Perenungan terhadap Hakikat Perjalanan Hidup

Oleh: Sudjito Atmoredjo

Ketika ditanya tentang siapa orang yang paling baik, Rasulullah SAW menjawab, ''Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Sedangkan orang yang paling buruk adalah orang yang panjang umurnya tetapi buruk amalnya.'' (HR Ahmad). Rasulullah SAW pun bersabda, ''Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya, maka hendaklah ia berbuat baik kepada kedua orang tua dan menjalin silaturrahim dengan sesama.'' (HR Ahmad).

Perenungan terhadap Hakikat Perjalanan Hidup
Sudjito Atmoredjo. (istimewa).

ARTIKEL ini saya tulis pada hari ulang-tahunku ke-72, pada Jumat, tanggal 6 Februari 2026. Dalam suasana hati yang damai, penuh rasa syukur, serta  sehatnya jiwa-raga, saya berusaha mengekspresikan perjalanan hidup ini agar menjadi bagian momentum bersejarah.

Saya sadar bahwa hidup merupakan perjalanan panjang. Diawali dari dimasukkannya roh ke dalam jasad oleh Allah Swt, sekitar usia 4 bulan, kehamilan Ibu/Simbok. Saat itu, terjadi dialog antara Tuhan dengan roh. Dialog itu merupakan momen perjanjian primordial (perjanjian pra-kelahiran). Allah Swt bertanya kepada roh tentang ketuhanan-Nya. “Alastu birabbikum?” (Bukankah Aku ini Tuhanmu?). Roh menjawab “Bala, syahidna” (Benar, Engkau Tuhan kami, kami bersaksi). Persaksian dan perjanjian itu merupakan komitmen kesetiaan, pengakuan dan ketauhidan murni, hanya kepada Allah Swt, hingga hari kiamat kelak. Itulah fitrah awal kehidupan.

Ketika saya terlahir ke dunia, kemudian dikaruniai nikmat hidup dan kehidupan sedemikian banyak, semestinyalah terus diiringi rasa syukur. Sikap syukur ini, merupakan sarana pencapaian keberkahan hidup. Wujudnya adalah peningkatan ketaatan, amal saleh dan mempererat tali silaturahmi. Singkatnya, sepanjang hayat masih dikandung badan, senantiasa beribadah secara maksimal, diisi dengan syukur atas nikmat dan karunia-Nya, serta bermohon ampunan atas berbagai kesalahan yang diperbuatnya.

Tiadalah seorang pun tahu seberapa panjang atau pendek umurnya. Karenanya, dalam perjalanan waktu, saya senantiasa ingat: ''Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah yang mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).'' (QS al-Anam: 2).

Saya pun berusaha paham, sadar dan yakin bahwa umur manusia sepenuhnya ditentukan oleh Allah Swt. Saya dan manusia lain, tidak bisa mengurangi atau menambah umur. Jika ajal telah tiba, maka manusia akan mati walaupun ia berusaha mengundurkannya. Dan, jika ajal belum tiba, manusia tetap tidak akan mati walaupun ia berusaha mempercepat kematiannya. Allah Swt menegaskan, ''Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka jika telah datang waktunya, mereka tidak akan dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.'' (QS al-A’raf:34).

Saya sadar bahwa di dalam perjalanan hidup, terdapat amanat yang harus dijaga dan ditunaikan dengan baik. Dalam konteks ini, maka hidup dan kehidupan harus diisi dengan kebajikan-kebajikan dan amal saleh. Kuantitas dan kualitas kebajikan amal saleh itulah cermin kualitas kehidupan sesungguhnya.

Ketika ditanya tentang siapa orang yang paling baik, Rasulullah SAW menjawab, ''Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Sedangkan orang yang paling buruk adalah orang yang panjang umurnya tetapi buruk amalnya.'' (HR Ahmad). Rasulullah SAW pun bersabda, ''Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya, maka hendaklah ia berbuat baik kepada kedua orang tua dan menjalin silaturrahim dengan sesama.'' (HR Ahmad).

Dihadapkan pada pesan-pesan moralitas-religius itu, terkadang saya merenung dan sedih. Sadar dharma-bakti kepada Bapak-Ibu, amat kurang, tetapi beliau berdua sudah wafat. Untuk obat kerinduan dan penyembuh rasa sedih, maka di berbagai kesempatan, doa kebaikan kepada almarhum dan almarhumah saya panjatkan kehadirat-Nya. Tidak lupa, berbagai kemudahan saya upayakan dan manfaatkan untuk bersilaturahmi (baik offline maupun online).

Pada sisi lain, anugerah ilmu dan harta, seberapa pun kadar kuantitas dan kualitasnya, saya usahakan agar menjadi bagian dari amal jariah. Sungguh, sebagai seorang akademisi, saya sadar bahwa ada kewajiban untuk berbagi ilmu bermanfaat kepada orang lain. Dengan berbagi ilmu, diyakini pasti pahala terus mengalir, bahkan setelah seseorang meninggal dunia. Lebih dari itu, Allah Swt meninggikan derajat orang-orang berilmu dan mengajarkannya kepada orang lain. Ilmu yang dibagikan, baik agama maupun pengetahuan umum, tidak akan berkurang. Justru bertambah dan dapat meningkatkan kecerdasan umat, mempererat hubungan sosial, serta menjadi investasi akhirat yang mulia. 

Dalam keterbatasan kemampuan, berbagi ilmu bermanfaat, saya lakukan dengan memberikan kuliah di beberapa universitas dan perguruan tinggi, seminar-seminar, diskusi, penulisan buku, artikel dan kegiatan ilmiah lainnya. Suatu kegembiraan bahwa dengan niat tulus-ikhlas, melalui berbagai kegiatan tersebut, amat banyak imbal-balik yang saya dapatkan, antara lain: tambahan ilmu dari orang lain,  tambahan sahabat, tambahan rezeki, tambahan wawasan dan lain-lain.

Dalam keterbatasan kemampuan pula, membayar zakat, dan bersedekah saya lakukan sesuai syariat. Sungguh benar dan saya rasakan, bahwa dengan bersedekah akan dilipat-gandakan harta yang disedekahkan itu. Lebih dari itu, dengan bersedekah, pintu rezeki dibuka lebar, jiwa pun menjadi tenang.  Sedekah adalah investasi akhirat dan keberkahan hidup di dunia.

Usia 72 tahun,  merupakan lanjutan perjalanan hidup. Ke depan, Insya Allah, masih terbuka kesempatan emas untuk memaksimalkan ibadah. Berdoa dan berusaha, menjadi dua kegiatan terpadu, agar diperoleh keberkahan hidup, terjauhkan dari kesusahan, dan menyusahkan orang lain. Bermohon pula agar mendapatkan akhir hayat yang baik (husnul khatimah). Allahumma inni a'udzu bika an uradda ila ardzalil 'umur. Aamiin. ***

Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.

Guru Besar pada Sekolah Pascasarjana UGM