Tren Akulturasi Fashion: Hanbok Batik Asal Yogyakarta Jadi Incaran Pecinta K-Wave
Djadi Batik Yogyakarta sukses ciptakan tren Hanbok Batik yang diminati pecinta K-Wave hingga Singapura. Inovasi busana akulturasi budaya Korea dan Batik klasik
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Gelombang Korea (Korean Wave) ternyata tidak hanya membawa musik dan drama ke tanah air, tetapi juga melahirkan inovasi busana yang unik. Di tangan dingin Usnul Djadi, busana tradisional Korea, Hanbok, berhasil "dikawinkan" dengan Batik Yogyakarta melalui brand Djadi Batik. Produk inovatif ini kini tidak hanya diminati pasar domestik, tetapi juga merambah hingga ke Singapura dan Malaysia.
Berawal dari kecintaannya pada budaya Negeri Gingseng sejak bangku sekolah, Usnul Djadi mulai menciptakan Hanbok Batik pada tahun 2019. Ia ingin mengenakan identitas Korea namun tetap mempertahankan akar budaya Indonesia. Siapa sangka, karya yang awalnya dibuat untuk diri sendiri ini justru memikat komunitas "Sahabat Korea" dan berkembang menjadi bisnis yang menjanjikan.
Proses kreatif Djadi Batik dilakukan sepenuhnya di kawasan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keunggulan utama produk ini terletak pada penggunaan kain batik asli, baik batik cap, tulis, maupun kombinasi, yang diproses menggunakan malam panas secara tradisional. Untuk menghasilkan satu potong Hanbok, dibutuhkan waktu produksi antara satu minggu hingga 30 hari.
"Kami menggunakan motif klasik seperti Tegel Delapan, Tegel Semanis Kawung, dan Setenang Kawung. Kami meyakini bahwa batik sebisa mungkin tidak dipotong kecil-kecil agar doa yang menyertai dalam setiap motifnya tetap utuh," ujar Usnul Djadi, Selasa (10/02/2026).
Menyambut tren tahun 2026, Djadi Batik telah merilis koleksi Shuangxi untuk merayakan Imlek dan koleksi Kawung Melati untuk menyambut Hari Raya Idulfitri mendatang. Menariknya, produk ini juga mendapat apresiasi dari tokoh nasional, termasuk Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, yang kerap mengenakan koleksi Djadi Batik dalam berbagai ajang ekonomi kreatif berskala internasional.
Keberhasilan ekspansi Djadi Batik ke mancanegara, khususnya Singapura, diakui Usnul tak lepas dari peran kolaborasi strategis dengan ekspedisi seperti JNE. Sebagai anggota JNE Loyalty Card (JLC), ia mengibaratkan jasa ekspedisi sebagai kaki yang membantu bisnisnya melangkah menjangkau pelanggan lintas negara secara efisien. Melalui akulturasi ini, Usnul membuktikan bahwa melestarikan budaya bisa dilakukan dengan cara menerima perubahan zaman tanpa harus meninggalkan akar tradisi. (*)
Siaran Pers
