Transformasi SSB Tunas Muda Sleman, Harapan Baru Sekolah Sepak Bola Kampung

Transformasi SSB Tunas Muda Sleman, Harapan Baru Sekolah Sepak Bola Kampung

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Sekolah Sepak Bola (SSB) masih menjadi salah satu sarana edukasi favorit bagi orang tua untuk memberikan peluang buah hatinya menekuni sepak bola. Bagi orang tua, selain berolah raga, kegiatan rutin seperti ini bisa menjauhkan anak dari ketergantungan gadget yang berlebihan.

Dias, salah seorang di antaranya. Sejak Taman Kanak-kanak (TK) ia telah menuruti kemauan sang anak masuk SSB. Dari puluhan pilihan SSB di Kabupaten Sleman, Dias memasukkan Regi, anaknya, ke SSB Tunas Muda Sumberadi.

"Waktu itu masih latihan di lapangan Warak, di kampung," kata pemilik nama lengkap Gergorius Dias Sugiyopranoto saat berbincang kepada koranbernas.id, Minggu (26/2/2023).

Dias cukup yakin dengan pilihan SSB ini buat buah hatinya. Baginya, pelatih dan manajemen Sekolah Sepak Bola bukan satu-satunya pertimbangan. Ada hal lain, jarak, intensitas berlatih dan perlakuan pelatih ke anak juga menjadi penting.

"Yang penting anak enjoy, karena umur segini gak bisa di-pressure. Biar mereka menemukan sendiri. Toh dengan banyak berlaga di lapangan tidak hanya skill yang akan tebangun, banyak sparing akan membentuk mental. Banyak kok pemain bagus, tapi saat menghadapi lawan di luar jadi down mentalnya, lalu gak bisa apa-apa," lanjutnya.

Putranya, Julio Regi Sugiyopranoto pemilik nomor punggung 10 ini beberapa kali berkesempatan menggocek bola, berulang kali pula Regi terjatuh.

Dias pun memberikan semangat dari luar garis lapangan. Harapannya besar atas sepak bola Yogyakarta ke depan, walau tidak memberikan target kepada Regi, Dias yakin suatu saat dari kaki-kaki kecil inilah bintang-bintang sepak bola Indonesia akan terbentuk.

SSB Tunas Muda Sumberadi kini resmi bertransformasi menjadi Tunas Muda Sleman (TMS). Dahulu merupakan SSB kampung. Transformasi ini memberi harapan baru bagi sepak bola. Manajerial diperbaiki, termasuk mempatenkan tempat berlatih yang menjadi modal penting pembinaan pemain muda.

Setelah Lapangan Warak, seiring digelarnya Rurosia Cup fun game kini SSB TMS resmi berlatih di Lapangan Mlati Utama, Cebongan Sleman.

"Tempat ini sangat bagus, perindang cukup, dan jauh dari jalan utama yang lalu lintasnya ramai. Lalu lintas ini tentu menjadi pertimbangan orang tua untuk memasukkan anaknya ke sekolah sepak bola," kata Heru Prasetyo, Direktur Pengembangan dan Bisnis TMS.

Heru memiliki konsens membantu anak-anak yang memiliki bakat untuk berkembang, dalam hal ini sepak bola. Menurutnya TMS akan memberikan banyak beasiswa bagi anak-anak berbakat yang kurang beruntung dari segi materi.

"Kami siap beri beasiswa untuk anak-anak yang punya bakat namun kurang beruntung dari segi finansial. Kami memiliki keseriusan membina dengan tim kepelatihan berlisensi. Mudah-mudahan dari Cebongan Mlati Sleman ini akan muncul pemain liga profesional di Indonesia bahkan skuad-skuad timnas Indonesia," lanjutnya.

TMS saat ini memiliki 75 siswa yang terdiri dari kelompok usia 8 tahun, 9 tahun, 10 tahun dan 14 tahun. Nantinya akan dibangun akademi untuk menjembatani para pemain setelah menimba ilmu di sepak bola usia dini.

"Kami akan membangun jejaring, untuk saluran para pemain setelah melewati kelompok usia. Tujuan kami membentuk pemain bagus yang beratitude baik dan berprestasi sampai ke jenjang profesional nanti. Bismillah langkah kecil dari Mlati ini," lanjutnya.

Public Relation TMS, Prasetyo Nugroho, menerangkan perihal transformasi TMS. Ada investor yang memiliki kesamaan tujuan, ingin membina dengan maksimal bibit-bibit sepak bola di wilayah DIY dan sekitarnya dengan baik, untuk mengantar mereka ke jenjang profesional.

"Klub ini dikembangkan dari tingkat desa bertransformasi menjadi lebih besar. Saat ini kami punya basecamp dan tata kelola baru. Ada mitra, sponsor juga terafiliasi dengan asosiasi. Kami gagas bersama dan ingin memaksimalkan pembinaan menghasilkan pemain muda skillfull juga punya attitude baik. Harapannya, TMS ke depan bisa mensuplai pemain-pemain di liga-liga profesional bahkan timnas," ungkapnya.

Keseriusan TMS membina anak-anak khususnya di Mlati Sleman dengan lebih baik muncul setelah adanya perubahan di kepemimpinan PSSI Pusat. Mereka melihat, adanya perubahan lebih baik di ranah atas harus diiringi langkah nyata di bawah untuk menciptakan sinergi baik pembinaan sepak bola.

"TMS ini sudah terafiliasi, jadi ada jenjang yang jelas untuk para pemain. Kami ingin ikut berkontribusi suplai pemain ke timnas Indonesia. Kami saat ini sedang merencanakan akademi, memang cukup banyak saat ini di Jogja tapi justru bukan saingan namun membangun ekosistem yang baik untuk sepak bola Jogja," tandasnya. (*)