Cuaca Ekstrem masih Berpotensi Terjadi di Sleman
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Hujan deras dengan durasi lama yang mengguyur lereng Merapi pada Selasa (3/3/2026) menyebabkan banjir lahar hujan di aliran sungai Gendol, Kabupaten Sleman, tepatnya di wilayah timur Kepuharjo, Cangkringan. Namun demikian, tidak ada laporan kerusakan dalam peristiwa tersebut.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, R. Haris Martapa, mengatakan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi. Apalagi, berdasarkan informasi dari BMKG, ada tiga bibit siklon yang mendekati wilayah Indonesia, yaitu 90S di wilayah selatan Banten atau selatan Jawa bagian barat. Kemudian, bibit siklon 93S di barat laut Australia dan 92P di selatan Papua.
"BMKG juga memprediksi puncak musim hujan terjadi pada Januari–Februari. Sedangkan dasarian pertama di bulan Maret ini sebenarnya telah memasuki pancaroba atau musim peralihan. Adapun puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026 mendatang, kata Haris, Rabu (4/3/2026).
Haris Martapa mengatakan meskipun telah memasuki pancaroba, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap hujan lebat disertai angin kencang yang diperkirakan bisa terjadi di spot-spot tertentu di wilayah Kabupaten Sleman.
Pihaknya memprediksi di musim peralihan ini, terutama 2-3 dasarian ke depan, masih berpotensi terjadi bencana banjir hingga tanah longsor.
"Berkaitan dengan ini, berdasarkan riset BMKG itu, kami memberikan rekomendasi kepada masyarakat luas untuk bisa meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi cuaca ekstrem ini. Pertama adalah dengan mengantisipasi risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, genangan air terutama di wilayah yang rawan," tutur Haris.
Haris juga menekankan bahwa potensi banjir berada di sepanjang sungai, baik yang berhulu di Merapi maupun di lereng perbukitan Prambanan. Sementara genangan air terutama di ruas jalan berpotensi terjadi di sepanjang ringroad dan permukiman wilayah urban.
Kedua, pihaknya mengimbau masyarakat membersihkan saluran irigasi air maupun lingkungannya untuk mengurangi risiko banjir, termasuk memangkas pohon-pohon yang sekiranya tinggi dan rawan tumbang. Masyarakat juga diminta menghindari aktivitas di wilayah rawan bencana serta mempersiapkan perlengkapan darurat, termasuk tas siaga bencana.
"Tas siaga bencana itu adalah tas di mana kita menaruh di situ perangkat-perangkat kita yang sangat urgent, yang kita butuhkan, dan sewaktu-waktu, seandainya terjadi bencana, itu bisa kita pergunakan dan kita selamatkan," tutur Haris.
Dua bulan terakhir, wilayah Kabupaten Sleman sering dilanda cuaca ekstrem. BPBD Sleman mencatat sebanyak 791 titik kejadian bencana telah menerjang wilayah Sleman sepanjang Januari - Februari 2026 ini.
Jumlah kejadian tersebut tinggi, bahkan angkanya melebihi periode sepanjang satu tahun 2025 yang hanya 462 titik kejadian.
Sebanyak 791 kejadian bencana tersebut berdampak terhadap 897 jiwa, dengan 2 orang meninggal dunia dan 8 luka berat.
Adapun kerugiannya, 13 rumah rusak berat dan 548 rumah rusak ringan. Cuaca ekstrem juga menyebabkan 533 pohon tumbang, merusak 22 jaringan telepon, 85 jaringan listrik, 25 tempat usaha, 40 kandang, 8 fasilitas pendidikan, 7 fasilitas ibadah dan 18 fasilitas umum serta 4 jaringan irigasi. Lokasi terdampak paling parah berada di seputar Sleman Utara. Tingginya kejadian bencana ini disebabkan oleh cuaca ekstrem. (*)
Nila Hastuti
