SBC Membangun Ekosistem Bisnis yang Sehat dan Transparan

Bisnis yang hanya mengejar uang tanpa nilai akan mudah tergelincir pada praktik tidak sehat. 

SBC Membangun Ekosistem Bisnis yang Sehat dan Transparan
Ketua SBC Joko Wardiyanto menyampaikan penjelasan persiapan GWU ke-12 di SCH Yogyakarta, Kamis (6/2/2026). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Pandangan negatif terhadap dunia usaha khususnya tudingan praktik money laundry atau pencucian uang kerap mengemuka di tengah maraknya pertumbuhan bisnis, termasuk di sektor kuliner, properti hingga jasa.

Fenomena ini menjadi perhatian serius Sukses Berkah Community (SBC), komunitas pengusaha nasional yang menegaskan komitmennya membangun ekosistem bisnis sehat, transparan dan bertanggung jawab.

Ketua SBC Joko Wardiyanto saat persiapan Gebyar Wirausaha (GWU) ke-12 yang digelar SBC di Sleman City Hall (SCH) Yogyakarta, Kamis (6/2/2026) mengungkapkan stigma negatif terhadap pelaku usaha muncul karena publik sering melihat bisnis yang secara fisik tampak megah namun minim aktivitas.

Usaha semacam itu biasanya bertahan bertahun-tahun meski tanpa kejelasan perputaran usaha. “Ciri-cirinya sebenarnya mudah dikenali. Fisiknya ada, bangunannya besar, tapi trafiknya sepi dan lima tahun masih bertahan. Itu yang kemudian memunculkan kecurigaan publik,” ujar Joko.

Jalur berbeda

Dia menegaskan, SBC berdiri di jalur yang berbeda. Menurutnya, kunci utama menghindari praktik-praktik menyimpang dalam bisnis adalah transparansi, pendampingan dan penguatan nilai spiritual.

“Di SBC, yang kami bangun bukan hanya bisnisnya, tapi manusianya. Laporan keuangan peserta pendampingan kami pegang dan diaudit secara rutin. Kami ingin memastikan bisnis itu sehat, bertumbuh dan membawa manfaat,” tegasnya.

Joko menjelaskan, SBC lahir dari kegelisahan melihat dunia usaha yang kerap mengukur kesuksesan hanya dari materi dan fleksing atau pamer. Padahal, menurutnya, bisnis yang hanya mengejar uang tanpa nilai akan mudah tergelincir pada praktik tidak sehat.

“Kalau orientasinya hanya uang, ketika ada jalan pintas, itu yang diambil. Tapi kalau pengusaha dibangun mindset-nya, spiritualnya dan tanggung jawabnya, mereka tahu batas,” ujarnya.

Melalui sistem

Joko menyatakan, isu money laundry tidak bisa ditepis hanya dengan pernyataan, tetapi harus dijawab melalui sistem dan ekosistem yang sehat. SBC memilih jalan membangun komunitas berbasis ilmu, mentor dan lingkungan yang tepat.

“Kalau ekosistemnya benar, transparan dan saling mengingatkan, praktik-praktik menyimpang akan tersaring dengan sendirinya,” kata Joko.

Dia menambahkan, SBC secara konsisten menanamkan nilai bahwa keberhasilan usaha harus selaras dengan ketenangan batin, keberkahan, serta kontribusi terhadap keluarga, masyarakat dan negara. "Jadi tidak hanya mengejar untung namun juga bertumbuh bersama," ungkapnya.

Lebih dari sekadar forum diskusi, GWU ke-12 tahun diharapkan menjadi gerbang pembuka program One Year Coaching (OYC) Batch 9, program pendampingan bisnis intensif selama satu tahun penuh yang dipimpin langsung oleh Coach Ridwan Abadi, Founder Sukses Berkah Community.

Lebih tangguh

Melalui OYC, peserta terpilih akan mendapatkan pendampingan strategis agar bisnis lebih tangguh, terukur dan berkelanjutan. Pendekatan ini sekaligus menjadi jawaban SBC terhadap fenomena kelas bisnis mahal yang kerap ditinggal setelah acara selesai. “Kami tidak mengambil peserta lalu ditinggal. Pendampingan itu jalan bersama selama setahun,” ujarnya.

Ketua Panitia GWU ke-12 Khaidir Khaliq mengungkapkan, sejalan dengan komitmen bersama, SBC kembali menggelar Gebyar Wirausaha ke-12 dengan tema Business Resilience: Scale Up dan Eksis di Masa Krisis di SCH pada 7-8 Februari 2026. Tema ini dipilih sebagai respons atas kondisi ekonomi yang dinamis dan penuh tekanan dalam beberapa tahun terakhir.

GWU bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum refleksi dan pembenahan bagi para pengusaha dalam pelaksanaan GWU ke-12. Melalui GWU ke-12, peserta mendapatkan perspektif baru, strategi yang relevan dengan kondisi bisnis terkini, serta lingkungan yang saling menguatkan, sehingga pengusaha tidak berjalan sendiri-sendiri.

“GWU ke-12 kami siapkan sebagai ruang bertemunya ribuan wirausaha dari seluruh Nusantara yang ingin serius belajar, memperbaiki arah bisnis, dan membangun jaringan yang tepat. Ini bukan sekadar event, tetapi pengalaman belajar yang mendorong peserta berani bertumbuh dan naik kelas,” kata Khaidir.

Pembicara nasional

Khaidir menambahkan, GWU ke-12 menghadirkan sejumlah pembicara nasional lintas latar belakang, di antaranya Coach Ridwan Abadi, Ustad Adi Pratama Larisindo, Dodi Zulkifli, Harri Firmansyah, Joko Wardiyanto, Wiji Asih Setiawati dan Pratik Yudha Kusuma.

Antusiasme peserta disebut datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. Bahkan, sebagian peserta rela menempuh perjalanan panjang demi mengikuti acara yang digelar secara gratis dengan sistem gotong royong komunitas.

Melalui GWU ke-12 dan program pendampingan berkelanjutan, SBC berharap dapat terus memberikan alternatif ruang belajar bagi pengusaha Indonesia, sekaligus mengikis stigma negatif dengan praktik bisnis yang bertanggung jawab, berintegritas dan berkelanjutan. “Ada yang naik kapal selama dua hari dari Mamuju untuk ikut acara kali ini,“ katanya. (*)