Tak Lagi Sekadar Promosi Wisata, AI Kini Bantu Layanan Administrasi Kalurahan di DIY
UAJY bersama STP AMPTA dan Nayantaka melatih pamong kalurahan DIY memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan pelayanan publik, promosi wisata, dan pengembangan ekonomi desa.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai dimanfaatkan untuk memperbarui wajah pelayanan publik di tingkat kalurahan. Tak lagi sekadar identik dengan dunia industri atau perusahaan besar, AI kini diajarkan kepada pamong kalurahan untuk membuat informasi pelayanan lebih menarik, mudah dipahami, sekaligus lebih dekat dengan masyarakat.
Transformasi itu dimulai melalui Program Pelatihan Desa Adaptif AI (Desai) bertema Among Desa: Digital Storytelling and Artificial Intelligence for Supporting the Four Pillars of Yogyakarta Special Region. Program yang digagas Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) bersama STP AMPTA dan Paguyuban Kalurahan DIY Nayantaka ini diikuti sekitar 50 pengelola dan pimpinan kalurahan se-DIY.
Alih-alih berfokus pada teknologi semata, pelatihan mengajarkan bagaimana AI dapat diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari aparatur kalurahan. Mulai dari membuat infografis alur pelayanan administrasi, menyusun standard operating procedure (SOP), hingga merancang materi informasi yang lebih komunikatif bagi warga.
Sekretaris Bidang Reformasi Kalurahan dan Urusan Keistimewaan Nayantaka sekaligus Lurah Sambirejo, Wahyu Nugroho, Kamis (16/7/2026), mengatakan selama ini banyak informasi desa masih disampaikan dengan desain sederhana yang kurang menarik perhatian masyarakat.
"Selama ini pembuatan poster informasi maupun penyusunan alur administrasi masih menggunakan alat konvensional. Dengan sentuhan AI, infografis menjadi jauh lebih estetis dan tidak kaku," ujarnya.
Menurut Wahyu, perubahan sederhana tersebut dapat berdampak besar terhadap penyebaran informasi. Pengumuman kegiatan gotong royong, musyawarah warga, maupun layanan administrasi dapat dikemas dalam bentuk visual yang lebih modern.
"Sehingga masyarakat lebih tertarik membaca bahkan membagikannya melalui media sosial," paparnya.
Sementara itu, Ketua Proyek Desai sekaligus Wakil Dekan I FISIP UAJY, Desideria Cempaka Wijaya Murti, menegaskan AI bukan dimaksudkan untuk menggantikan peran aparatur kalurahan, melainkan menjadi alat bantu agar potensi desa dapat dikemas lebih kreatif.
Ia menilai teknologi tersebut membuka kesempatan bagi siapa pun untuk menghasilkan karya digital meski tidak memiliki kemampuan desain profesional.
"Teknologi AI benar-benar mendemokratisasi kreativitas dan keahlian. Pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat kini bisa diterjemahkan menjadi karya visual yang berkualitas," katanya.
Meski demikian, Desideria mengingatkan penggunaan AI tidak boleh dilakukan secara serampangan. Aparatur kalurahan tetap harus memiliki literasi AI agar hasil yang dihasilkan sesuai dengan kondisi nyata dan tidak menghilangkan identitas lokal.
Menurutnya, masih banyak kasus AI menghasilkan ilustrasi yang keliru, seperti menggambarkan bangunan atau ornamen yang tidak sesuai dengan karakter budaya Yogyakarta. Karena itu, peserta dilatih menyusun prompt yang tepat agar visual yang dihasilkan benar-benar merepresentasikan kondisi kalurahan masing-masing.
Selain mendukung pelayanan publik, pelatihan juga membekali peserta membuat peta wisata interaktif, ikon visual desa, hingga konten digital yang mampu mengangkat potensi ekonomi dan budaya lokal.
Ke depan, tim UAJY dan STP AMPTA akan menyusun pedoman pemanfaatan AI bagi kalurahan agar teknologi tersebut dapat diterapkan lebih luas.
Program ini juga direncanakan menyasar kelompok masyarakat, seperti Kelompok Wanita Tani (KWT) dan pelaku UMKM perempuan, sebagai upaya mempercepat pengembangan ekonomi kreatif berbasis desa.(*)
Yvesta Putu Ayu Palupi
