Luna Maya dan Reza Rahadian Magnet Utama Film Horor Klasik Suzzanna "Santet: Dosa di Atas Dosa”
Pertemuan dua bintang besar ternyata baru terjadi di film ini.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Dunia horor Indonesia kembali bergemuruh lewat film terbaru dari jagat legenda Suzanna, “Santet: Dosa di Atas Dosa”. Film yang kembali dibintangi Luna Maya tersebut tahun ini menjadi salah satu proyek horor paling ditunggu.
Luna Maya yang untuk ketiga kalinya berperan sebagai Suzzanna, dipasangkan untuk pertama kalinya dengan aktor papan atas, Reza Rahadian. Film ini menjadi magnet utama yang menyedot perhatian publik dan pecinta horor klasik Indonesia.
Tak sekedar film, Suzzanna disebut sebagai versi paling personal, paling emosional dan paling sinematik dari kisah Suzzanna masa kini. Tidak hanya menawarkan horor dan mistik, film ini juga menghadirkan lapisan drama manusia yang kuat, emosi kehilangan dan keputusan gelap yang mengguncang nasib karakter-karakternya.
Reza saat penutupan JAFF Market, Senin (1/12/2025), memberikan pujian besar untuk Luna Maya yang kembali mengambil mantel karakter legendaris Indonesia tersebut. Komitmen besar Luna membuat dirinya semakin yakin film ini akan memberikan sesuatu yang berbeda.
Energi akting
“Saya nggak pernah kebayang bagaimana Luna harus datang paling awal, proses make up yang lama sekali. Kalau kita selesai (hapus make up) cuma sret, selesai. Luna masih harus stay, satu per satu piece-nya dibuka,” ungkapnya.
Baginya, komitmen Luna tidak hanya soal jam kerja yang panjang. Namun juga energi akting yang sulit didefinisikan. “Saya ngerasain energi Luna bermain sebagai Suzzanna itu luar biasa. She gave another perspective of how to become Suzzanna in her own version,” tambahnya.
Reza menyebutkan keputusan dirinya mengambil proyek ini bukan sekadar momentum. Namun lebih dari itu karena kekuatan cerita dan Luna sebagai partner bermain. “Saya percaya ceritanya. Saya percaya orang-orang di belakang proyek ini,” jelasnya.
Pertemuan dua bintang besar ini ternyata baru terjadi di film ini. Reza mengaku sudah lama mengenal Luna, tetapi baru kali ini keduanya dapat bekerja sama. “Kami berkawan baik dan baru sekarang bisa kerja bareng. It’s just about time, rasanya,” ungkapnya.
Sosok legendaris
Sementara bagi Luna Maya, memerankan Suzzanna untuk kesekian kalinya bukan alasan untuk berpuas diri. Justru sebaliknya merupakan tanggung jawabnya semakin besar.
Menurut Luna, misinya bukan untuk meniru. Dia menyadari sepenuhnya, dirinya tidak akan pernah menjadi Suzzanna sepenuhnya dan itu bukan tujuannya. “Kita sebagai aktor bukan untuk menjadi 100 persen atau meng-copy orang itu. Kita ingin melanjutkan nafas yang sudah diberikan,” ujarnya.
Ketika generasi muda mungkin hanya mengenal nama Suzzanna sebagai legenda, Luna ingin film ini menghubungkan ulang warisan itu ke penonton masa kini.
“Kita ingin supaya generasi sekarang tahu lagi siapa Suzzanna. Kita pengin menghidupkan kembali supaya generasi berikutnya tetap tahu,” tandasnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
