Siapa yang Kecewa dan Kesal?
HARI ini, 1 September 2025, eskalasi politik sedang mencapai puncaknya. Setidaknya di kota Yogyakarta, roda ekonomi sebagian mungkin akan terhenti karena situasi. Banyak sekolah terpaksa mengambil sikap mengganti aktivitas belajar-mengajar dari pertemuan di sekolah menjadi daring (dalam jaringan). Imbasnya, tentu sejumlah ojol kehilangan pendapatan untuk sarapan pagi. Selain itu, pasar tradisional terbesar di Yogyakarta, hari ini diumumkan tutup. Artinya, banyak transaksi batal hari ini. Entah besok.
Konon, akan ada unjuk rasa besar-besaran di Yogyakarta. Seperti biasa, komponen utamanya adalah mahasiswa. Sasaran unjuk rasa adalah DPRD sebagai representasi partai politik. Beberapa hari lalu, ketika massa mengepung Polda DIY dan Sultan HB X sebagai Raja Yogyakarta harus turun ke lapangan untuk ikut menenteramkan massa.
Di media sosial beredar peta yang ditandai sebagai zona merah dan zona kuning. Zona merah disebut daerah yang berbahaya. Ada seruan, agar warga jangan keluar rumah dll. Zona kuning daerah relatif aman tapi harus waspada. Apakah zona merah akan meluas? Tentu harapan kita semua, zona merah mengecil dan akhirnya hilang. Agar kehidupan kembali normal. Meskipun bagi banyak orang kehidupan terasa sulit, akan tetapi bila mereka masih bisa beraktivitas, setidaknya masih ada harapan mendapat rezeki.
Menyikapi perkembangan situasi, perguruan tinggi besar di Yogyakarta juga memilih berkegiatan daring mulai 1 sampai 4 September mendatang. Kalau situasi belum terkendali dalam seminggu ini, barangkali perkuliahan daring masih akan diperpanjang minggu depan.
Demo, unjuk rasa, pada dasarnya adalah cara untuk menyuarakan kekecewaan. Mungkin sekaligus juga kekesalan. Biasanya ini terjadi, manakala saluran komunikasi untuk berdialog tidak tersedia atau tidak efektif. Kadang dialog sudah terjadi, tetapi hasilnya tidak cukup memuaskan salah satu pihak.
Pemerintahan Prabowo Subianto belum genap berjalan satu tahun. Ketika ia mulai memimpin, banyak narasi besar menjanjikan yang tersampaikan ke publik. Salah satu agenda besar yang tersiar, adalah pemberantasan korupsi yang akan serius dilaksanakan. Presiden bahkan menyampaikan sudah menyiapkan satu pulau terpencil untuk penjara bagi para koruptor.
Dalam beberapa bulan terakhir, aparat penegak hukum, terutama KPK dan Kejaksaan Agung melakukan banyak langkah besar untuk menangkap para terduga koruptor. Mereka berasal dari kalangan pemerintahan, lembaga legislatif, lembaga yudikatif dan swasta. Kasus korupsi di tubuh PT Pertamina adalah salah satu contoh yang dapat disebut. Pertambangan ilegal, konon juga mendapat pemerintahan Prabowo.
Seringkali Prabowo menyebut, segelintir orang menikmati trliunan uang negara yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat banyak. Dan langkah Presiden Prabowo bila konsisten dalam pemberantasan korupsi, tentu membuat segelintir orang tadi merasa terusik. Sumber pundi-pundi mereka akan terganggu.
Dalam konteks itu, Prabowo sudah mengambil langkah strategis, menaikkan gaji hakim secara luar biasa. Tentu harapannya, para hakim itu segera akan dapat bekerja menegakkan keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Presiden juga sudah mengerahkan TNI untuk menjaga kantor kejaksaan se Indonesia. Satu dan lain hal untuk menjaga komitmen Kejaksaan dalam melaksanakan tugas penyidikan dan penuntutan.
Sayangnya, dalam upaya pemberantasan KKN, Prabowo buru-buru memberikan amnesti dan abolisi untuk Hasto Kristianto dan Tom Lembong. Langkah ini, seperti menyiram air ke api semangat dan harapan untuk pemberantasan KKN.
Pada sissi yang lain, kondisi sosial ekonomi Indonesia memang sedang dalam kondisi prihatin. Banyak orang kehilangan pekerjaan karena perusahaan mereka colaps. Sektor dunia usaha yang mengandalkan pekerjaan dari pemerintah juga mengalami banyak penurunan omzet, karena pemerintah melakukan banyak efisiensi anggaran untuk membiayai program strategis lain seperti Makan Bergizi Gratis.
Unjuk rasa yang akan berlangsung hari ini dan hari-hari berikutnya, patut menjadi bahan renungan kita bersama. Siapa yang ingin mengungkapkan kekecewaan dan kekesalan? Rasanya, bagi orang-orang kecil, mencari rezeki di tengah kesulitan, untuk menghidupi keluarga, masih menjadi pilihan lebih baik ketimbang bergabung ke jalanan.
Kita yakin, pemerintahan Prabowo Subianto akan dapat mengatasi hiruk-pikuk ini segera. Bahkan, ia sudah memerintahkan TNI dan Polri untuk bertindak tegas, terutama untuk aksi-aksi yang sudah masuk kategori anarki. **
