Tiga Kampus Besar Yogyakarta Bersatu Serukan Damai, Kecam Kekerasan dan Desak Negara Hadirkan Solusi Nyata

Tiga Kampus Besar Yogyakarta Bersatu Serukan Damai, Kecam Kekerasan dan Desak Negara Hadirkan Solusi Nyata
Aksi damai yang dilakukan mahasiswa Yogyakarta di persimpangan UIN Sunan Kalijaga pada Sabtu (30/8/2025). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Gelombang aksi massa yang terus meluas di berbagai daerah, disertai jatuhnya korban jiwa dan luka-luka, mendorong tiga kampus besar di Yogyakarta menyuarakan seruan moral bagi bangsa. Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, kompak menolak kekerasan, mengajak dialog damai, sekaligus menuntut pemerintah lebih peka terhadap aspirasi rakyat.

Rektor UGM Prof. Ova Emilia menegaskan, bahwa kampus tidak tinggal diam melihat kondisi bangsa yang kian memprihatinkan. 

“Kami menyampaikan duka yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa dan luka-luka, dan mengimbau semua pihak menghentikan tindakan kekerasan demi menjaga nilai kemanusiaan dan martabat bangsa,” ujarnya dalam seruan moral di Balairung UGM, Minggu (31/8/2025).

UGM menilai kekerasan hanya memperpanjang luka sosial, sementara jalan damai membuka ruang solusi lebih konstruktif. Pemerintah dan DPR diingatkan untuk membatalkan kebijakan yang dinilai tidak adil dan berpotensi memperlebar jurang ketidakpercayaan publik.

“Demonstrasi besar jangan sampai terjebak pada kekerasan, karena itu justru merugikan rakyat,” tegas Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito.

Senada, UMY juga menekankan pentingnya menahan diri, mengedepankan persatuan dan menolak tindakan represif aparat. Rektor UMY Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., menyampaikan duka cita atas wafatnya Affan Kurniawan dalam aksi massa di Jakarta. Ia menegaskan aparat harus profesional, proporsional serta menjunjung prinsip non-kekerasan. 

“Kami mendorong pemerintah lebih peka terhadap aspirasi masyarakat dan menampilkan keteladanan dalam menyelesaikan persoalan bangsa,” ujarnya.

UMY merilis lima poin sikap, salah satunya mengimbau mahasiswa tetap kritis namun tidak anarkis. Prof. Nurmandi menegaskan, mahasiswa harus tampil sebagai teladan intelektual dengan menyuarakan kebenaran secara santun dan bertanggung jawab.

Sementara itu, UNU Yogyakarta menyampaikan kecaman keras terhadap tindakan represif aparat yang menyebabkan gugurnya warga sipil. 

“Kami menuntut proses hukum yang transparan, adil, dan tegas. Kami mengecam segala bentuk arogansi pejabat publik dan mendukung masyarakat memperjuangkan keadilan ekonomi serta demokrasi substansial," tegas Rektor UNU Yogyakarta, Widya Priyahita Pudjibudojo.

Seruan tiga kampus besar ini menjadi penanda bahwa perguruan tinggi di Yogyakarta tidak hanya berperan dalam ruang akademik, tetapi juga hadir sebagai penyeimbang moral bangsa. Mereka kompak menekankan bahwa aspirasi rakyat harus dipandang sebagai masukan, bukan ancaman, serta mendesak negara hadir dengan solusi konkret untuk meredam konflik sosial.

“Dengan semangat damai, mari hentikan kekerasan. Aspirasi rakyat harus tetap disuarakan, namun negara wajib mendengarkan dengan hati nurani dan langkah nyata,” tandasnya. (*)