Proyeksi Bank Indonesia, 8,2 Juta Wisatawan Masuk Yogyakarta

Lonjakan kunjungan ini akan memberikan efek berganda bagi perekonomian. 

Proyeksi Bank Indonesia, 8,2 Juta Wisatawan Masuk Yogyakarta
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) DIY, Sri Darmadi Sudibyo, memberikan pemaparan dan proyeksi ekonomi DIY. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, ​YOGYAKARTA -- Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersiap menyambut gelombang besar pemudik dan wisatawan pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 1447 Hijriah.

Bank Indonesia menyebutkan prediksi Kementerian Perhubungan sebelumnya bahwa sebanyak 8,2 juta orang akan berkunjung ke DIY, yang merepresentasikan 5,7 persen dari total 143,91 juta pergerakan pemudik secara nasional.

​Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menyatakan lonjakan kunjungan ini akan memberikan efek berganda bagi perekonomian lokal.

Berdasarkan perhitungan BI, pergerakan wisatawan tersebut berpotensi menambah PDRB DIY sebesar 0,071 persen dan mendorong konsumsi rumah tangga hingga 0,19 persen.

Sektor transportasi

​"Dampak terbesar akan dirasakan oleh sektor hotel, restoran dan transportasi. Tidak hanya konsumsi, penyerapan tenaga kerja pun diperkirakan tumbuh sekitar 0,131 persen," ujar Sri Darmadi dalam agenda pemaparan ekonomi di Gedung Heritage BI Yogyakarta, Senin (16/3/2026).

​Guna mendukung kelancaran aktivitas ekonomi tersebut, BI DIY menyiapkan layanan penukaran Uang Layak Edar (ULE) melalui program SERAMBI (Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri) 2026 di 42 titik. Salah satu titik strategis berada di Stasiun Yogyakarta yang beroperasi pada 13-17 Maret 2026. Layanan ini khusus ditujukan bagi pemudik agar bisa langsung mendapatkan uang baru setibanya di Yogyakarta.

​Namun, di sisi lain, Sri Darmadi mengingatkan adanya tantangan volatilitas harga pangan menjelang Idul Fitri. Komoditas seperti bawang merah, cabai rawit dan daging ayam ras menunjukkan tekanan harga yang relatif tinggi. Selain itu, faktor cuaca ekstrem juga patut diwaspadai.

​"Berdasarkan proyeksi BMKG, musim kemarau 2026 akan lebih kering dan lebih lama dibandingkan tahun lalu, dengan puncaknya pada Agustus. Kondisi ini harus diantisipasi dengan manajemen sumber daya air yang kuat agar ketahanan pangan tetap terjaga di tengah lonjakan permintaan wisatawan," katanya. (*)