Lulusan Polbangtan Gabung Brigade Pangan, Penghasilan Rp 10 Juta - Rp 20 Juta Per Bulan
Uniknya, mereka tidak menerima gaji dari negara. Penghasilan diperoleh dari hasil panen.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Pagi itu, wisuda Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang (Polbangtan YOMA) dipenuhi wajah-wajah muda penuh semangat. Balutan toga hitam dan selempang cumlaude menjadi saksi berakhirnya perjalanan akademik sekaligus awal babak baru pengabdian di dunia pertanian. Sebanyak 267 mahasiswa resmi dikukuhkan sebagai wisudawan sarjana terapan, Rabu (20/8/2025), di Jogja Expo Center (JEC) Bantul.
Namun, di balik seremoni itu tersimpan pesan besar: lulusan Polbangtan tidak sekadar menambah jumlah sarjana, tetapi menjadi garda terdepan transformasi pertanian Indonesia.
“Pertanian itu ilmu. Kelihatannya mudah, tetapi harus dipelajari dengan benar. Karena itu, kami menempatkan lulusan Polbangtan sebagai penggerak di lapangan. Mereka melatih tenaga lokal menggunakan alsintan, memahami pengendalian hama, pestisida, pupuk dan seterusnya,” tegas Sudaryono, Wakil Menteri Pertanian RI, saat ditemui usai memberikan petuah kepada wisudawan.
Sebagian lulusan langsung bergabung dan ditempatkan dalam Brigade Pangan. Setiap tim beranggotakan 15 orang yang mengelola lahan hingga 200 hektar dengan dukungan alsintan.
Potensi penghasilan
Brigade ini telah tersebar di sekitar 1.700 titik, mayoritas di kawasan luar Jawa yang berpenduduk jarang. Uniknya, mereka tidak menerima gaji dari negara. Penghasilan diperoleh dari hasil panen, dengan potensi Rp 10 juta - Rp 20 juta per bulan.
“Skema ini bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga kesejahteraan tenaga muda yang terjun ke desa,” ujar Sudaryono.
Baginya, keberadaan Polbangtan YOMA adalah bagian dari center of excellence vokasi pertanian yang menopang target besar Kementerian Pertanian yaitu meningkatkan produksi nasional sekaligus menyejahterakan petani. Lulusan diarahkan bukan hanya sebagai tenaga kerja, tetapi juga pemimpin kelompok tani, agen perubahan dan penggerak kebiasaan bertani yang efisien.
Di antara 267 lulusan, terdapat enam orang dari jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Mereka adalah penyuluh pertanian berstatus P3K yang melanjutkan pendidikan hingga meraih sarjana terapan. “Ada yang dulu lulusan SMA lalu melanjutkan lewat RPL hingga sarjana. Ini membuktikan jalur vokasi kita hidup dan relevan,” kata Sudaryono.
Mendampingi petani
Bagi para penyuluh, wisuda ini bukan sekadar tambahan gelar melainkan eskalator sosial yang membuka mobilitas karier sekaligus mempertegas kontribusi mereka mendampingi petani.
Sementara itu, Direktur Polbangtan Yogyakarta-Magelang, R Hermawan, menyatakan semangat kewirausahaan telah mengakar di kampus ini. Dari 267 wisudawan, 201 meraih predikat cumlaude.
Sebanyak 65 sudah merintis usaha pertanian, 42 diterima bekerja di perusahaan besar seperti PT Petrokimia Gresik hingga PT Permodalan Nasional Madani dan enam lainnya memperoleh modal Rp 35 juta melalui program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP).
“Empat tahun meninggalkan kampung halaman bukan waktu singkat. Namun dari proses itu lahirlah anak-anak muda yang siap menjadi job seeker maupun job creator,” kata Hermawan.
Perjalanan baru
Polbangtan YOMA baru saja meraih Entrepreneurial Marketing Campus Award 2025 dari MarkPlus Institute dan resmi bergabung dalam HIPMI Perguruan Tinggi sejak awal tahun ini. Predikat itu mempertegas posisi Polbangtan sebagai kampus kewirausahaan pertanian.
Wisuda kali ini bukan penutup, melainkan awal perjalanan baru. Sebagian lulusan bergabung dengan Brigade Pangan, sebagian lain merintis usaha sendiri, dan selebihnya masuk dunia industri pertanian.
“Predikat sebagai kampus kewirausahaan semakin meneguhkan kiprah Polbangtan YOMA. Kami menyiapkan SDM yang profesional, mandiri, berdaya saing dan berjiwa wirausaha demi pertanian maju, mandiri, dan modern,” ujar Hermawan. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
