Bagus Mazasupa dan Bulan Jingga Bersinar di Ngayogjazz 2025
Bagus Mazasupa bukan pendatang baru di panggung kreatif. Dia menulis lagu sejak SMP tahun 1994.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Di tengah riuh musik jazz yang selalu merakyat di Ngayogjazz 2025, sesosok komposer dan pianis yang punya jejak panjang dalam kancah kesenian kreatif Yogyakarta, Bagus Mazasupa, tampil bersama band-nya yang kian matang, Bulan Jingga.
Penampilan mereka pada gelaran Jazz Diundang Mbokmu di Imogiri tidak hanya menambah warna musikal menjadi bersinar tetapi juga menyulam narasi reflektif tentang memori kolektif melalui lirik dan melodi.
Bagus Mazasupa bukan pendatang baru di panggung kreatif. Dia telah menulis lagu sejak SMP (1994) dan menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Kariernya berkembang melalui berbagai proyek, termasuk band Sirkus Barock, kelompok teater Saturday Acting Club, hingga Bulan Jingga.
Bagus memandang musik sebagai sarana “merawat memori kolektif” yang menggali cerita sehari-hari, pengalaman masa lalu, hingga keheningan batin dalam komposisi-komposisinya.
Menahan rasa
Melalui nada dan lirik, dia mengajak pendengarnya untuk menyelami kenangan manusia kecil, seperti petani yang pulang dari sawah atau sorot hati yang menahan rasa.
Baru-baru ini, Bagus merilis album solo pertamanya, PAST, berisi delapan lagu karya dari rentang 1994-2007. Album ini menjadi refleksi personal sekaligus penghormatan terhadap perjalanan musikalnya selama dekade-dekade awal.
Bulan Jingga awalnya adalah proyek solo Bagus, namun berkembang menjadi kolaborasi dengan musisi lain yang menyetorkan komposisi mereka sendiri. Bersama Bulan Jingga, Bagus merilis beberapa materi, termasuk lagu-lagu yang penuh nuansa jazzy dan kontemplatif.
Pada penampilan di Ngayogjazz 2025, Bulan Jingga menyiapkan lagu yang dirangkai sebagai narasi musikal yang dibuka dengan Semitone, nomor yang dimainkan dalam formasi band penuh untuk membangun suasana awal yang hangat dan akrab.
Nuansa senja
Setelah itu, Bulan Jingga membawa penonton masuk ke nuansa senja melalui Sandekala, masih dengan energi lembut dan harmoni khas mereka.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Someday We Will Meet, lagu yang mengalun dengan rasa rindu sekaligus harapan, menjadi penghubung suasana menuju bagian paling teatrikal dari penampilan mereka.
Pada momen tersebut, Bulan Jingga akan membawakan 63, sebuah komposisi yang melibatkan permainan cello dan penari, menjadikannya salah satu sajian paling artistik dalam penampilan mereka.
Sebagai penutup, mereka memilih Halimun yang kembali menempatkan cello sebagai penguat atmosfer, menciptakan kesan syahdu dan perlahan menurunkan emosi penonton seiring meredanya malam di Imogiri.
Pasar Jazz
“Ngayogjazz memberi kami kesempatan untuk menyampaikan cerita bukan dari atas mimbar yang jauh, tapi dari ruang bersama, seperti sedang ngobrol melalui nada,” kata Bagus Mazasupa.
Bulan Jingga juga memperkuat hubungan Ngayogjazz dengan komunitas lokal. Selain penampilan musik, festival dimeriahkan Pasar Jazz dan pertunjukan kesenian tradisional yang melibatkan warga Imogiri.
Imogiri, dengan suasana pedesaan yang asri dan historis, menjadi panggung yang sangat pas bagi karakter musik Bulan Jingga. Nuansa musik mereka yang lembut, introspektif namun hangat terasa cocok menyatu dengan panorama desa yang tenang dan menenangkan.
Aji Wartono dari Board of Creative Ngayogjazz menyambut Bulan Jingga sebagai penyegar kurasi festival. Dia menilai bahwa proyek Bagus menambah lapisan kedalaman di antara nama-nama besar lain, sekaligus membawa suara yang sangat personal.
Tanpa sekat
Ngayogjazz 2025 tetap memegang prinsip kebersamaan: Jazz Diundang Mbokmu adalah panggilan untuk datang tanpa sekat, tanpa protokol. Bagi Bagus, ini adalah panggung di mana musiknya tidak harus dipagari.
Komunitas Guyub Jogja turut memeriahkan suasana lewat workshop, pemutaran film, hingga kesempatan interaksi kreatif. Bagi komunitas fotografi Gembira Selalu, momen pertunjukan Bulan Jingga adalah wadah untuk menangkap ekspresi manusia yang penuh kehangatan dan keintiman.
Kata Kusen Alipah Hadi, salah seorang pegiat Ngayogjazz, festival bukan sekadar pertunjukan budaya melainkan ibadah yang tumbuh dari rasa cinta. Dan bagi Bagus, musik memang lebih dari sekadar hiburan melainkan cara untuk merawat ingatan, menyulam memori dan menjalin kembali kehangatan masa lalu.
Dengan panggung Imogiri sebagai latar dan lagu-lagu Bulan Jingga sebagai cerita, Bagus Mazasupa lebih dari penyajian musik yang mengundang pulang ke ruang batin yang damai, melalui melodi yang akrab dan penuh arti. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
