Pameran Sapa Waktu ISI Yogyakarta Tampilkan 100 Karya Mahasiswa dan Fashion Show di Malioboro

Pameran Sapa Waktu ISI Yogyakarta menampilkan lebih dari 100 karya mahasiswa Jurusan Kriya dan Desain Model Kriya Batik di Teras Malioboro 1. Acara yang berlangsung 19–25 Juli 2026 ini juga menghadirkan fashion show, workshop, dan pertunjukan se

Pameran Sapa Waktu ISI Yogyakarta Tampilkan 100 Karya Mahasiswa dan Fashion Show di Malioboro
Karya para mahasiswa ISI Yogyakarta saat ditampilkan pada peragaan busana di Teras Malioboro 1 Yogyakarta. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA–Pameran Sapa Waktu ISI Yogyakarta resmi digelar di Lantai 3 Teras Malioboro 1 pada 19–25 Juli 2026. Menghadirkan lebih dari 100 karya mahasiswa Jurusan Kriya Program Studi Kriya dan Program Studi Desain Model Kriya Batik (DMKB), pameran ini dipadukan dengan fashion show, workshop, serta berbagai pertunjukan seni. Tak sekadar menjadi ajang unjuk karya, Pameran Sapa Waktu ISI Yogyakarta menjadi ruang eksplorasi visual, material, dan gagasan sekaligus panggung perdana mahasiswa memperkenalkan kreativitas mereka langsung kepada masyarakat di jantung kawasan wisata Yogyakarta.

Mengusung tema “Sapa Waktu”, pameran menghadirkan beragam karya yang merefleksikan perjalanan waktu melalui interpretasi kreatif mahasiswa. Setiap karya lahir dari proses eksplorasi yang memadukan pengalaman, imajinasi, dan keberanian bereksperimen dengan berbagai medium, sekaligus menunjukkan perkembangan kreativitas generasi muda di bidang seni kriya dan desain.

Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, menyebut penyelenggaraan pameran di Teras Malioboro 1 sebagai tonggak penting bagi mahasiswa untuk mulai hadir di ruang publik.

Menurutnya, kegiatan yang diinisiasi Fakultas Seni Rupa dan Desain melalui Jurusan Kriya dan Program Studi Desain Model Kriya Batik tersebut menjadi pengalaman yang tidak dapat diperoleh hanya di ruang kelas.

“Ini menjadi langkah awal yang sangat penting. Mahasiswa tampil langsung di hadapan masyarakat, bukan hanya di lingkungan kampus, tetapi di Malioboro yang merupakan jantung pasar kreatif Yogyakarta,” ujarnya.

Pameran di Malioboro Jadi Tantangan Tersendiri

Ia menjelaskan, tampil di kawasan Malioboro menjadi tantangan tersendiri karena karya mahasiswa akan diapresiasi sekaligus dinilai langsung oleh masyarakat dan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

“Di sinilah mereka belajar menguji kreativitas, keberanian, dan mental berkarya. Respons publik akan menjadi pengalaman berharga yang membuka wawasan mereka untuk terus berinovasi, berkarya, hingga membangun karier di industri kreatif,” katanya.

Irwandi berharap kegiatan seperti ini dapat diselenggarakan secara rutin sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman nyata sebelum memasuki dunia profesional.

Selain mengasah kompetensi di bidang kriya dan batik, kegiatan tersebut juga diharapkan membentuk kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, membangun jejaring, serta memperkuat soft skills yang dibutuhkan di dunia kerja.

Lebih dari 100 Karya Jadi Ruang Dialog dengan Masyarakat

Kepala Jurusan Kriya ISI Yogyakarta, Dr. Sugeng Wardoyo, mengatakan pameran semacam ini merupakan agenda rutin yang selalu diikuti setiap angkatan mahasiswa dengan tema berbeda.

Menurutnya, tema "Sapa Waktu" dipilih untuk merangkai makna masa lalu, masa kini, dan masa depan melalui bahasa seni yang lahir dari kreativitas mahasiswa.

Sebagian dari karya mahasiswa ISI Yogyakarta yang memeriahkan area pameran. (warjono/koranbernas.id)

Ia menilai Teras Malioboro 1 menjadi lokasi yang sangat strategis karena mempertemukan karya mahasiswa dengan masyarakat luas.

“Malioboro adalah jantung kreativitas Yogyakarta. Ketika mahasiswa memamerkan karya di sini, mereka bukan hanya belajar mempresentasikan hasil karya, tetapi juga membangun kepercayaan diri, memperluas jejaring, dan memahami bagaimana publik mengapresiasi karya seni,” ujarnya.

Pengalaman tersebut, lanjutnya, akan menjadi bekal penting ketika para mahasiswa nantinya berkarya di tingkat nasional maupun internasional.

Dalam pameran ini, mahasiswa Angkatan 2024 Program Studi Kriya menghadirkan puluhan karya, sementara mahasiswa Program Studi Desain Model Kriya Batik menampilkan karya-karya busana melalui fashion show yang menjadi salah satu atraksi utama kegiatan.

Kurator pameran, Hanan Syahrazad, mengapresiasi keberanian mahasiswa dalam mengeksplorasi ide dan medium.

Menurutnya, sebagian karya merupakan hasil tugas akademik, sementara sebagian lainnya lahir dari eksplorasi personal berdasarkan idealisme masing-masing mahasiswa.

“Saya membebaskan mereka untuk tidak terpaku pada peminatan seperti tekstil, keramik, kayu, atau kulit. Hasilnya, karya-karya yang muncul sangat eksperimental dan eksploratif, terutama jika melihat mereka masih berada di semester empat,” katanya.

Sebanyak lebih dari 100 karya dipamerkan dalam kolaborasi mahasiswa Program Studi Kriya dan Program Studi Desain Model Kriya Batik dari total sekitar 140 mahasiswa.

Meski sebagian besar karya belum diarahkan untuk produksi massal, Hanan melihat sejumlah mahasiswa mulai mengembangkan proyek usaha kreatif sehingga karya-karya tersebut memiliki peluang besar berkembang menjadi produk bernilai ekonomi di masa mendatang.

Ketua Pelaksana Pameran, Aulia Oktaviana, mengatakan Pameran Sapa Waktu dirancang sebagai ruang dialog antara karya, seniman, dan masyarakat.

“Melalui setiap karya yang ditampilkan, kami mengajak pengunjung merefleksikan perjalanan waktu, mengenang pengalaman, serta memaknai perubahan yang terus hadir dalam kehidupan,” ujarnya.

Ia berharap pameran tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga menjadi wadah bertukar gagasan, mempererat hubungan antara dunia akademik dengan masyarakat, serta menginspirasi lahirnya karya-karya kreatif yang memberikan kontribusi bagi perkembangan seni dan budaya Indonesia.

Selama berlangsung hingga 25 Juli 2026, pengunjung dapat menikmati pameran karya kriya, fashion show, workshop, hingga berbagai pertunjukan seni yang menjadikan Pameran Sapa Waktu ISI Yogyakarta sebagai salah satu agenda seni kreatif yang layak dikunjungi di kawasan Malioboro. (*)