Mengabadikan Warisan Raminten dan Babak Baru Nia Dinata

Film dokumenter ini didukung oleh Kedutaan Besar Kanada dan Institut Français Indonesia (IFI). 

Mengabadikan Warisan Raminten dan Babak Baru Nia Dinata
Nia Dinata foto bersama di booth Trois Films JAFF Market, JEC, Yogyakarta. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah stigma kota besar yang dianggap kerap memisahkan manusia lewat label dan stereotip, sebuah panggung di Yogyakarta bertahan sebagai antitesis. Raminten Cabaret bukan sekadar tempat pertunjukan. Ia adalah rumah bagi jiwa-jiwa yang mencari ruang aman untuk berekspresi tanpa takut dihakimi.

Kisah tentang “rumah” inilah yang diabadikan dalam film dokumenter terbaru, Raminten Universe: Life is a Cabaret.

Sebuah karya yang tidak hanya menjadi potret kehidupan mendiang Kanjeng Hamzah Sulaiman -- sosok ikonik di balik karakter Raminten -- tetapi juga penanda penting perjalanan karier sutradara Nia Dinata dalam menyuarakan kemanusiaan.

Film dokumenter yang didukung oleh Kedutaan Besar Kanada dan Institut Français Indonesia (IFI) ini menyoroti bagaimana seni dan budaya diubah menjadi bahasa universal untuk merangkul perbedaan.

Tindakan sederhana

Di balik riasan tebal dan kostum glamor, tersimpan kisah transformasi para mantan pekerja seks, waria hingga seniman jalanan yang menemukan harga diri dan keluarga baru di panggung Raminten.

"Saya ingin kisah Raminten menjadi cermin bahwa di negeri dengan keberagaman seluas ini, inklusivitas bukan hanya wacana, tapi sesuatu yang bisa kita wujudkan lewat tindakan sederhana setiap hari," ungkap Nia Dinata, Senin (1/12/2025), di JAFF Market, Yogyakarta.

Semangat inilah yang membawa film tersebut meraih nominasi Best Long Documentary Film di Festival Film Indonesia (FFI) 2025 pada 26 November silam.

Kesuksesan Raminten Universe semakin mengukuhkan posisi Nia Dinata sebagai sutradara yang konsisten mengangkat isu sosial dengan empati. Kualitas "suara khas dan universal" miliknya kembali mendapat pengakuan internasional.

Kejutan besar

Salah satu karya monumentalnya, Berbagi Suami (2006), terpilih untuk ditayangkan di La Cinémathèque Paris pada 13 Desember 2025 sebagai bagian dari program Rétrospective Panorama Du Cinéma Indonesiéne.

Pihak Cinémathèque Paris menyebutkan karya Nia sebagai representasi perspektif perempuan Asia yang penuh keberanian.

Momentum ini dimanfaatkan Nia untuk mengumumkan kejutan besar. Dua dekade setelah film aslinya menggemparkan publik, versi terbaru berjudul Berbagi Suami: 20 Tahun Kemudian resmi diproduksi.

Bersama Kalyana Shira Films dan Trois Films, syuting dijadwalkan mulai awal 2026. Nia merasa tema poligami dan relasi perempuan masih sangat relevan, namun dengan wajah yang berbeda di era digital.

Batas privasi

"Lewat Berbagi Suami: 20 Tahun Kemudian, saya ingin memperlihatkan bagaimana perempuan kini menavigasi relasi, peran rumah tangga dan kepercayaan diri di era digital, di mana batas antara privasi dan publik semakin kabur," jelas Nia.

Film ini akan menampilkan tiga karakter baru lintas generasi. Yaitu, Kamila, Karina dan Kianti, yang terhubung dalam situasi tak terduga dengan sentuhan humor dan ironi khas Nia.

Produser dan penulis Dena Rachman menyebutkan film ini sebagai pengingat di tengah urban chaos. "Nurani kebajikan adalah jembatan terkuat antar identitas. Inklusivitas bukan konsep abstrak. Ia adalah tindakan nyata yang menyelamatkan eksistensi banyak orang," ujarnya.

Meski Kanjeng Hamzah Sulaiman telah berpulang, warisannya tetap hidup. Ratri selaku Direktur House of Raminten menyatakan komitmen mereka untuk menjaga panggung tersebut sebagai ruang aman dan terus membuka peluang kerja bagi kelompok yang terpinggirkan.

Dari panggung kabaret di Yogyakarta hingga layar lebar di Paris, benang merah yang ditenun Nia Dinata tetap sama, yaitu empati. Baik melalui dokumenter tentang warisan Kanjeng Hamzah maupun fiksi tentang dinamika perempuan urban, ia mengajak penonton untuk melihat manusia di balik label. (*)