidak. “Telat beberapa menit saja bisa fatal. Tapi perjalanan yang nyaman juga punya dampak besar, terutama bagi pasien yang kondisinya kritis,” katanya.

Foto bersama relawan Jupiter di depan kantor Landhung Hernathos Indonesia. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

Ambulans itu kini berada di tangan relawan yang sudah akrab dengan situasi genting. Yayasan Jupiter yang berakar dari Sorosutan Umbulharjo bukan sekadar komunitas melainkan kumpulan orang-orang yang terbiasa datang ketika yang lain memilih menjauh.

Di balik nama “Jupiter”, ada cerita panjang tentang malam-malam tanpa tidur, panggilan darurat yang tak mengenal waktu, dan keputusan-keputusan cepat yang sering kali menentukan hidup seseorang.

Pada awal berdirinya tahun 2023, mereka hanyalah kelompok kecil yang berangkat dari Tim Kubur Cepat saat pandemi. Tanpa banyak peralatan, tanpa jaminan keselamatan, hanya berbekal satu hal yaitu keberanian.

“Dulu kami hanya bermodal kenekatan. Nduwe kenalan wong-wong nekat. Ketika orang lain menjauh, kami justru mendekat,” kenang Muhammad Zul Azmi,  Pembina Yayasan Jupiter.

Siaga 24 jam

Seiring waktu, jumlah relawan bertambah. Belasan orang kini terlibat aktif, bergantian siaga 24 jam hampir tanpa jeda. Telepon mereka bisa berdering kapan saja, Subuh, tengah malam atau saat hujan deras. Dalam sehari, tim ini bisa menangani hingga sekitar 150 tindakan. Mulai dari evakuasi pasien gawat darurat, kecelakaan lalu lintas hingga mengantar warga menjalani kontrol rutin ke rumah sakit.

Di balik angka itu ada cerita-cerita mengenai keluarga panik yang menunggu di depan rumah, pasien yang menahan nafas di tandu, hingga relawan yang harus tetap tenang di tengah tekanan.

Sebelumnya, Jupiter telah memiliki dua unit ambulans. Satu berasal dari bantuan, satu lainnya dibeli dari hasil urunan dan kas relawan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari kepedulian.

Kini, dengan unit ketiga nafas mereka sedikit lebih panjang. Jangkauan layanan bisa diperluas. Waktu respons bisa dipangkas. “Ini seperti tambahan tenaga bagi kami. Karena di lapangan, satu unit ambulans bisa sangat berarti,” ujar Zul Azmi.

Amanah besar

Ketua Yayasan Jupiter, Sigit Nugroho, mengakui menjadi relawan bukan sekadar pilihan, melainkan komitmen yang terus diuji. “Saya hampir tidak bisa berkata-kata. Ini seperti mimpi. Tapi kami sadar, amanah ini juga besar,” katanya.

Menurutnya, menjadi relawan berarti siap meninggalkan keluarga kapan saja. Siap menghadapi risiko di jalan. Dan siap menerima, tidak semua usaha berakhir dengan kabar baik. “Karena yang kami lihat bukan capeknya, tapi orang yang butuh ditolong,” ucapnya. (*)