Jogja Scooter Parade 2026 Siap Digelar, Panitia Menolak “Vespa Sampah”
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Jogja Scooter Parade (JSP) akan digelar pada 25–26 Juli 2026 dengan konsep berbeda dari sekadar ajang kumpul komunitas Vespa. Panitia menegaskan, event ini akan menjadi ruang kreatif skuteris dari berbagai daerah dan luar negeri sekaligus menolak hadirnya atribut “vespa sampah” yang kerap menimbulkan stigma negatif.
Salah satu penggagas JSP, Tjahjo Widjojono menyebut, acara ini dirancang sebagai perayaan komunitas skuteris yang dikemas secara berkelas.
“Kita ingin JSP ini benar-benar menjadi celebration. Ada parade sinema, karya kreatif, sampai pengalaman touring yang ditampilkan dalam bentuk film, baik individu maupun kelompok. Semua karya akan dikurasi,” katanya saat konferensi pers seusai touring bareng komunitas scooter, Minggu (28/9/2025).
Eric Eryanto Putro, panitia lain menambahkan, bahwa kreativitas skuteris Indonesia menjadi daya tarik utama.
“Orang luar negeri kagum dengan kreasi anak-anak Vespa Indonesia, terutama yang ekstrem dan out of the box. Itu yang akan kita tampilkan di JSP. Tidak hanya motor, tapi juga karya seperti sidecar atau modifikasi unik yang belum tentu ada di luar negeri,” jelasnya.
Menurut Andiennahar Bentho, JSP juga memberikan ruang apresiasi bagi motor langka atau unik tanpa harus masuk kompetisi.
“Penilaian tidak hanya dari dewan juri. Kita libatkan tokoh dan sponsor untuk memberi penghargaan, misalnya best pick. Jadi display motor pun bisa mendapat apresiasi. Itu yang membedakan JSP dari acara lain,” ujarnya.
Sementara itu, Sutoto memastikan JSP akan dikemas dengan agenda lengkap.
“Satu tiket bisa dipakai seharian penuh, dari parade Vespa, fun trail, hingga festival musik. Sponsor akan kita libatkan supaya harga tiket tetap terjangkau,” terangnya.
Isu “vespa sampah” juga turut disorot. Panitia menegaskan, atribut yang merusak citra acara tidak akan ditoleransi.
“Teman-teman boleh ikut acara, tapi atributnya jangan dibawa. Kalau ada yang masuk dengan itu, rasanya kurang pantas. Sayang dengan konsep JSP yang sudah bagus,” kata dia.
Tokoh otomotif Jogja, Lulut Wahyudi, yang turut hadir dalam pertemuan panitia, mengingatkan pentingnya menjaga citra event.
“Begitu ada stigma buruk, imbasnya bukan hanya ke komunitas itu, tapi juga otomotif Jogja secara keseluruhan. Event harus punya konsep, diramaikan dengan baik, dan memberi kesan positif bagi pengunjung," paparnya.
"Kalau hanya show off untuk diunggah ke media sosial, tidak ada manfaatnya. Tapi kalau bisa memberi dampak ekonomi bagi komunitas Vespa, baru luar biasa,” ujarnya.
Dengan target peserta dari dalam dan luar negeri, JSP 2026 diharapkan menjadi agenda skuteris berskala internasional yang tidak hanya mempererat komunitas, tetapi juga mendorong perekonomian kreatif di Yogyakarta. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
