Imogiri Jadi Panggung Besar Ngayogjazz 2025
Sebagai kehormatan sekaligus menunjukkan kapasitas desa menyelenggarakan festival bertaraf nasional.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Awan tipis menggantung di langit Imogiri, namun suasana itu justru terasa lapang. Udara membawa wangi tanah basah dan semangat warga yang berdiri berderet di tepi jalan.
Mereka menunggu sesuatu yang bukan sekadar kirab melainkan momen ketika desa mereka menjelma menjadi panggung besar pembukaan Ngayogjazz 2025.
Dari ujung jalan Toegoe Djam, sosok berbusana ibu-ibu pasar berjalan dengan gerak jenaka. Dia adalah Tedjo Badut, pantomim senior yang kembali membuktikan bahwa humor sederhana mampu menyatukan massa. “Jazz! Diundang Mbokmu!” serunya, membuat barisan warga meledak dalam tawa dan tepuk tangan. Begitulah Ngayogjazz dibuka tahun ini, seperti biasa, akrab, cair dan tanpa jarak.
Barisan kirab kemudian mengalir seperti sungai budaya. Ada Bregada Carnival Minggiran, Rekta Giri Goratomo, Sholawatan Mudo Palupi Kembang, Laras Bumbung Sekar Madu Garjoyo, penampilan Yuliono Singsoot, hingga gowesan antik Pagoejoeban Onthel Djokjakarta.
Kampung tua
Tiupan brass dari Huaton Dixie muncul saling bersahutan di antara langkah bregada, seakan membawa aroma New Orleans ke lorong-lorong kampung tua Imogiri.
Rute kirab bukan sekadar lintasan, melainkan penanda ingatan akan Toegoe Djam, Joglo Batik, Joglo Susu hingga akhirnya berhenti di Panggung Simbok, pusat perayaan yang selama ini menjadi simpul kegiatan warga.
Di sana, Panewu Kapanewon Imogiri Slamet Santosa SIP MM membuka acara dengan sambutan hangat. "Kepercayaan menjadikan Imogiri sebagai tuan rumah sebagai kehormatan yang sekaligus menunjukkan kapasitas desa menyelenggarakan festival bertaraf nasional," kata Slamet, Sabtu (15/11/2025).
Sambutan berikutnya datang dari Deputi Bidang Industri dan Investasi, Rizky Handayani, yang mewakili Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Widiyanti Putri Wardhana, yang mengekspresikan dukungannya melalui pantun bertema jazz. Sebuah pendekatan yang justru membuat pesannya lebih mengena. "Ngayogjazz terus mengalun setiap tahunnya, sejalan dengan tekad pemerintah memperkuat ekosistem ekonomi kreatif daerah," ujarnya.
Piagam KEN
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah menyerahkan Piagam Top 10 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2025 kepada Jejaring Pengada-ada Ngayogjazz, diterima oleh Ajie Wartono.
Komunitas Jazz Indonesia (KJI) kemudian memberikan sertifikat apresiasi yang diserahkan oleh Aji Subiyantoro, menegaskan bahwa festival komunitas ini telah menjadi salah satu tonggak penting dalam peta jazz Indonesia.
Usai sesi seremoni, perhatian publik bergeser ke deretan musisi yang menghuni panggung tahun ini. Ngayogjazz 2025 diisi penampil lintas kota dan negara. Nama-nama mereka yang mewakili generasi, gaya dan warna berbeda.
Dari panggung domestik tampil Sri Hanuraga, Andre Dinuth, Aditya Ong Quartet, Dion Subiyakto, Indrawan Thjin, Samuel Song, Encik Sri Krishna, hingga Woppa bersama Farah Di.
Keragaman warna
Kolaborasi berbasis tradisi juga menguat lewat Kua Etnika yang menggandeng Ari Wvlv dan Gamelanance, sementara deret lain seperti Bulan Jingga, Jumat Gombrong, Ruzan & Vita, Swara Soul serta The Jazz Jammers by Ruang Putih menambah keragaman warna pertunjukan.
Gelaran ini juga diramaikan komunitas jazz dari berbagai kota yaitu Lava Cake dari Pekalongan Blues Society, Shade Jazz Ngisoringin Semarang, Solo Jazz Society bersama Avner Winatra Quartet, Magelang Jazz Community, Jazztlian Ponorogo, Fusion Jazz Community Surabaya, hingga Homeband JBF dan Rockskool Jogja 90’s.
Dari Jogja ada barisan muda seperti Vidas, Poka, Koen, Smoove, Doa Sore, Etawa Jazz Club, Sinau Ngejazz, dan Syifa & Friends, memperlihatkan dinamika ekosistem musik lokal yang kian matang.
Sementara dari panggung internasional, Ngayogjazz kedatangan Kevin Saura Group 4Tet, Pasqua Pancrazi, Laurent Guerirard dan Olivier Bertholet dari Prancis. Kemudian, Eef Van Breen Quartet dari Belanda, Bennet Brandeis Trio dari Amerika Serikat serta kolaborasi Prancis-Indonesia Suarajiwa.
Karakter festival
Nama-nama ini memadukan jazz modern, tradisi Eropa, hingga improvisasi kontemporer yang menjadi karakter festival ini sejak awal.
Di tengah semarak itu, Manggalayuda melangkah maju untuk membacakan pranatan pembuka yang telah menjadi tradisi.
Bahasa Jawa Krama Inggil menjembatani ruang antara sejarah dan modernitas. Ketika kalimat adicara pasamuan Ngayogjazz tumuli diwiwiti dilafalkan seluruh bregada menjawab serentak: “Samya!” Gemanya menandai dimulainya Ngayogjazz.
Tak lama setelah itu, panggung diserahkan ke Vidas sebagai penampil pembuka, mengalirkan nada pertama yang memecah udara siang. Musik pun mengalun, menyatu dengan tawa, langkah dan cerita warga.
Tahun ini, Ngayogjazz bukan sekadar perayaan musik. Ia adalah sapaan pulang untuk kembali ke ruang bersama yang membiarkan setiap orang merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga besar. Di Imogiri, jazz tidak datang sebagai tamu. Jazz pulang sebagai kerabat. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
