Dibangun Tahun 1871, Jembatan Tembana Cagar Budaya Ikonik Kebumen
Fondasi batuan padas ratusan tahun tergerus aliran Sungai Luk Ulo tidak menampakkan perubahan.
KORANBERNAS.ID, KEBUMEN -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen menjadikan Jembatan Tembana sebagai cagar budaya yang ikonik. Jembatan yang dibangun dan mulai difungsikan pada zaman Kolonial Hindia Belanda tahun 1871 itu diharapkan tidak hanya menjadi jembatan penghubung lalu lintas dari Kota Kebumen ke Kota Gombong dan sebaliknya, tetapi menjadi ikon Kota Kebumen.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kebumen Frans Haedar kepada koranbernas.id, Senin (27/4/2026), menjelaskan untuk menjadikan jembatan Tembana menjadi ikon Kota Kebumen, tahun 2025 pada sisi selatan diperbaiki sehingga lebih tampak bersih.
"Jembatan Tembana bisa untuk latar belakang foto-foto," kata Frans Haedar yang didampingi Kepala Bidang Kebudayaan, Istiadi.
Namun demikian, jembatan itu bukan destinasi wisata untuk mengakses dari dekat. Jembatan yang dibangun insinyur teknik sipil pemerintah kolonial Belanda itu fondasinya batuan Formasi Halang.
Pernah rusak
Konstruksi batu ini pernah rusak pada masa Agresi Belanda II tahun 1951 - 1952. Pemerintah Republik Indonesia memperbaiki kerusakan sepanjang 34 meter. Pemerintah mempekerjakan 600 orang untuk perbaikan, agar infrastruktur sipil ini bisa difungsikan sebagai jembatan penghubung.
Menurut Frans Haedar, fondasi batuan seperti batuan padas sudah ratusan tahun tergerus aliran Sungai Luk Ulo, tidak menampakkan perubahan berarti.
Di sebelah hilir jembatan dimanfaatkan untuk pengambilan air baku air minum yang dikelola PDAM Tirta Bumi Sentosa Kebumen. Tinggi muka air ketika banjir tidak sampai pompa isap air baku. (*)
Nanang W Hartono
