Langgeng Art Space Menampilkan Kolaborasi 143 Seniman
Seniman Indonesia dan seniman internasional dari Thailand, Jepang dan Korea terlibat dalam pameran lintas pendekatan ini.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Geliat seni rupa kontemporer kembali terasa kuat di Yogyakarta lewat pameran berskala besar yang diselenggarakan Langgeng Art Space. Mulai 20 Juni hingga 25 Juli 2025, ruang seni yang berlokasi di Jalan Suryodiningratan No 37 ini mengadakan tiga program utama yaitu Salon et Cetera, Broken White Project Focus dan Kiasmos.
Tak tanggung-tanggung, total 143 seniman Indonesia dan 15 seniman internasional dari Thailand, Jepang dan Korea terlibat dalam pameran lintas pendekatan ini. Pameran bukan sekadar agenda tahunan, melainkan menjadi manifestasi dari komitmen Langgeng Art Space sebagai ruang alternatif yang tidak hanya menyuguhkan karya, tetapi juga membangun dialog antara seniman, publik, dan sejarah seni itu sendiri.
Program Salon et Cetera menjadi sorotan utama dengan hampir 200 karya dalam format salon-style, yaitu cara penyajian karya yang menolak sistem kurasi hierarkis. Dinding-dinding galeri dipenuhi karya dari berbagai medium dan latar belakang seniman, dari yang baru merintis hingga nama-nama yang sudah mapan.
Gintani Swastika dari Ace House Collective, Jumat (20/6/2025) malam, mengungkapkan format ini bertujuan untuk menciptakan ruang demokratis dan kolektif. “Ini bagian dari upaya kami mendemokratisasi seni, formatnya komunal, cair dan performatif,” ujarnya.
Hierarki seni rupa
Menempatkan karya secara sejajar adalah bentuk penolakan terhadap hierarki nilai dalam seni rupa, sekaligus mendorong seniman dan audiens membangun jejaring visual secara setara. Dalam konteks ini, karya bukan sekadar obyek untuk dikagumi, melainkan medium dialog yang terbuka dan terus hidup.
Tommy Firdaus dari Langgeng Art Foundation mengungkapkan Program Broken White Project Focus (BWP Focus) tahun ini menjadi penghormatan khusus bagi mendiang S Teddy Darmawan, salah seorang tokoh penting dalam lanskap seni rupa kontemporer Indonesia. Pameran retrospektif kali ini menampilkan 12 karya dari periode 1999 hingga 2012, termasuk dua karya yang belum pernah dipamerkan semasa hidupnya.
“Ini momen penting karena terakhir kali Teddy berpameran tunggal di sini adalah 14 tahun lalu. Kami ingin generasi muda juga mengenal karyanya,” jelasnya.
Teddy dikenal sebagai seniman yang menolak dikurung dalam batas-batas disiplin. Karyanya melampaui lukisan dan patung, menjelajahi instalasi, performans, hingga seni bunyi. Salah satu karyanya yang monumental, Love Tank (The Temple), pernah dipamerkan sebagai proyek komisi National Gallery Singapore pada 2010, dan menjadi representasi intens dari visinya yang mengguncang, personal sekaligus politis.
Seni abstrak
Naik ke lantai atas, pengunjung akan disambut oleh pameran bertajuk Kiasmos, hasil kurasi Agung Hujatnika. Ditampilkan 21 karya dari 12 seniman asal Bandung, Jakarta, Bali dan Yogyakarta.
Pameran ini menggali kemungkinan-kemungkinan dalam seni abstrak dari sudut pandang lokal yang sentimental dan kontekstual. “Kami ingin memberikan ruang persilangan antara tubuh, dunia, dan pengalaman visual,” ujarnya. (*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
