Kota Yogyakarta Peroleh BKK Danais Rp 41 Miliar
Di antaranya untuk penanganan stunting dan pengelolaan sampah.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Ketua Komisi A DPRD DIY yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta menyebutkan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalokasikan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) yang bersumber dari Dana Keistimewaan tahun 2026 dengan total mencapai Rp 312,249 miliar.
“Anggaran tersebut disalurkan kepada pemerintah kabupaten/kota serta kalurahan/kelurahan di seluruh DIY,” ungkapnya saat konferensi pers di DPRD DIY, Rabu (6/5/2026).
Disebutkan, dari total anggaran, BKK Danais untuk kabupaten/kota se-DIY mencapai Rp 168,837 miliar. Rinciannya, Kota Yogyakarta memperoleh Rp 41,309 miliar, Kabupaten Bantul Rp 42,415 miliar, Kulonprogo Rp 37,143 miliar, Gunungkidul Rp 26,758 miliar serta Kabupaten Sleman Rp 21,209 miliar.
Eko Suwanto, menyampaikan kebijakan alokasi ini diarahkan untuk memperkuat pembangunan berbasis wilayah sekaligus menjawab persoalan mendesak di masyarakat.
Anggaran tematik
Sementara itu, BKK untuk kalurahan mencapai Rp 143,412 miliar yang terbagi ke Kabupaten Bantul sebesar Rp 29,730 miliar, Kulonprogo Rp 24,325 miliar, Gunungkidul Rp 53,885 miliar dan Sleman Rp 35,472 miliar. “Khusus untuk Kota Yogyakarta, Pemda DIY juga mengalokasikan anggaran tematik,” ucapnya.
Eko Suwanto menambahkan anggaran penanganan stunting mendapatkan Rp 120 juta per kelurahan dengan total Rp 5,400 miliar. Selain itu, penyelesaian persoalan sampah juga dialokasikan Rp 65 juta per kelurahan dengan total Rp 2,925 miliar.
Menurutnya, pengawasan terhadap penggunaan anggaran akan menjadi perhatian DPRD DIY agar tepat sasaran dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. "Pelaksanaan program harus transparan dan akuntabel. Kami di DPRD DIY akan memastikan dana tersebut benar-benar digunakan untuk kepentingan rakyat," sambungnya.
Alumni MEP UGM Eko Suwanto itu menyatakan sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat menjadi kunci agar program-program yang didanai melalui Dana Keistimewaan dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. (*)
---
