Dari Lintasan Lari Menuju UMKM Jogja Naik Kelas

Dari Lintasan Lari Menuju UMKM Jogja Naik Kelas
Road to SiBakul Jogja Sport & Fest 2026 digelar di Teras Malioboro 1, Yogyakarta, Sabtu (27/6/2026). (yvesta putu ayu/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Pemda DIY menargetkan 5.000 pelari mengikuti SiBakul Jogja Sport & Fest 2026 sebagai upaya menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui sektor olahraga, pariwisata, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ajang yang akan digelar pada 12–13 September 2026 itu untuk pertama kalinya menghadirkan kategori half marathon (21 kilometer).

Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY, Agus Mulyono, mengatakan penyelenggaraan event yang memasuki tahun keempat tersebut merupakan strategi pemerintah untuk mendorong UMKM naik kelas melalui ekosistem olahraga yang terintegrasi dengan pariwisata.

"Atas dasar upaya-upaya pembinaan, harapannya UMKM ini bisa naik kelas. Kalau koperasi tangguh, maka UMKM harus naik kelas," kata Agus saat Road to SiBakul Jogja Sport & Fest 2026 di Teras Malioboro 1, Sabtu (27/6/2026).

Menurut Agus, pengembangan UMKM di DIY tidak hanya berhenti pada pembinaan usaha, tetapi juga menyediakan ruang pemasaran yang mampu meningkatkan kapasitas pelaku usaha.

Ia mencontohkan Teras Malioboro yang kini menjadi pusat relokasi eks pedagang kaki lima di kawasan Malioboro sehingga memiliki ruang usaha yang lebih tertata.

"Tempat yang kita tempati saat ini adalah Teras Malioboro, wisata belanja di Jogja yang merupakan tempat relokasi eks pedagang kaki lima di sepanjang selasar Jalan Malioboro. Ini sudah kita tata sedemikian rupa agar mereka bisa bertransaksi dan pada akhirnya meningkatkan kapasitas mereka menjadi UMKM naik kelas," ujarnya.

Agus menambahkan, platform SiBakul juga menjadi etalase digital bagi produk-produk UMKM DIY sehingga memiliki akses pasar yang lebih luas.

"UMKM SiBakul itu adalah etalase. Di sana terpajang produk-produk UMKM yang bisa ditransaksikan masyarakat," katanya.

Berbeda dengan event lari pada umumnya, SiBakul Jogja Sport & Fest memadukan olahraga, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurut Agus, olahraga mampu menghadirkan kerumunan yang berdampak langsung terhadap meningkatnya transaksi pelaku UMKM.

"Olahraga dengan ekosistem UMKM ini bisa saling mengisi dan klop dalam upaya meningkatkan kapasitas UMKM agar bisa naik kelas," ujarnya.

Tahun ini, penyelenggara menambah kategori half marathon 21 kilometer serta kategori pelajar 5 kilometer, melengkapi kategori 5 kilometer dan 10 kilometer yang telah ada.

Penambahan kategori tersebut diharapkan meningkatkan perputaran ekonomi dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.

Race Director SiBakul Jogja Sport & Fest, Rostian, mengatakan rute half marathon dirancang melintasi sejumlah ikon dan kawasan heritage Kota Yogyakarta.

"Kami menyesuaikan rute half marathon dengan area-area heritage yang memiliki value dan ikon-ikon Jogja. Semua akan kami lewati," katanya.

Menurut Rostian, kategori half marathon diharapkan mampu menarik peserta dari berbagai daerah sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi DIY.

"Target kami bukan hanya pelari lokal, tetapi juga nasional yang nantinya akan berefek pada peningkatan perekonomian DIY," ujarnya.

Panitia juga menyiapkan berbagai langkah mitigasi keselamatan, mulai dari tim medis, rumah sakit rujukan, hingga penyesuaian waktu start. Kategori half marathon akan dimulai pukul 04.45 WIB, disusul 10 kilometer pukul 05.15 WIB dan 5 kilometer pukul 05.30 WIB.

Sementara itu, Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Kurniawan, menilai event olahraga menjadi media efektif untuk memperkenalkan budaya dan pariwisata Yogyakarta.

"Keistimewaan harus hadir di ruang publik agar identitas dan karakter keistimewaan tetap menjadi bagian dari masyarakat," katanya.

Menurut Kurniawan, event olahraga dan festival merupakan dua instrumen yang efektif memperkuat identitas DIY sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis UMKM.

Di sisi lain, Ketua PASI Kota Yogyakarta, Fajar Kurniawan, mengatakan kategori pelajar 5 kilometer dibuka untuk menjaring bibit atlet lari jarak menengah dan jauh.

"Kami membutuhkan bibit atlet untuk dibina dan mengikuti kejuaraan nasional maupun internasional," ujarnya.

Ia mengungkapkan Kota Yogyakarta masih kekurangan atlet pelajar untuk nomor 5.000 meter dan 10.000 meter meski banyak pelajar memiliki potensi yang menjanjikan.

"Banyak pelajar yang mampu mencatat waktu sangat baik, tetapi tidak bisa naik podium karena harus bersaing dengan pelari dewasa," katanya. (*)