Ketika Alice Dewey Bertemu Pandemi

Oleh: Puthut Indroyono

Digitalisasi pasar rakyat tidak harus mengikuti pola platform digital konvensional. Model yang kami kembangkan justru bertumpu pada kelembagaan pedagang, pengambilan keputusan secara kolektif, serta pemanfaatan sumber daya yang telah dimiliki komunitas pasar. Dalam pengertian ini, teknologi bukanlah pengganti hubungan sosial, melainkan alat untuk memperkuatnya.

Ketika Alice Dewey Bertemu Pandemi
Puthut Indroyono. (Istimewa).

ENAM dekade lalu, antropolog Amerika Alice G. Dewey menunjukkan bahwa kekuatan pasar rakyat (tradisional) tidak semata terletak pada aktivitas jual beli, melainkan pada hubungan antarmanusia di dalamnya. Pasar adalah ruang sosial, tempat bertegur-sapa langsung, tempat orang belajar menaruh kepercayaan, saling membantu, dan bertukar informasi setiap hari. Dalam tulisan saya sebelumnya di Koran Bernas (16/7) (https://koranbernas.id/masih-relevankah-alice-dewey-untuk-digitalisasi-pasar-rakyat), saya mengajak pembaca melihat kembali relevansi pemikiran Dewey bagi digitalisasi pasar rakyat.

Pandemi Covid-19, tanpa diduga, justru menjadi ujian nyata atas gagasan tersebut. Ketika pandemi melanda pada awal 2020, pasar rakyat menghadapi situasi yang belum pernah dialami sebelumnya. Pembatasan mobilitas, kekhawatiran tertular virus, dan berbagai kebijakan pembatasan aktivitas membuat hubungan tatap muka yang selama ini menjadi denyut kehidupan pasar tiba-tiba terganggu. Pedagang kehilangan pembeli, sementara masyarakat dihadapkan pada dilema antara memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjaga keselamatan keluarga.

Di tengah situasi tersebut, kami (tim peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM) bersama para pedagang di dua pasar di Kabupaten Sleman, mencoba mencari jalan keluar. Terbangunlah dua platform di dua pasar tradisional kami sepanjang tahun 2020 dan 2021, salah satunya pasarkolombo.id. Boleh dibilang mungkin kami juga “ikut-ikutan” membuat platform belanja secara online, karena banyak pihak yang juga melakukan hal yang sama.

Mengapa Berbeda?

Platform berbasis web tersebut hadir pada akhir 2020 sebagai respons atas kebutuhan yang sangat mendesak: bagaimana menjaga hubungan sosial-ekonomi antara pedagang dan pelanggan ketika pertemuan fisik harus dibatasi. Seluruh proses, mulai dari assessment dengan protokol khusus hingga pengembangan platform, berlangsung dalam situasi yang serba darurat. Karena itu, perhatian kami saat itu bukanlah menghadirkan teknologi yang paling canggih, melainkan teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan pedagang dan dapat segera digunakan.

Boleh jadi, pada masa itu kami bukan satu-satunya yang mengembangkan platform belanja daring bagi pasar rakyat. Namun, ada sekurang-kurangnya tiga hal yang membedakan inisiatif kami.

Pertama, pasarkolombo.id dikelola secara kolektif oleh paguyuban pedagang yang diketuai Pak Guntoro. Bersama para pegiat Sekolah Pasar Rakyat, kami melakukan assessment cepat untuk memahami kebutuhan para pedagang, kemudian merancang platform sederhana, mudah dioperasikan, dan sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Sejak awal, platform ini diposisikan bukan sebagai milik pihak luar, melainkan sebagai bagian dari kelembagaan pedagang itu sendiri. Digitalisasi, dengan demikian, menjadi sarana untuk memperkuat organisasi pasar, bukan menggantikannya.

Kedua, berbagai keputusan penting, termasuk penentuan tarif layanan belanja daring dan pengantaran, diputuskan melalui musyawarah paguyuban pedagang. Pertimbangannya tidak semata-mata keuntungan ekonomi, tetapi juga nilai budaya yang telah lama hidup di kalangan pedagang Jawa: tuna satak bathi sanak. Lebih baik untuk tidak terlalu besar, tetapi tetap menjaga hubungan baik dengan pelanggan. Nilai tersebut membuat biaya layanan tetap terjangkau sehingga teknologi tidak menjadi beban tambahan, tetapi memperkuat hubungan saling percaya yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Ketiga, seluruh proses operasional platform dijalankan oleh komunitas pasar sendiri. Bu Eli, salah seorang pengurus paguyuban pedagang selaku admin, menerima pesanan pelanggan, menghubungi pedagang sesuai daftar belanja, serta mengoordinasikan seluruh proses transaksi. Setelah pesanan siap, Mas Fahmi, yang juga pedagang Pasar Kolombo, mengantarkan belanjaan kepada pelanggan. Dengan demikian, tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menjalankan layanan belanja daring tidak didatangkan dari luar, melainkan berasal dari komunitas. Digitalisasi tidak menghilangkan pekerjaan yang sudah ada, tetapi justru melahirkan peran-peran baru di dalam komunitas pasar.

Ketiga karakteristik tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi pasar rakyat tidak harus mengikuti pola platform digital konvensional. Model yang kami kembangkan justru bertumpu pada kelembagaan pedagang, pengambilan keputusan secara kolektif, serta pemanfaatan sumber daya yang telah dimiliki komunitas pasar. Dalam pengertian ini, teknologi bukanlah pengganti hubungan sosial, melainkan alat untuk memperkuatnya.

Berputar di Tingkat Lokal

Pengalaman Pasar Kolombo selama pandemi mengajarkan bahwa transformasi digital yang berhasil bukanlah transformasi yang paling canggih, melainkan transformasi yang mampu menjaga manusia tetap menjadi pusatnya. Teknologi memang memungkinkan transaksi berlangsung lebih cepat, tetapi kepercayaan, gotong royong, dan kelembagaan sosial tetap menjadi fondasi yang membuat pasar rakyat mampu bertahan menghadapi krisis.

Di sinilah relevansi pemikiran Alice G. Dewey melalui riset antropologinya lebih dari enam dekade lalu. Keunggulan pasar rakyat terletak pada hubungan antarmanusia yang tumbuh di dalamnya. Pandemi justru membuktikan bahwa ketika hubungan tatap muka terganggu, yang perlu dipertahankan bukan hanya aktivitas jual belinya, melainkan jejaring sosial yang menopang. Teknologi hanya menjadi jembatan agar hubungan tersebut tetap hidup.

Model tersebut juga sejalan dengan semangat ekonomi kerakyatan yang diperkenalkan Prof. Mubyarto, yaitu menjaga agar manfaat ekonomi tetap berputar di tingkat lokal. Nilai tambah yang dihasilkan dari layanan digital tidak mengalir kepada perusahaan platform di luar pasar, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan ekonomi komunitas pedagang. Teknologi, dalam konteks ini, menjadi instrumen untuk memperkuat kelembagaan lokal, memperluas kesempatan kerja, dan menjaga sirkulasi ekonomi di dalam komunitas pasar. Mungkin di situlah Alice Dewey dan Mubyarto akhirnya "bertemu"—bukan di ruang kuliah atau seminar, melainkan di lorong-lorong pasar rakyat yang terus beradaptasi tanpa kehilangan jiwanya. ***

Puthut Indroyono

Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, co-founder Sekolah Pasar Rakyat